KETIKA CINTA TERBAGI

KETIKA CINTA TERBAGI
Ardila Mengamuk


__ADS_3

Ardilla yang sudah tidak tahan dengan keributan yang terjadi di lantai bawah membuat wanita itu langsung berusaha meraih kursi roda di samping tempat tidurnya, lalu menuju ke arah pintu dan berteriak sekencangnya agar kedua manusia paruh baya itu menghentikan semua kegiatan konyol mereka itu.


"Kalian bisa diam tidak? Kalau masih ingin ribut-ribut pergi saja di pasar sekalian demo! Satupun tidak ada yang peduli dengan keadaanku memangnya kalian pikir aku ini patung, kalau memang tidak becus menjadi orang tua mendingan berpisah saja daripada tiap hari mendengar pertengkaran kalian!"teriak Ardila dengan air matanya yang membanjiri kedua pipinya sebab dirinya benar benar emosi dengan segala sesuatu yang terjadi di rumah itu.


Hal inilah yang membuat dirinya lebih betah berada di rumah sakit karena di sana semua orang pada sakit jadi tidak ada yang melakukan hal konyol seperti orang tuanya, tetapi kalau di rumah yang dikiranya bakalan menjadi tempat perlindungan yang bagus ternyata dugaannya itu salah besar yang ada malah tambah parah.


"Kalian dengarkan perkataanku tadi? Kalau memang sudah tidak ada rasa nyaman lagi atau tidak saling suka atau punya selingkuhan lebih baik cerai saja, daripada orang lain yang hidup dengan kalian lebih menderita daripada kalian karena keributan kalian itu sudah buat kepalaku pusing!" sambung Ardila lagi.


Bima dan Cynthia yang tadi menggebu-gebu bertengkar dengan mengeluarkan suara mereka yang tingginya beberapa oktaf langsung menghentikan semuanya, bukan karena merasa kasihan dengan suara Ardila tetapi tidak menyangka kalau wanita itu malah menyuruh mereka mengambil keputusan yang belum ada dalam benak mereka untuk saat ini.


Chyntia langsung berlari ke arah kamarnya Ardila dan terlihat anak itu sedang berada di depan pintu kamarnya dengan air matanya yang terus saja mengalir, Sintia sedikit saja memang merasa bersalah tetapi egonya membuat dirinya kembali emosi dan tidak terima Jika ada yang mengaturnya ketika sedang emosi seperti begini.


"Kamu itu anak kecil yang masih makan dan hidup di bawah telapak tangan orang tua jadi jangan coba-coba memberikan perintah kepada kami seolah-olah kamu itu sudah bisa hidup sendiri, Jadi kalau Kami sedang bertengkar jangan coba-coba kamu menyela atau memberikan aba-aba seperti tadi karena kalau sampai Mama dengar sekali lagi kamu bakalan tahu akibatnya!"sarkas Chintya kasar bukannya membuat Ardila takut Tetapi malah yang ada dirinya tambah memasang tatapan sinis kepada wanita yang sudah melahirkan itu.


"Jadi ceritanya kamu mau menjadi penguasa di dalam rumah ini, dan kamu mau semua orang harus mendengarkan semua perkataan kamu? Kalau memang seperti itu kemauan kamu ya sudah ikuti saja apa yang aku katakan tadi, yaitu Ceraikan papa dan hidup bebas di luar sana!" Timpal Ardila yang tidak mau kalah karena jika Cynthia bisa marah-marah kenapa dirinya tidak Bukankah semua manusia itu diciptakan punya mulut untuk ngomong.


Plak


Chyntia melayangkan satu tamparan keras di pipi Ardila, Mungkin wanita itu ingin membalaskan rasa pukulan yang tadi diberikan Bima kepadanya kepada putrinya itu. Membuat Ardila memasang tatapan nyalangnya karena seumur hidup dirinya tidak pernah dihajar seperti begini, untung juga dalam kondisi yang tidak bisa berdiri di kaki sendiri kalau tidak bisa dipastikan ia ingin membalas rasa sakit yang diberikan Chyntia untuk nya.


