
terlihat ada yang menatap Iba ke arah Kamila tetapi tak sedikit juga yang menatap sinis ke arahnya, karena menurut mereka Apa yang dilakukan Kamila itu merupakan sebuah kekurangan ajaran dan membuat kedua orang tuanya malu di depan umum.
padahal sebenarnya masih ada hari esok untuk membahas hal ini tidak harus saat itu juga kan, maka dari itu mereka pun maju menjadi lawannya Kamila dan menurut mereka Kamila itu harus segera pergi dari tempat itu karena hanya akan membuat suasana Bahagia menjadi hancur berantakan.
" kamu itu memang anak yang tidak tahu diri bukannya berterima kasih karena ada yang sudah merawat kamu malah membuat mereka malu di hadapan umum, padahal setidaknya kamu sebagai anak wajib memberikan apa yang kamu punya kepada orang tua kamu ketika mereka sedang memerlukan! " ujar salah satu wanita yang bertubuh bongsor yang terlihat begitu kesal terhadap Kamila.
Ardila yang mendengar ada yang membelanya begitu merasa bahagia karena menurutnya tidak perlu harus bersusah payah memikirkan akting menjadi orang yang teraniaya di sini karena secara tidak langsung ada yang sudah melakukan hal itu, maka dari itu dirinya memilih untuk menjadi penonton saja dan menikmati kira-kira mau sampai di mana Kamila Bertahan dan pergi dari tempat itu.
" Kamu kenapa berbicara begitu kepada putriku, Kalau kamu tidak tahu apa-apa Lebih baik diam dan jaga mulut kamu untuk mengucapkan sesuatu hal yang nanti bakal kamu sesali nantinya? " Percayalah suara orang tersebut membuat Sintia dan juga Bima serta Aryo dan Ardila merasa tak percaya Karena orang tersebut bangkit dan menjadi pembela Kamila di antara semua orang.
" kamu itu kan calon mertuanya mempelai wanita kenapa malah membela orang lain padahal jelas-jelas calon menantu kamu sedang dipermalukan saat ini, Ayolah jadi orang itu berpikir realistis sedikit kira-kira apa yang kamu dapatkan dari anak kurang ajar seperti begini? " tanya wanita itu membuat Vena tersenyum karena sepertinya mereka tidak terlalu mengenal dekat kamilah sehingga hanya menilai dirinya dari sudut pandang mereka sendiri.
" aku tahu mana yang harus dianggap sebagai keluarga dan mana yang dianggap sebagai orang lain, dan kamu yang tidak paham soal apapun di sini lebih baik kamu jaga bahasa kamu sebelum aku panggil satpam dan mengusir kamu saat ini juga! " sinis Vena sambil menarik tangan Kamila karena menurutnya dirinya adalah pendukung setia wanita itu agar tidak merasa terpuruk dan juga sendirian.
__ADS_1
" tapi mama aku tidak bisa pergi sebelum urusanku dengan mereka semua selesai dan juga aku tidak peduli dengan kata-kata orang lain, karena menurutku mereka melakukan hal ini agar semua orang menganggap rendah diriku dan juga menganggap aku merupakan orang yang tidak berguna!" tolak Kamila ketika Vena ingin mengajaknya pergi dari situ.
" tapi nak tidak selamanya Apa yang kamu harapkan itu berjalan sesuai dengan kamu inginkan, lebih baik menyingkir jika memang itu merupakan jalan yang terbaik bukan karena ingin mengalah ataupun kalah tetapi demi kebaikan diri sendiri tak masalah kan jika melakukannya!" bujuk Vena lagi tapi Kamila Bukannya ingin keras kepala tetapi dirinya tidak bisa pergi dengan membawa gunjingan begitu banyak dari semua orang yang hadir di tempat itu.
" Mas Aryo, Kok bisa sih Mama kamu malah membela dia bukannya aku yang jelas-jelas merupakan calon istri kamu? kamu saat ke sini itu ngomong jelas tidak sih sama mama kamu itu agar dia tidak bertingkah yang aneh-aneh dan membuat kita malu, sekarang Kalau sudah seperti begini mau jadi apa nantinya aku nanti dipikir ini merupakan pernikahan yang dipaksakan?" bisik Ardila tepat di telinganya Aryo tetapi pria itu juga kebingungan harus bersikap seperti apa.
