
-Disaat seseorang yang selalu ada buat kita tidak ada,disitulah titik rindu akan kembali terasa.
Akhtar dan Lucy belum di izinkan untuk melihat Renata ke dalam,dan juga sepertinya dokter masih menangani Renata,waktunya lumayan cukup lama,Akhtar dan Lucy sudah menujinggu di luar selama satu jam.Mereka sudah tidak sabar ingin melihat Renata,dan bagaimana keadaannya sekarang.
Setelah selesai mengobati semua luka Renata,suster dan dokter pun keluar dari ruangan.Oh iya,yang nanyain Artur dia sudah pulang saat asistennya menelepon kalau ada klayen yang datang untuk menemuinya di kantor.
" Dokter bagaimana keadaan Renata?."
" Silahkan bapak untuk ikut ke ruangan saya,mari."
Saat Akhtar pergi bersama dokter,Lucy pun masuk ke dalam ruangan Renata.
" Ya allah,Renata."
Mata Lucy mulai berkaca kaca kembali saat melihat Renata yang terbaring di atas blankar.
Sangat banyak perban yang membaluti Renata,dari mulai pelipis,pipi,kepala dan juga kedua tangannya.Juga alat oksigen yang menutupi hidungnya.
***
" Jadi bagaimana kondisi Renata,dok?."
" Kondisinya masih sangat kritis,banyak sekali tulang yang retak di dalam tubuhnya.Terutama tulang keningnya dan juga tulang rusuk bagian punggungnya."
' Apa yang mereka lakukan kepada Renata,sampai sampai tulang Renata retak retak.'
" Kira kira,kapan Renata akan siuman dok?."
" Jika kondisinya semakin membaik,nanti malam dia juga akan siuman.Cukup kirimkan do'a saja untuknya,karena kita sudah ikhtiar untuk kesembuhannya,pasti allah akan memberi kita jalan."
Akhtar pun pamit untuk pergi dari sana dan ingin segera melihat Renata.
" Renata,kamu kapan bangun si?.Aku rindu lho sama kamu,kita baru bertemu lagi setelah empat hari tidak bertemu,tapi kamu,kamu malah seperti ini."
Lucy tidak bisa menyentuh satupun anggota tubuh Renata,kecuali dari siku ke pundak Renata,karena Lucy takut saat dia menyentuhnya Renata merasa kesakitan.
Seketika itu Akhtar masuk ke dalam ruangan,dan dia melihat Lucy yang sedang duduk di dekat blankar Renata.
" Abang,gimana?,apa yang terjadi dengan Renata?."
Akhtar duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut,dan Lucy pun mengikutinya.
" Tulang rusuk bagian punggung Renata dan tulang keningnya Retak,itu saja yang dokter katakan."
" Apa!,Retak!!??."
" Iya."
" Terus kapan dia akan siuman?,kapan dia akan sadar?.Aku rindu sama dia bang,aku rindu."
" Jika kondisinya semakin membaik,maka nanti malam dia akan segera siuman."
__ADS_1
Akhtar pun mendekati Renata,dia tersenyum sedih melihat Renata.
" Cepat siuman ya,disini banyak sekali orang orang yang rindu sama kamu .Kamu tega lho udah biarin mereka menunggu,terutama abang.Abang rindu sama kamu,rindu di temenin makan sama kamu,rindu bercerita sama kamu,rindu bercanda dan dengar suara kamu."
Setelah itu Akhtar mengekus ubun ubun Renata dengan lembut.
***
Malam ini Lucy sedang berada di rumahnya,setelah ia di perintahkan untuk pulang oleh Akhtar,karena Akhtar kasihan kepada Lucy jika harus menunggu Renata di rumah sakit.
Lucy sedang duduk di halaman depan rumahnya,dia mengingat ingat kebersamaannya bersama Renata yang sudah lalu.
Lucy hanya tersenyum saat mengingat ingat waktu mereka belanja di mall,saat mereka jalan jalan berdua,saat Renata memberi kejutan di hari ulang tahunnya.
" Lucy,kamu kenapa senyum senyum sambil melamun kayak gitu.Bentar kok kamu kayak nangis begitu,ada apa sayang cerita sama ibu."