"Aku tidak akan pernah memaafkan untuk apa yang kamu lakukan kepadaku ini, aku berjanji bakalan membalas suatu saat nanti tidak sekarang tetapi NANTI !" Ardila menekan kata-katanya tersebut sebab menurutnya kalau Cynthia bisa berbuat dengan memberikan rasa sakit kenapa tidak dirinya menurunkan mental wanita itu.


"Kamu berani mengancam saya? Apa kamu tidak takut kalau saya bakalan membiarkan kamu mau mati seperti kemarin? Ingat nak selagi kamu masih di atas kursi roda, dunia kamu itu ada di dalam genggaman saya jadi jangan coba-coba deh berani-beraninya seperti begini!" sinis Chintya Sambil tertawa mengejek.


Ardilla mengepalkan tangan yang menahan emosi dirinya berusaha untuk tidak bangkit dan menyerang Cynthia saat ini juga, karena mengingat kondisinya yang memang tidak mengharuskan ia untuk melakukan hal tersebut.


Kalau saja pikirannya pendek entah apa yang bakalan terjadi atas kedua wanita itu, sebab keduanya memiliki Perangai yang arogan dan tidak pernah mau mengalah terhadap orang lain.

__ADS_1


Sedangkan Bima hanya menonton perdebatan kedua wanita itu dari lantai bawah dengan tidak ada niatan untuk melerai, sebab menurutnya kalau capek pasti bakalan berhenti sendiri Jadi untuk apa dirinya membuang-buang tenaga untuk melakukan sesuatu hal yang tidak penting.


Ardilla yang melihat Papanya tidak ada niatan untuk membelanya hanya bisa menghela nafasnya memasang tatapan kecewanya, sebab pria itu selama beberapa bulan terakhir akibat pernikahannya yang gagal dengan Ariel terlihat mulai berubah dan rasa perhatiannya pun sudah mulai berkurang bahkan mungkin bisa dibilang menghilang.


Semenjak dirinya pulang dari rumah sakit tidak sedikitpun Bima masuk ke dalam kamarnya membantu dirinya ataupun sekedar menanyakan keadaannya, yang ada Bima malah tidak pernah muncul sama sekali dan hari ini pria itu baru kembali Tetapi malah membuat keributan dengan Mamanya.


Bima tidak seperti yang dulu yang terlihat kalau Cynthia sudah terlalu banyak bicara memilih untuk ngobrol dengan Ardila, meskipun Ardila terlihat cuek dan tidak ingin diganggu oleh siapapun tetapi sedikit-sedikit masih bisa meladeninya.


"Papa! Apa tidak ingin bertemu dengan aku lagi sampai-sampai hanya melihat dari situ, Aku ingin cerita banyak Pah tentang keadaanku tetapi sepertinya Papa tidak ingin mendengarnya!" Lirih Ardila dalam hati.


Chyntia yang sudah selesai urusannya dengan Ardila dan juga melihat wanita itu sudah sedikit tenang Ia turun kembali untuk bertemu dengan suaminya, sebab menurutnya pembahasan mereka berdua itu belum selesai sama sekali dan ia tidak ingin pria itu pergi lagi dengan masalah yang masih menggantung seperti ini.


"Mas kita perlu bicara! Kalau kamu ingin aku menurunkan nada bicaraku, baiklah aku bakalan melakukan tetapi aku minta kamu juga harus melakukan sama yang seperti aku lakukan!" tawar Cynthia dengan wajahnya yang terlihat tidak ada nada bercanda di dalamnya membuat Bima mendengus kesal karena sebenarnya pria itu ingin pergi ke kantor meskipun semuanya sudah diatur tetapi ia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya yang terlalu mumet beberapa hari ini.


"Pembicaraan kita Sudah selesai dan tidak ada yang namanya kelanjutannya lagi, kalau kamu masih tetap menjadi wanita egois! Sebagai seorang suami aku ingin istriku mendengar semua yang aku katakan entah benar atau salah, nanti setelah aku selesai bicara boleh kamu menjawabnya dan memberikan sanggahan seperti yang kamu pikirkan Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya!" Bima lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam untuk menjaga kemungkinan Cynthia masuk dan melakukan hal nekat sebab dirinya sangat tahu isi pemikiran wanita itu.


