Kesuksesan Anak Ke 2

Kesuksesan Anak Ke 2
.


__ADS_3

Artur mulai mengerjapkan kelopak matanya,disaat terbuka dia mendapati sosok wanita yang tengah membelakanginya di dekat meja.Karena penasaran Artur pun memulai pembicaraan dengan pertanyaan nya.


" Siapa,anda?.Kenapa,ada di ruangan saya?."


Renata berniat untuk memutar tubuhnya dan menjawab pertanyaan Artur,namun ide jahil tiba tiba terlintas di pikiran nya.


" Saya,malaikat maut,yang akan segera membawamu pergi dari dunia."


Sontak Artur pun terkejut mendengar jawaban dari wanita itu,ia mengerutkan dahinya benar benar sangat bingung dengan sosok misterius tersebut.Sedangkan Renata hanya menahan tawanya.


" Malaikat maut?,bukan nya malaikat maut itu menyeramkan?."


Karena sudah tidak kuat menahan tawanya,Renata pun berbalik dan tertawa terbahak bahak.


" Mana ada malaikat maut,ini aku Renata."


" Ya ampun,kamu ada ada aja.Udah lama kamu datang kesini?."


Renata menggeleng kepalanya dan mendekati Artur.


" Baru sampai."


Artur menatap Renata tanpa berkedip sekalipun,saat Renata berdiri tepat di sampingnya,sedangkan dirinya masih terbaring di atas belankar.


" Cantik,Ren."


Tanpa Artur sadari,perkataan itu terucap dengan sendirinya.


" Apa,kak?."


Renata tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja Artur katakan.


" A-apa?,enggak,aku gak bilang apa apa.Emangnya a-aku bilang apa barusan?."


Tanya Artur dengan gelagapan.


" Ohh,dikira kakak bilang sesuatu barusan."


' Untung aja,gak denger.Kalau sampai Renata dengar,mati gue.'

__ADS_1


Hening,itu yang terjadi saat ini.


" Ren,kamu mau kan malam ini temenin aku disini?.Soalnya,Edwart lagi di luar negeri,jadi gak bisa nemenin aku."


Renata sedikit terkejut mendengar pernyataan yang baru saja Artur katakan.Dia bingung,harus memilih menemaninya atau pulang ke rumah.Jika Renata menemani Artur dan bermalam disana,dia takut kalau nanti Akhtar menuduhnya melakukan yang tidak tidak.Tetapi,jika dia pulang ke rumah,hubungan nya belum membaik dengan Akhtar.


" Iya,aku mau kok,kak."


Itulah jawaban yang di berikan kepada Artur.Renata harap,tidak akan ada masalah yang terjadi setelah itu.


Pukul sudah menunjukan 23.15,Renata dan Artur sudah terlelap di ruangan itu.Renata tertidur di sofa,sedangkan Artur di atas trolernya.Sejak tadi,ponsel Renata terus berdering,entah siapa yang menelepon nya sampai dia tak bosan bosan walaupun Renata tak menjawabnya.


Saat itu juga,Artur mulai mengerjapkan matanya.Tidurnya sedikit terganggu karena suara ponsel Renata yang berbunyi nyaring di ruangan itu.Artur,berusaha turun dari tempatnya dan berniat untuk mematikan ponsel Renata.


Namun pada saat yang bersamaan,Renata terbangun dan melihat Artur yang berniat turun dari tempat tidurnya.Sontak,Renata langsung menghampiri Artur dan mencegahnya.Sangat di sayangkan,saat Renata berlari menuju Artur,kakinya tersandung dan dia mun jatuh ke dada bidang Artur.


Keduanya saling bertatapan dengan jarak wajah yang hanya menyisakan satu senti saja.


Klek..


Keduanya melihat ke arah pintu yang terbuka.Renata sangat terkejut saat mendapati ayahnya yang berdiri di ambang pintu dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.Dengan cepat Renata menjauhkan diri dari tubuh Artur dan menghampiri ayahnya,berusaha menjelaskan apa yang sebenaranya terjadi.


" Ayah,aku tadi-."


" Sudah puas?,hmm.Sudah puas melakukan nya?!."


Suara ayah,mulah meninggi sementara Renata hanya bisa menelan salivanya.


" Ikut ayah!."


Ayah langsung menarik keluar tangan Renata dan meninggalkan Artur sendiri di ruangan itu.


" Ayah,Rena bisa jelasin semuanya."


Tangan Renata terus di tarik sampai keluar dari rumah sakit.Ia heran,kenapa ayahnya bisa ada di rumah sakit dan memergoki kesalah pahaman dengan apa yang sedang terjadi.