Kebetulan saat itu Lucy baru samapi di rumahnya,Lucy pun tersenyum sambil menyeka air matanya.
" Ahh,enggak bu gak papa kok.Aku cuman rindu aja sama Renata,aku gak nyangka ini bisa terjadi sama Renata."
" Memangnya apa yang terjadi sama dia?,coba ceritain sama ibu."
Lucy pun menceritakan semua kejadian di hari itu,sambil menangis kepada ibunya.Dia tidak bisa lagi membendung air matanya lagi.
" Yasudah besok kan kita bisa kesana bersama ya,udah sekarang kita do'ain aja semoga Renata cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa,mending kita makan malam aja yuk,ibu udah siapin buat kamu."
Lucy pun masuk bersama ibunya ke dalam rumah.
***
" Alhamdulillah,kondisinya sudah baik dan kita tinggal menunggunya siuman saja."
Akhtar bertanya kepada dokter setelah dokter memeriksa Renata kembali
" Alhamdulillah."
" Kalau begitu saya permisi,dan jikaRenata sudah sadar tolong beritahu saya."
Dokter pun pergi dari sana,sedangkan Akhtar sangat bahagia mendengar apa yang barusan dokter katakan.
Seketika itu Artur pun tiba di sana,dia menghampiri Akhtar yang sedang duduk sendiri di depan ruangan.
" Selamat malam."
Ucap Artur saat tiba disana.
" Malam,eh Artur,silahkan duduk."
" Bagaimana keadaan Renata?,apa sudah membaik?."
" Alhamdulillah,kondisinya sudah membaik kita hanya tinggal menunggu dia siuman."
__ADS_1
" Syukurlah,emm ini ada sedikit makanan.Abang belum makan,kan?."
Akhtar merasa aneh di panggil abang oleh Artur,Akhtar pun mengambil paper bag yang berisi makanan itu.
" Terimakasih ya,jadi ngerepotin."
" Enggak kok,enggak sama sekali."
Akhtar pun mengajak Artur masuk kedalam.Saat masuk Artur langsung menghampiri Renata yang terbaring.
' Ternyata separah ini kamu terluka,wajah cantik kamu hampir di penuhi oleh perban,tapi kamu tetap cantik di mata aku.'
Seketika itu Renata mulai mengerjapkan matanya,kebetulan saat itu Artur sedang melihat ke mata Renata dan Renata pun membuka matanya dengan sempurna.
" Renata,kamu udah sadar."
Saat mendengar kata sadar dari Artur,Akhtar langsung menghampirinya.
" Alhamdulillah,kamu udah sadar Rena.Artur tolong kamu jaga Renata dulu,aku akan memanggilkan dokter."
" Enggak usah bang,biar abang aja tunggu disini dan aku yang memanggilkan dokter."
Artur pun pergi memanggil dokter ke ruangannya.
" Abang senang banget kamu udah sadar,cepat sembuh ya."
Setelah dokter tiba disana,Rebata pun di periksa olehnya di hadapan kedua peria yang ada disana.
" Bagaimana dok?."
Tanga Artur.
" Alhamdulillah,kondisinya lumayan membaik.Tapi dia harus banyak istirahat,dan tolong jangan membuat keributan atau kebisingan di ruangan ini."
" Kalau begitu terimakasih dok."
Dokter pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Renata sangat senang,saat dia sadar yang pertama kali dia lihat adalah Artur.Renata juga heran kepada perasaanya,pertama kali dia bertemu dengan Artur dia sangat jijik dan benci kepadanya tapi sekarang perasaannya sangat berbeda.
" Renata sekarang kamu udah sadar,kalau begitu aku pulang dulu ya.Kamu cepat sehat,cepat sembuh ya."
Saat ini Renata belum bisa berbicara,entah kenapa mulut dan bibirnya itu terasa sakit saat dia akan membukanya.
" Bang,aku pulang dulu ya.Kasihan mama sendirian di rumah."
" Oh iya,silahkan silahkan.Lagian sekarang Renata udah sadar,kamu pulang aja istirahat di rumah."
Artur pun pulang dan pergi dari rumah sakit menuju rumahnya.
Bersambung.
__ADS_1