"Kok pintunya malah dikunci sih? semakin hari semakin lain tuh orang, Awas aja kalau sampai aku tahu bahwa ternyata ada di luar sana sedang bermain api! "Sintia mengatakan hal itu sambil memasang tatapan kesalnya padahal sebenarnya tanpa wanita sadari dirinya juga sama seperti Bima.


Kalau Bima bedanya hanya bermain api dengan satu wanita yaitu Ayla sedangkan Cynthia melakukannya dengan pria secara random maka dari itu jika saling mengungkapkan kejahatan masing-masing rasa-rasanya seperti membuka aib sendiri.


"Dasar wanita tidak tahu diri bukannya bersyukur aku sudah menerimanya di saat hamil seperti begitu, tetapi sekarang malah bersikap seolah-olah Dia paling benar?" Bima benar-benar merasa emosi karena Cynthia itu selalu saja membatasi ruang geraknya.


Cynthia dari tadi tidak berpindah pada tempatnya Karena Wanita itu sedang menunggu agar Bima keluar dan dirinya bisa menginterogasinya, Persetan jika nantinya pria itu bakalan marah-marah ataupun memukulnya seperti tadi karena Ia masih ingin membahas tentang masalah mereka.


Bima yang sudah berpenampilan rapih sangat terkejut ketika dirinya membuka pintu kamar dan melihat Cynthia sedang berdiri menatap ke arahnya, pria itu hanya bisa menghela nafasnya lalu memilih menganggap kehadiran Cynthia tidak ada di situ sebab menurutnya kalau terlalu pedulikan wanita itu bahkan tambah besar kepala.


Namun Chyntia ya tetap Cynthia, jika dirinya diacuhkan oleh orang lain maka ia merasa harga dirinya benar-benar sedang diinjak.

__ADS_1


"Aku dari tadi tunggu kamu di sini dan kamu malah pergi begitu saja, oh tentu tidak bisa begitu ferguso kita harus bicara? Kamu pikir dengan kamu diam seperti Begini masalah kita berdua bakalan kelar, Aku tidak akan berhenti mengganggu kamu sebelum kita berbicara jelas tentang hubungan kita!"Chyntia terus merecoki Bima dengan kata-katanya sampai pria itu menggubris apa yang ia bicarakan barulah mungkin dirinya bisa berhenti.


Bima yang sudah tidak tahan lagi menghentikan langkah kakinya dan menetap ke arah wanita yang sudah belasan tahun menjadi istrinya itu, dulu Wanita itu sangat dipujanya bahkan bisa dibilang ratu di dalam hidupnya sampai-sampai setiap kata-katanya tidak pernah acuhkan.


Namun sekarang rasa itu sirna ketika mengetahui kebiasaan Chyntia yang makin hari makin parah, semakin ke sini sikap Sintia itu semakin parah bahkan segala kemauan dalam hidupnya tidak pernah masuk di dalam nalarnya Bima.


"Memangnya hubungan kita ini kamu mau membicarakan tentang apa lagi, bukannya sudah jelas kalau aku tidak pernah mengucapkan kata talak untuk menceraikan kamu? Jadi otomatis hubungan kita masih jelas sebagai hubungan suami istri, meskipun aku enggan menjalaninya tetapi aku bukan pria yang gampang saja mengucap kata cerai! "jelas Bima dengan tatapan datarnya membuat Cynthia tertegun.


Chyntia tidak ada niatan untuk mengatakan soal perceraian di antara keduanya yang ia maksud tentang membicarakan hubungan mereka, yaitu Bagaimana caranya agar pertikaian dan juga kesulitan yang tengah mereka hadapi bisa segera selesai bukan sedang membicarakan hal itu.


