Kesuksesan Anak Ke 2

Kesuksesan Anak Ke 2
72.Kembali keritis.


__ADS_3

-Kenapa disaat aku ingin melepaskan rindu disitulah aku selalu di ganggu oleh keadaan dan waktu.


Artur pun duduk di dekat Lucy,dia belum terlalu dekat dengannya dan Artur harap dia segera mengenal Lucy dan bisa akrab dengannya.


" Lho,kakak gak shalat?."


" Enggak."


Dengan dinginnya Artur menjawab seperti itu.


" Lho,shalat kak.Kan wajib."


Ibu dan Salsa menatap ke arah Artur.


" Emmm aku,aku gak shalat karena aku non muslim."


Jawaban Artur membuat Lucy terdiam,Lucy mengira bahwa Artur sama sepertinya yaitu beragama islam.


" Oh,maaf kak aku kira kakak suka shalat."


" Gak,papa."


" Hai,nama kamu siapa?."


Tanya Artur kepada Salsa yang ada di dekat Lucy.


" Nama aku,Salsa kalau nama kakak siapa?."


" Nama kakak Artur,salam kenal ya."


" Kamu masih sekolah?,atau kuliah?."


Pertanyaan Artur membuat Salsa tersenyum dan dia langsung menjawab.


" Sekolah kakak,masa iya aku udah kuliah."


" Ya siapa tahu aja kan,siapa tahu kamu udah kuliah dan udah mau menikah."


" Hahaa,kakak ada ada aja.Itu mah kakak aja kali."


Ibu sangat senang melihat Salsa yang mulai akrab dengan Artur dan Artur sangat baik orangnya dia tidak mudah tersinggung walaupun tadi ayah dan Lucy sudah bertanya tentang shalat.


Kemudian,karena penasaran ibu pun menhampiri Artur dan duduk di sampingnya.


" Nak."


" Ah,iya tante."


" Kamu udah lama,kenal sama Rena?."


" Baru beberapa hari ini si,tante.Memangnya kenapa?."


" Enggak,tante cuman nanya aja."


" Oh,iya.Kok aku baru lihat tante disini,tante orang tuanya Renata ya?."

__ADS_1


" Iya,tante ibunya dan yang tadi mengajak kamu shalat itu adalah ayahnya dan Salsa adalah adiknya."


" Oh,jadi Salsa adiknya Renata."


Dan saat itu pun rasa kesedihan ibu seketika menghilang disaat Artur mengajaknya mengobrol serta menceritakan saat dia bertemu dengan Renata namun tidak saat berkemah di tebing di waktu yang lalu.


Ayah dan Akhtar pun telah kembali dari masjid,dan sekarang adalah bagian perempuan untuk menunaikan ibadah shalat.Mereka sengaja shalat bergantian ,karena mereka takut ada masalah disaat mereka semua sedang shalat.


Akhtar kembali duduk di tempat yang asalnya kakaknya tempati disana.


" Tur,apa kamu gak tertarik sama agama islam?."


Tiba tiba saja Akhtar bertanya seperti itu.


" Ya,gimana ya.Mungkin ketertarikan itu ada,aku salut sama orang orang islam yang ibadahnya itu sering dan mereka juga pastinya sering juga kan ingat pada tuhannya,gak seperti aku dalam agama ku ibadahnya cuman satu kali yaitu hanya di hari minggu."


" Kalau gitu kenapa kamu gak masuk islam aja?,islam itu agama terbaik lho."


" Dulu pernah si pengen masuk islam,cuman orang tua gak merestui."


Disaat Akhtar akan bertanya lagi di situ ayah melarangnya.


" Akhtar,sudah jangan terlalu banyak bertanya kepadanya."


Karena ayah takut Artur tersinggung atau malu berada di sekitar orang orang islam.


" Gak papa kok om,santai aja."


' Sepertinya Artur laki laki baik,saat ditanya saja dia tidak tersinggung dan sepertinya dia suka dengan pertanyaan pertanyaan yang Akhtar berikan.'


Seketika itu pun lampunya padam dan ayah sangat bersyukur.


" Alhamdulillah,lampunya sudah berubah."


