Kesuksesan Anak Ke 2

Kesuksesan Anak Ke 2
78.Perasaan.


__ADS_3

-Cinta adalah sebuah rasa yang timbul dari hati yang akan membahagiakan seseorang jika mendapatkan apa yang sedang dia cintai.


Saat ini Renata dan Salsa sedang berdua,mereka sedang bercerita tentang Salsa yang selama ini dia merindukan kehadiran sang kakak.


" Kakak,jujur ya Salsa itu rindu banget sama kakak.Asal kakak tahu,saat Salsa lagi sedih lagi galau itu gak ada yang nemenin,Salsa bingung mau cerita sama siapa."


" Kenapa bingung,kan ada ibu,ada ayah yang bisa kamu ajak cerita,kenapa gak sama mereka?."


" Ya,Salsa malu kalau cerita sama mereka."


Renata pun tersenyum dan mengelus kepala gadis remaja yang ada di hadapannya.


" Kenapa harus malu?,mereka kan ibu dan ayah kamu juga,kita itu harus berbagi cerita kepada mereka agar kita itu semakin percaya diri dan semakin dekat sama mereka."


Salsa pun menganggukkan kepalanya,dan tersenyum kepada Renata.


" Kak,kak Artur itu siapa?."


" Hah,Artur?."


" Iya,kak Artur itu siapanya kakak,pacar kakak atau siapa?."


" Hmmm,enggak bukan,bukan siapa siapa kok dia cuman teman kakak."


Salsa menatap Renata dengan alis yang satu ke atas.


" Apaan si?,emang bener kok Artur itu bukan siapa siapa."


" Tapi kok aku lihat kak Artur itu kayak yang suka sama kakak,soalnya pas di rumah sakit dia rela nungguin kakak dari siang sampai malam lho kak."


" Ya terus?,emang setiap orang yang nungguin kita dari siang sampai malam itu suka sama kita?,enggak kan."


Salsa hanya tertawa kecil saja saat itu,dia senang karena sekarang kakaknya sudah kembali ke rumahnya dan sekarang Salsa meiliki seorang teman untuk bercerita.


" Kak,tahu gak si?."


" Iya,apa?."


" Aku tu,sebenernya lagi itu."


Renata menyergit,dia bertanya tanya dengan omongan Salsa yang di potong potong.


" Iya apa?,kasih tahu dong."


" Aku tu,lagi mmm,,, itu lho."


Renata sangat gereget kepada Salsa yang tidak juga menyelesaikan ucapannya.


Renata hanya menatap datar wajah Salsa dengan menahan dagunya oleh tangannya.


" Haha,,,kak,jangan gitu lah natapnya,kok kayak males gitu si."


" Jelas males lah,orang kamu aja ngomongnya gak selesai selesai."


" Oke deh,aku kasih tahu ni.Sebenarnya,Salsa tu lagi mmm,,,."


" Tuhkan,ammm mmm amm mmm aja dari tadi."


" Iya iya iya,sekarang jadi sekarang jadi.Mmm,,,Salsa tu lagi itu,apa,sebenarnya Salsa lagi jatuh cinta."

__ADS_1


Renata begitu terkejut mendengar apa yang Salsa katakan,dia langsung tertawa saat itu juga.


" Kok kakak malah ketawa si,bukannya dukung adenya buat belajar jatuh cinta."


" Haduhhh,,,ade.Aku itu ya,ampun.Jatuh cinta sama siapa kamu?,sama anak tetangga?,kalau memang iya yang mana?."


Pipi Salsa pun berubah menjadi merah,dia malu kepada kakaknya dan saat itu Salsa menundukkan kepalanya,dia berusaha menyembunyikan wajah atau pipinya yang merah.


" Kamu kenapa nunduk?,pasti pipi kamu memerah ya?.Mana coba sini kakak lihat."


Salsa langsung menepis tangan Renata.


" Apaan si,enggak juga."


Salsa pun mengangkat kepalanya.


" Tukan merah,hahaaa,,,habisnya kamu tu lucu banget,pake jatuh cinta segala."


" Iya kan gak papa kak,asalkan jangan pacaran aja kan?."


" Hhi,iya memang.Pasti kamu tu pernah dengar atau baca kata kata ini,islam itu memang melarang kita untuk pacara namun tidak melarang kita untuk jatuh cinta,iya kan?."


" Enggak,aku gak pernah dengar."