Plak!..


Satu tamparan berhasil ayah daratkan di pipi Renata.

__ADS_1


" Dasar anak tidak tau diri!,bisa bisanya kamu bermain main bersama laki laki di sebuah ruangan pasien!.Ayah malu Ren,ayah malu!.Atau jangan jangan,selama ini kekayaan kamu,kamu dapatkan dari hasil menjual diri kepada peria peria hidung belang!,iya kan?!."


Renata mulai menitikan air matanya sambil memegangi pipi sebelah kirinya yang terasa panas.


" Enggak,yah.Ayah salah paham,bukan itu yang terjadi-."


" Lalu apa,kalau bukan itu?!.Memang ya,dari dulu kamu itu bukan anak yang baik!.Kamu hanyalah anak yang bisanya,cuma mencoreng nama baik keluarga!.Kemarin kemarin,aku kira kamu yang gak salah,tapi ternyata salah,apa yang di katakan oleh Indri itu semua benar.Mulai saat ini,kamu bukan anaku lagi,mulai saat ini kamu tidak boleh menemui keluarga saya!,faham!."


Renata terduduk di tanah sambil memeluk kaki sang ayah.


" Ayah,Renata bisa jelasin semuanya,ayah jangan salah paham."


" Lepaskan,kaki saya."


Ayah berusaha melepaskan kakinya,sampai terlepas dari tangan Renata.


" Ayah,ayah jangan pergi!.Ayah!!!,hiks,hiks."


Dengan emosi yang memuncak,ayahnya pun pergi dengan mobil miliknya dan meninggalkan Renata sendiri disana.Renata masih terduduk lemas di tanah,sambil melihat mobil ayahnya yang mulai menghilang dari penglihatannya.


' Kenapa semua ini bisa terjadi?,kenapa tiba tiba ada ayah?,kenapa aku harus menerima semua kenyataan ini?.Mulai sekarang,ayah tidak lagi menganggapku seorang anak,bahkan dia melarangku untuk menemui ibu dan juga Salsa.Ya allah,kenapa semua ini terjadi padaku?,kenapa harus aku?,kenapa harus aku yang merasakan semua ini?.'


Renata pun mulai bangkit,dan menyeka semua air matanya yang membasahi pipi polosnya.Namun saat dia memutar tubuhnya,dia terkejut dengan keberadaan Artur yang sedang berdiri dan melihat ke arahnya.


" Renata,aku mendengar semuanya."


Namun Renata hanya berjalan dan melewatinya,Renata mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.Dengan perasaan yang sangat kacau,Renata memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.Sambil berderai air mata,Renata berusaha fokus melihat ke arah depan dan mengendalikan mobilnya supaya tetap berjalan dengan normal meski kecepatannya melebihi 100km perjam


Setelah beberapa menit menaiki mobil dengan kecepatan tinggi,Renata pun akhirnya menepikan mobilnya di suatu tempat yang mungkin bisa menenangkan pikirannya.Renata duduk di tepi danau,dan menengadahkan kepalanya ke langit.Yang mana saat itu jam menunjukan pukul 00.00.


' Kenapa si,kebahagiaan gak pernah berpihak sama aku?.Padahal mereka bilang,semua orang memiliki kebahagiaannya sendiri.Jika itu memang benar,kenapa aku tidak?,dimana kebahagiaan aku?,kenapa tuhan tidak memberikannya untuku?.Atau jangan jangan,adanya kata bahagia itu hanya sebuah kebohongan?,supaya setiap orang bisa tersenyum disaat bersedih karena mereka berharap adanya sebuah kebahagiaan,bahkan mereka berharap mereka selalu ada di dalam kebahagiaan dan melupakan semua kesedihan nya.'


" AAAAA!!!."


Renata berteriak dengan sangat kencang di tempat itu,dan akhirnya dia kembali menitikan air matanya.Sesekali Renata melemparkan batu ke arah danau dengan sekuat tenaganya.Renata rasa,hidupnya kini lebih kacau dari sebelumnya.Sekarang dirinya tak lagi memiliki keluaga,karena sang ayah tak lagi menganggapnya seorang anak.Yang di milikinya sekarang,hanyalah rasa iri kepada semua orang yang memiliki keluarga.


" Mulai saat ini,aku gak akan lagi percaya kepada yang namanya keluarga.Mereka hanya bisa membawaku terbang sangat tinggi,lalu menghempaskan diriku tanpa mendengarkan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.Aku benci,ayah."


Renata meremas rumput rumput yang tertanam di tanah,dengan sangat kuat sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


" Aku benci ayah."


BERSAMBUNG.


__ADS_2