KETIKA CINTA TERBAGI

KETIKA CINTA TERBAGI
Pulang, Papa!!


__ADS_3

Panggilannya yang kedua ternyata direspon baik oleh Bima membuat Ardila langsung tersenyum bahagia, karena ternyata Papanya Itu masih peduli dengannya karena kalau tidak mana mungkin mau mengangkat panggilan darinya itu.


Bahagianya Ardila ketika orang yang ditelepon oleh sang Mama tetapi memilih tidak peduli dan ketika dirinya menelpon orang tersebut langsung merespon, itu pertanda bahwa memang yang bermasalah di sini adalah mamanya dan juga Papanya Tidak melibatkan melibatkan dirinya di dalam masalah mereka karena memang dirinya tidak tahu sama sekali tentang masalah keduanya.


Bima yang sedang stres memikirkan Ayla yang tidak pulang-pulang memilih untuk mengangkat saja panggilan dari Ardila, karena jika tidak bisa dipastikan ibu dan anak itu akan menelpon mereka sampai mungkin HP meledak sekalian baru bisa mereka hentikan.


"Ya halo Ardila kenapa? "Bima tidak ada basa-basinya sama sekali ketika mengangkat panggilan dari Ardila sebab menurutnya sudah cukup dirinya berbaik hati dari dulu untuk sekarang Jangan harap.


Ardila pun mencoba untuk bersikap tenang karena takut jangan sampai Bima merasa tidak nyaman jika dirinya harus bermanja-manja seperti biasanya, karena sikap Papanya itu tidak seperti dulu yang selalu menuruti apa yang ia inginkan pria itu terlihat semakin menjauh bahkan bisa dibilang enggan untuk menatap ke arahnya.


"Ini sudah mau malam apa Papa sudah di rumah atau masih di kantor, Soalnya dari tadi aku tidak melihat apa-apa loh siapa tahu mungkin Papa sudah masuk ke dalam kamar? "pertanyaan Ardila itu sebenarnya tidak masuk akal tetapi karena dirinya yang tidak bisa berjalan ya Otomatis tidak mungkin langsung ke arah kamar kedua orang tuanya yang harus menuruni tangga.


Bima sebenarnya ingin sekali mematikan panggilan tersebut karena menurutnya sangat tidak berbobot di tengah dirinya yang gelisah memikirkan Ayla yang tidak pulang-pulang, namun tidak ada salahnya kan jika dengan mengobrol dengan Ardila pikirannya bakalan bisa sedikit teralihkan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah selama ini kamu sama mama kamu itu senang Kalau Papa tidak pulang, karena dengan begitu kalian bisa memasukkan pria sesuka hati kalian? "pertanyaan Bima itu begitu sensitif Padahal selama ini pria itu selalu bermulut manis ketika berbicara dengannya Tetapi entah kenapa Bima sekarang terlihat lebih berani.


"Ya jelas aku khawatir dong Pak! Karena ini kan sudah mau magrib tetapi Papa belum pulang-pulang juga, aku takut jangan sampai Papa itu terlalu forsir tenaga sampai-sampai nanti sakit loh! Aku yang sudah sakit begini ya biarkan aku saja sendiri yang merasakannya, jangan sampai Kalian juga ikut-ikutan. "Bima ingin sekali tertawa mendengar nada kepura-puraan dari Ardila baru.

__ADS_1


"Biarpun saya sakit tetapi saya juga bisa menjaga diri sendiri tidak seperti orang lain yang sakit malah menyusahkan, sudah tidak bisa berbuat apa-apa dan bisa dibilang Hanya Jadi benalu memangnya kamu mau mengurusi orang seperti itu?"Bima sebenarnya pertanyaannya itu tertuju ke arah Ardila yang jelas-jelas tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk buang air pun tidak bisa bergerak sendiri jika tidak ada yang membantunya.


"Papa kalau marah sama Mama tolong sama mama saja jangan bawa-bawa denganku! Karena aku itu tidak tahu sama sekali dengan masalah yang kalian hadapi saat ini Entah berat atau ringan, yang aku minta itu perhatian papa karena kondisi saat ku itu sedang dibilang tidak baik-baik saja!"Ardila masih berusaha Tetap tenang Padahal selama ini jika dirinya sehat jika ada orang yang mengatakan seperti yang Bima katakan otomatis dirinya bakalan ngegas tidak mau kalah.


"Kamu itu sebenarnya memang tidak tahu masalah kami berdua tetapi dengan keberadaan kamu otomatis kamu ikut andil bagian dalam masalah itu, hanya saja kamu memang tidak sadar karena selama ini kebiasaan kamu kan bersenang-senang kemudian berhubungan dengan pria yang tidak jelas dan alhasil membuat bisnis keluarga anjlok! "Bima kali ini merasa bahagia karena Akhirnya bisa mengeluarkan semua unit-unek yang tersimpan di dalam benaknya saat ini karena jika tidak sekarang kapan lagi?


Ardilla sudah tidak tahan lagi dengan semua kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Bima untuknya barusan, dirinya dari tadi sudah berusaha menjadi anak yang berbakti dengan cara tetap berbicara halus meskipun Bima memarahinya habis-habisan tetapi sepertinya pria itu memang tidak bisa dikasih hati sedikit saja karena langsung ngelunjak.


"Oke Tuan Bima Nugraha, Anda kalau mau marah silakan saja tetapi jangan sampai berlebihan karena aku itu bukan anak kecil yang bisa kamu anggap remeh! Sekarang sih memang aku lagi sakit tidak masalah dan tidak punya apapun untuk dibanggakan, tetapi jangan menyesal jika nanti aku sudah menjadi orang sukses dan kalian datang mengemis padaku karena aku bakalan mengusir kalian dari hadapanku!"setelah mematikan panggilan itu Ardila pun memilih membuang ponselnya asal sebab benar-benar merasa emosi.