" Asli kamu tu,ihh ada ada aja tahu gak si.Sekarang siapa orangnya?."


Wajah Salsa kembali memerah ketika Renata bertanya seperti itu.


" Kamu kenapa lagi?,kok pipinya merah lagi?."


" Ah udah ah,gak jadi mau ceritanya."


" Salsa,de kamu mau kemana?.Tega ya tinggalin kakak sendiri disini."


Salsa sama sekali tidak mengubris panggilan Renata dia terus berjalan menaiki anak tangga.


" Ada ada aja,ni adik satu satunya."


tidak lama dari situ ada seseorang yang menghubungi Renata dengan nomor yang tidak di kenal atau nomornya tanpa ada nama.Lalu Renata pun menjawab teleponnya.


" Halo,assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


" Maaf,ini dengan siapa ya?."


" Aku mau memberi tahukan,kalau."


Tut,,tut,,tut,,


Baru saja orang itu mau melanjutkan pembicaraannya tiba tiba saja sambungannya mati.


" Halo,kok di matiin ya?.Nomor siapa si ini?,mungkin orang yang gak jelas."


Renata pun meletakkan handphonenya di ruang keluarga dan dia pergi ke kamarnya dengan memakai kursi roda.


Dan pada saat Renata dudah pergi,handphonenya beberapa kali berdering namun Renata tidak mendengarnya dan membiarkannya begitu saja.


" Ah iya,aku kan mau telepon Lucy.Tapi handphonenya disana,nanti aja deh."

__ADS_1


Renata pun melihat belakang kamarnya dari jendela,entah kenapa dia sangat ingin pulang ke rumahnya,walau pun saat ini Renata berada di rumah orang tuanya tapi Renata merasa ingin pulang juga.


" Tangan,dahi,perut kalian cepat sembuh ya,supaya aku bisa pulang ke rumah,entah kenapa aku rindu rumah,rindu pekerjaan,rindu kafe,restoran dan juga Lucy."


Ternyata sejak saat itu ayah sedang memperhatikannya,lalu beliau menghampiri Renata dan menyentuh kursi rodanya.


" Kamu mau pulang?."


" Eh ayah,enggak kok."


Renata pun memutar kursi rodanya.


" Barusan ayah dengar apa yang kamu katakan,kamu mau pulang kan?."


" Iya yah,entah kenapa Rena rindu suasana rumah Rena dan entah kenapa kayaknya sekarang tu disana kayak lagi ada sesuatu."


Renata memberitahu tentang perasaannya yang sedang khawatir,tapi entah apa yang dia khawatirkan.


" Ada memangnya?,apa yang sedang kamu khawatirkan dan siapa?."


" Itu dia,Rena juga gak tahu.Apa yang bikin mengganjal di pikiran Rena,yang jelas Rena tu kayak harus pulang ke rumah sekarang."


" Udah,kamu jangan khawatir itu hanya perasaan kamu aja kan?.Kalau kamu mau pulang,kamu harus sembuh dulu,ya."


Kemudia ayah kembali meninggalkan Renata di kamarnya dan pada saat itu Salsa masuk kedalam kamar Renata sambil mengendap endap dia berencana akan mengejutkan Renata.


" Dor!!."


" Astaghfirullah,Salsa kamu ngagetin aja."


Renata begitu terperanjak di kursi rodanya.


" Habisnya kakak ngelamun,jadinya aku kagetin.Kakak kenapa?,kok kayak yang lagi mikirin sesuatu gitu?."


Renata menatap wajah sang adik dan menarik nafasnya untuk menjawab pertanyaan Salsa.


" Anak kecil,gak usah kepo."


Wajah Salsa menjadi berubah,mulutnya sedikit terbuka dan matanya menatap datar.Dia mengira kakaknya akan menjawab ternyata tidak.


" Kakak mah gitu?,cepat jawab."


" Enggak enggak,nanti kamu malah comel lagi."


" Enggak,aku gak akan comel kok janji."


" Enggak,pokoknya kakak gak akan kasih tahu kamu."


" Yaudah ni,aku marah lagi."


" Marah aja,kakak gak rugi kok."


Karena kesal kepada sang kakak,Salsa benar benar marah dan pergi dari kamar kakaknya.


" Salsa,kakak bercanda.Ya ampun,dia baperan banget si."


Renata hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya yang sedang marah,tapi Renata yakin sebentar lagi Salsa akan segera baik kepadanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2