" kita duduk dan tenang tinggal melihat kira-kira dia bakal bertahan di situ sampai berapa lama, kalau memang sikapnya sudah terlalu membuat kita Malu nanti aku bakalan memanggil petugas keamanan biar mengusirnya dari tempat ini!" jelas Aryo setengah berbisik tetapi Ardila tetap tidak terima sama sekali dan memberi kode kepada orang tuanya agar menghalau keluar Kamila dari tempat itu.
" Mama sama Papa bisa tidak saat ini juga membereskan wanita itu agar enyah dari hadapanku, Memangnya Kalian mau segala sesuatu yang sudah kita siapkan bakal hancur berantakan dan berjalan tidak sesuai dengan rencana akibat ulahnya dia? " begitulah kata-kata yang secara tidak langsung diucapkan oleh Ardila membuat Sintia hanya mendesah nafasnya kasar soalnya saat seperti begini menggunakan kekerasan itu sama saja dengan menggantung diri sendiri.
"Awww!"
entah gerakan refleks atau memang rasa itu masih ada tiba-tiba tanpa diminta Arya sudah berdiri dan menarik tangan kamilah agar segera bangun, membuat Ardila dan yang lainnya merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini dengan respon cepat yang diberikan oleh pria itu.
__ADS_1
Kamila tersenyum mengejek ketika melihat Aryo yang begitu peduli kepadanya sampai-sampai melupakan kehadiran Ardila, hanya saja menurutnya untuk apa merespon berlebihan terhadap pria yang tidak punya pendirian seperti Aryo itu.
" tidak usah mengeluarkan tangan kotormu kepadaku karena aku bisa bangun sendiri dari tempat ini, kamu kalau mau mengurus ya urusi saja itu pacar kamu jangan pernah mengurusi kehidupan pribadiku Ingatlah kalian itu mau menikah ! " secara tidak langsung Kamila menyindir Aryo membuat pria itu sadar dan kembali ke tempat duduknya.
Ardila terlihat begitu gusar ketika melihat perhatian diberikan oleh Aryo kepada kamilah tadi sampai-sampai melupakan kehadirannya di situ, dirinya merasa bahwa sebenarnya Aryo itu masih ada rasa terhadap Kamila dan juga Kamila sengaja melakukan hal itu karena ingin menggoda calon suaminya.
" aku Kamila Andini bakal melakukan apapun ketika ada orang yang sudah menjatuhkan Harga Diriku secara tak langsung, Oke baik jika semuanya ingin aku pergi dari sini tidak masalah yang penting Tolong ingat tanggung jawab kalian kepadaku yaitu mengembalikan semua yang kalian Nikmati Hari ini tanpa kurang sepeserpun!" terlihat Kamila mengeluarkan kata-kata yang begitu serius bahkan tidak ada nada bercanda di dalamnya membuat Vena begitu tidak tega terhadap Gadis itu dan memilih untuk mendekatinya dan mengusap pelan bahunya.
" yang sabar ya nak jangan sampai kamu hilang arah ataupun patah semangat, Mama bakalan ikut kamu pergi ke manapun karena mama tidak ingin berada di sini dan juga ini bukan tempatnya Mama harus berada saat ini!" setelah mengatakan hal itu Venna dan Kamila pun pergi dengan membawa begitu banyak perasaan terluka karena akibat dari perbuatan keluarga mereka yang paling terdekat.
penghulu yang dari tadi sudah merasa tidak nyaman dengan jalannya proses yang harusnya sudah berjalan dari tadi, langsung memanggil Aryo dan Bima untuk menanyakan kelangsungan acara itu apakah dihentikan saat itu juga atau tetap berjalan.
" Permisi bapak bisa kita bicara sebentar soalnya ada hal penting yang harus kita bahas saat ini juga agar nanti besok lusa tidak menjadi bumerang, karena ini juga demi kebaikan kalian dan juga bisa dibilang sesuatu pertanda Yang sepertinya tidak bisa untuk diabaikan!" jelas penghulu itu membuat Bima dan Aryo Saling pandang karena kata-kata ambigu yang dikeluarkan itu sangat terasa begitu aneh.
__ADS_1
" maksudnya Bapak ngomong kayak begitu apa ya, bukannya Tugas anda itu datang ke sini menikahkan orang terus kami bayar setelah itu langsung pulang? bisa tidak jangan menambah-nambah sesuatu bahasa yang sebenarnya itu merupakan sebuah kekonyolan, Memangnya bapak pikir keluarga kami ini merupakan orang yang hidup di zaman kuno kolot jadi masih membawa tradisi yang seperti begitu? " tanya Ardila sinis.