Ya kalau orang lain dan jiwa kerjanya begitu tinggi Pasti kursi roda bukan merupakan halangan tetapi berbeda dengan Ardila, ketika sehat saja disuruh kerja susahnya minta ampun apalagi kalau sudah cacat begitu bisa dibilang mungkin hari ini kerja 1 bulan lagi baru kembali kerja.


"Dasar Anak sama Mama sama saja, tidak ada beda bahkan bisa dibilang benalu dalam kehidupan orang lain! Menyesal aku dulu selalu mengikuti perkataan Cynthia dan alhasil dia yang enak sedangkan aku yang bosan sendiri! Syukur juga ada Ayla yang selalu menemaniku dan mewarnai hari-hariku yang begitu suram ketika Bersama dengan mereka, ah Ayla kau Cepatlah pulang sayang Aku merindukanmu! Kenapa jalan dari tadi kok belum balik-balik seolah yang di luar itu lebih enak dibandingkan aku tanpa, Padahal aku disini itu dari tadi sudah rasanya sesak nafas karena tidak melihat sumber oksigen di sekitarku!"Bima terlihat sudah seperti ABG yang sedang merindukan kekasih hatinya akibat terlalu lama LDR-an.


Ayla dan Bramantyo masih sibuk ngobrol ngalor ngidul kemana-mana yang penting intinya suasana tidak hanya diam duduk dan makan saja, meskipun pembahasan mereka itu tidak ada faedahnya sama sekali yang penting intinya tidak ada kecanduan di antara mereka berdua Dan semoga saja selalu saja seperti begini yaitu tetap akrab.


"Oh iya kamu itu jalan dari tadi kira-kira bayi besar piaraan kamu itu menunggu kamu tidak ya, soalnya aku tidak ingin dikatakan sebagai perebut simpanan orang lain nanti bakalan berhasil urusannya? "tanya Bramantyo Mau memastikan karena dirinya tahu seberapa bucinnya Bima terhadap Ayla Karena Wanita itu selalu mengatakan terus-menerus jika sudah merasa Jengah dengan sikap Bima.

__ADS_1


"aku itu sebenarnya lagi malas pulang ke rumah loh! Soalnya kamu tahu kan kalau sudah sampai di sana aku itu tidak bisa bergerak bebas sama sekali, pria tua bangka selalu saja menempel kepadaku layaknya perangko yang sudah tidak bisa lepas dari amplopnya lagi! "sungut Ayla sambil memasang wajah cemberutnya.


"Ya namanya resiko pekerjaan seperti begitu mau tidak mau harus tetap dijalani Jika ingin mendapatkan hasil yang baik dan juga sesuai harapan, kalau memang sudah capek dia tidak usah bekerja lagi hidup saja normal seperti orang biasanya tanpa menyimpan dendam. "setiap kali Ayla patah semangat pasti kata-kata itu saja yang bakalan dilontarkan oleh Bramantyo kepadanya.


"Iya nih aku pulang jangan ngomong banyak deh Kamu bukannya malah mendukung tetapi yang ada bikin tambah patah semangat, ini kan posisi aku jadi tidak pernah kamu rasakan Coba besok lusa kita berganti peran aku yakin baru sejam doang kamu langsung lari!"omel Ayla karena menurutnya Bramantyo itu tidak tahu apa-apa soal dari tanya selama bersama dengan Bima.


"Ih enak sekali kamu ngomong! Memangnya kamu pikir aku ini pria yang suka belok-belok sampai alhasil harus menggantikan posisi kamu di samping Bima , Kalau sudah seperti begitu lebih baik aku langsung cebur diri di Sungai Ciliwung biar tidak usah tahu lagi soal kebejatan dunia ini!"tolak Bramantya sambil bergidik ngeri.


"Itu kamu yang sesama jenis aja tidak mau Apalagi aku yang berlainan jenis ya lebih tidak mau lagi, hanya saja kamu itu kan tidak pernah paham jadi lebih baik kamu diam saja jangan banyak komentar soalnya aku capek mendengarnya!"setelah mengatakan hal itu Ayla pun mengambil tas selempang yang biasa ia bawa lalu pamit undur diri karena dirinya memang harus pulang.


Sepeninggal Ayla dari tempat itu Bramantyo hanya bisa menatap sendu ke arah punggung wanita itu yang sudah semakin menjauh, dirinya berharap agar Aila melupakan semua dendamnya ada dalam hatinya dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan tenang.


Pembahasan untuk meminta Ayla merupakan segalanya sudah pernah ia lakukan Tetapi wanita itu malah menolaknya dengan tegas, sebab menurut Ayla bukan Bramantyo yang mengalami semua kejadian itu melainkan dirinya maka dari itu ia begitu sangat tahu bagaimana rasanya sakit kehilangan orang-orang yang sangat dicintai.


Bramantyo memilih untuk memihak kepada Ayla saja karena dirinya juga tidak ingin jika wanita itu menjauh darinya, meskipun terkadang begitu Ingin egois agar Ayla hanya memperhatikannya saja tetapi sepertinya keinginannya itu tidak akan pernah tercapai.


"Bisakah kamu lebih memilih hidup denganku dan juga kita menikmati hari tua bersama-sama dengan kedua anak kamu tanpa harus memikirkan orang lain, dan juga Bisakah kamu ikhlas kalau yang sudah pergi Biarkanlah Mereka pergi dengan tenang karena kita di dunia ini masih harus melanjutkan pekerjaan yang masih tertunda bukan untuk mau balas dendam!"Percuma saja Bramantyo mengatakan hal itu karena Ayla sekarang sudah pergi.

__ADS_1


__ADS_2