"Sebenarnya siapa juga yang ngomong kalau ingin bercerai dari kamu, Mas? Aku itu hanya mau ngomong soal, Gimana caranya agar kita tidak jauh-jauhan seperti begini!" jelas Chyntia dengan ada bicara yang benar-benar kecewa dengan pemikiran Bima barusan.


"Ya sudah kalau kamu sudah selesai bicara biarkan Aku pergi, untuk apa lagi yang membahas hal-hal yang tidak perlu dibahas bukannya hanya bikin capek saja? Lagian sama saja kalau kita membahas soal hubungan ini terus di kemudian hari ulangi kesalahan yang sama, jadi hitung-hitung berapa kali kita harus membahasnya dalam hidup!"setelah mengatakan hal itu Bima pun memilih untuk pergi dan membiarkan Sintia merenungi kesalahan yang selama ini dilakukan oleh wanita itu berulang kali tanpa ada rasa penyesalan.


Chyntia memilih untuk pergi ke kamar Ardila sepeninggal Bima karena tidak ada niatan untuk mengejar suaminya itu, wanita itu ingin memastikan keadaan putrinya yang tadi sempat ditamparnya.


Ardilla yang tengah memainkan ponselnya tidak menghiraukan ketika ada pintu yang dibuka dari luar, karena dirinya yakin itu adalah Mamanya padahal yang ia inginkan sekarang yaitu sendiri mengingat apa yang tadi dilakukan Cynthia kepadanya.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Maafkan Mama karena tadi sudah berlaku kasar kepada kamu, Percayalah itu karena efek terlalu kecewa dengan papa kamu dan akhirnya kamu kena imbasnya! "jelas Chyntia Lirih.


Ardilla memilih membiarkan Cynthia mengeluarkan beban di dalam hatinya nanti setelah itu baru bisa ia menyanggah ataupun menjawab, sebab menurutnya masalah seseorang itu bakalan kelar ketika dirinya mengeluarkan keluh kesahnya dan orang lain mendengarkan tanpa memotong sedikit saja.


"Mama itu bingung dengan papa kamu yang semakin ke sini susah sekali untuk dibilangin, padahal dulu setiap kali Mamah mengeluh seperti ini pasti papa bakalan langsung minta maaf! Sekarang tidak pernah lagi dia melakukan hal itu Bahkan dia malah memilih untuk menghindar, seolah Mama ini bukan dianggap sebagai istrinya melainkan hanya orang untuk menjadi pelampiasan emosinya lalu pergi lagi!"sambung Cynthia lagi bahkan terlihat wanita yang jarang sekali menangis itu sudah mengeluarkan air matanya entah air mata ingin dikasihani oleh Ardila atau memang air mata kekecewaan yang sesungguhnya.


"Bisa tidak jangan datang mengeluh kepadaku karena aku juga punya masalah yang lebih besar, masalah kita ini bakalan kelar Kalau mama bisa membawa kembali Mas Aryo kepadaku dan kami menikah! Bukannya masalah Papa sama Mama itu hanya karena uang sebab sekarang harta Kita kan sudah mau habis, Mas Aryo itu kaya dia pasti bakalan bisa menghandle semua kebutuhan kita tanpa terkecuali!"tegas Ardila membuat Chyntia langsung bungkam karena dipikirnya Ardila bakalan memberikan solusi yang terbaik tetapi malah memikirkan dirinya sendiri.


"Kamu kalau kembali berhubungan dengan pria itu, artinya kamu ingin melihat Papa sama Mama kamu ada di penjara! Apakah kamu tidak tahu kalau dia sudah mengetahui rahasia kami, dan kenapa kamu masih harus menyebut dia lagi dan melupakan kami?"tanya Cynthia yang tidak habis pikir dengan isi otaknya Ardila karena masih bisa-bisanya memikirkan pria yang tidak pernah memikirkannya sama sekali.

__ADS_1


"Pokoknya kalau aku sembuh aku bakalan mencari Mas Aryo sampai ketemu dan meminta kembali dengannya, aku sudah capek hidup dengan keluarga Toxic seperti begini dan aku ingin meraih kebahagiaanku!"sahut Ardila yang tidak kalah dari Cynthia.


__ADS_2