Akhtar dan Artur pun langsung berdiri disaat dokter yang memakai seragam operasi berwarna hijau keluar.


" Dokter,bagaimana?."


" Alhamdulillah pak,operasinya berjalan dengan lancar.Hanya saja pasien kondisinya sangat drop,jadi mohon bersabar ya."


' Kenapa disaat operasinya berjalan dengan lancar kondisi Renata drop?.'


Tanya Artur di dalam pikirannya,ayah pun menghembuskan nafas beratnya.


" Kalau begitu saya permisi pak,mari."


" Ya allah,kenapa lagi dengan Renata?.Sungguh sangat besar cobaanmu kepada keluargaku."


Ucap ayah di hadapan Akhtar dan juga Artur.


" Ayah,bagaimana operasinya?."


Tanya ibu yang sudah tiba disana.


" Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar,hanya saja ko disi Renata drop."

__ADS_1


" Hah,gak mungkin,kondisi Renata gak mungkin drop tadi dia baik baik aja kan,tapi kenapa sekarang jadi drop."


Tangis ibu kembali pecah dan ayah pun memeluknya berusaha menenangkan sang istri.Suster pun membuka pintu ruang operasi dan akan memindahkan Renata ke ruang ICU.


Mereka pun mengikuti orang orang tersebut dari belakang menuju Ruang ICU.


Tidak hanya ibu dan ayah,Lucy pun merasakan hal yang sama,dia begitu sedih melihat Renata yang kembali keritis,alat oksigen yang kembali menutupi hidung Renata membuat Lucy kembali meneteskan air matanya.


" Ibu,bapak,maaf untuk saat ini pasien sedang tidak bisa di ganggu.Biarkan pasien beristirahat dan di mohon jangan ada yang masuk,terimakasih."


Suster pun pergi dari hadapan mereka.Saat ini mereka hanya bisa melihat Renata dari cermin yang menyambung setengah tembok ke atas.


' Jika seperti ini,kapan kamu akan sembuh Ren.Aku mau kamu secepatnya sembuh,aku gak mau kamu terus merasakan ini.'


Lucy menyeka air matanya dengan jarinya,dia paling tidak bisa melihat sahabatnya di kondisi seperti ini,karena Renatalah yang selalu menyinari dan melengkapi hidupnya dan jika Renata terus seperti ini,Lucy juga tidak akan bisa jika tanpa ada Renata di sampingnya.


Lucy hanya bisa menyentuh tubuh Renata dari jauh,dia menempelkan telapak tangannya di cermin tersebut dan air matanya pun kembali meluncur tanpa permisi.


' Renata tolong cepat sembuh,kenapa semakin hari kondisi kamu semakin parah?.'


Akhtar pun menghampiri Lucy yang terlihat menangis di depan sana.


" Lucy,kamu jangan sedih.Kita merasakan hal yang sama,yaitu mengkhawatirkan Renata,merindukan Renata juga menginginkan Renata sembuh.Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan,kita serahkan saja semuanya kepada allah."


Lucy pun mundur dan duduk di kursi,seketika itu ibunya meneleponnya dan Lucy pergi untuk menjawab telepon dari ibunya.


" Assalamu'alaikum,bu."


" Wa'alaikumsalam,nak kenapa kamu kayak lagi nangis?.Kamu kenapa?."


" Ibu kondisi Renata semakin drop,dia kembali keritis."


" Apa,ya allah.Kamu yang sabar ya nak,pasti Renata akan segera sembuh."


" Iya bu,aamiin.Ibu ada apa telepon Lucy?."


" Ibu cuman mau tanya kamu kapan mau pulang,kamu belum meminum obat lagi lho."


" Iya,bentar lagi Lucy pulang kok."


Setelah itu Lucy memutuskan sambungan teleponnya dan memutuskan untuk segera pulang.


" Ayah,ibu Lucy pamit pulang dulu ya."


Izin Lucy kepada orang tua Renata.


" Kamu hati hati ya,makasih udah nemenin Renata."


" Iya bu,gak perlu berterimakasih sama Lucy memang itu sudah menjadi tugas Lucy.Kalau begitu Lucy pulang,assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Jawab orang orang yang ada disana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2