
Arlan di dalam ruangannya Tengah gelisah karena dari tadi dirinya sedang menunggu kehadiran Kamila Tetapi wanita itu tidak muncul terus batang hidungnya, membuat pria itu takut jangan sampai Kamila benar-benar melakukan ancamannya tadi yaitu mengurungkan niat untuk bekerja di perusahaan ini.
pria itu yang tadi sudah duduk di kursi kebesarannya kembali bangun dan menatap ke arah pintu yang masih saja tidak ada pergerakan sama sekali, ketika dirinya ingin keluar untuk memastikan kira-kira Kamila sudah ada di mana dan betapa terkejutnya ternyata Kamila sedang bercanda dengan seorang pria gemulai di kantor itu yaitu Bayu.
"Biarpun dia itu lembek tetapi aku tidak menyukai jika Kamila malah bercanda dengannya, meskipun otaknya rada sengklek tetapi bagian tubuhnya lain tidak mungkin bakalan menyangkal kalau ia bukan pria!"sungut Arlan dalam hati tetapi tidak mungkin juga akan dirinya meneriaki Kamila untuk masuk ke dalam ruangannya sekarang yang ada wanita itu bakalan kembali mengancamnya seperti tadi pagi.
Soalnya hal yang tadi pagi itu sudah membuat dirinya kapok dan tidak akan mengulangi kejadian yang sama, oleh karena Kamila itu merupakan wanita yang memiliki kemauan yang sangat keras tidak ingin hidupnya diatur-atur oleh orang lain.
"Ayolah cepat masuk ke dalam sini jangan kelamaan berbicara dengan pria aneh itu, Nanti lama-lama dia bakalan berubah jadi normal dan aku bakalan tidak kebagian jatah!"batin Arlan yang sudah seperti orang yang hendak mendapatkan bantuan tetapi masih ditarik ulur sehingga membuat pria itu merasa gemas.
Kamila yang sudah berpamitan kepada Bayu memilih untuk pergi ke ruangan Arlan karena dirinya yakin pria itu pasti sudah ada di dalamnya, dengan menghembuskan nafasnya berulang kali berusaha menetralkan perasaan kegugupannya sebab tadi pagi dirinya sudah lancang memarahi pemimpin perusahaan itu dan sekarang malah harus bertemu dengan nya.
"Semoga saja dia lupa kalau tadi pagi Akulah orang yang memarahi dia! Lagian ini semua kan salahnya nongol di rumah orang pagi-pagi tanpa permisi sudah begitu memaksa orang lain buat mengikutinya ke kantor, biar jelek begini kalau soal ongkos ya aku masih mampu lah masa iya apa yang harus jalan kaki ke kantor?"gumam Kamila berusaha mensugesti dirinya bahwa tidak akan ada kemarahan lanjutan dari Arlan untuk nya.
Tok tok tok
"Permisi Pak, ini dengan saya Kamila!" ujar Kamila dari luar karena dirinya tidak ingin menjadi orang yang kurang ajar langsung nyelonong masuk di dalam tempat pribadinya orang lain.
"kamu harus tenang Arlan bersikaplah biasa saja jangan berlebihan karena nanti yang ada dianya bakalan ilfil, netralkan degup Jantungmu jangan terlalu berlebihan sebab sekarang dia bukan sedang mengajak kamu untuk berdisko!"Arlan masih berusaha untuk berbicara untuk menenangkan pemikirannya nanti setelah itu barulah dirinya mengeluarkan suara untuk menyuruh keadilan masuk ke dalam ruangannya saat itu juga.
"ya masuk saja!"ujar Arlan datar seolah dirinya sedang dendam kepada Kamila karena tadi pagi menolak ajakannya itu secara tidak.
"Waduh kenapa suaranya sedatar itu ya jangan-jangan dia masih marah ya kepadaku? Aduh terus gimana dong jangan sampai dia malah memecatku di hari pertama bekerja, nanti aku bakalan kasih makan Mama dan juga diriku sendiri pakai apa Masa iya pakai daun?"gumam Kamila frustasi.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan wanita itu memilih untuk tetap masuk ke dalam ruangan tersebut terserah nanti mau jadi seperti apa yang penting intinya Sudah berani mencoba, nanti respon Arlan Seperti apa mau marah bagaimanapun itu hak pria itu karena sekarang Kamila harus tunduk pada perintah apapun darinya karena Arlan merupakan pemimpin di situ.
"Permisi Pak! Maaf mengganggu waktunya soalnya saya ke sini mau bertanya Sebenarnya saya itu ditempatkan di....
"Kamu duduk dulu di sofa itu nanti baru kita bicara soalnya saya harus memesan sarapan saat ini, Kamu mau makan apa kebetulan kan ada di sini jadi sekalian saja?"perintah Arlan dengan wajah datarnya padahal sebenarnya dadanya itu bergemuruh karena akhirnya ini adalah hari pertama dirinya sarapan bareng Kamila Dan harapannya adalah wanita itu tidak bakalan menolak ajakannya.
" Tapi Pak saya tadi sudah sarapan di rumah jadinya Saya tidak bakalan sanggup lagi untuk makan, Tetapi kalau bapak berniat mendingan kasih saya pekerjaan di tempat mana supaya saya langsung menuju ke ruangan saya itu!"ujar Kamila yang menolak secara halus karena memang lambungnya itu segede satu kepalan tangan terus kalau dipaksa memasukkan makanan lagi yang ada dia bakalan muntah keluar semuanya.
"Hari pertama kamu bekerja ya adalah menemani saya sarapan, asal kamu tahu saya itu manusia yang tidak terima penolakan jadi jangan pernah membantah lagi cukup duduk tenang di tempat kamu sambil memasang senyuman terbaik!"ujar Arlan tetap kokoh pada pendiriannya membuat Kamila akhirnya memilih bungkam dan Percayalah jika di dalam hati wanita itu Tengah mengumpati Arlan dengan begitu sadisnya.
"Mana ada hari pertama bekerja malah menemani pemimpin perusahaan untuk sarapan, semoga saja sarapanku itu tidak ditaruh sianida sehingga membuatku langsung keok tidak berdaya?"gumam Kamila begitu stres sebab dari dulu sampai sekarang dirinya melamar pekerjaan tidak pernah diperlakukan seperti begini dan ini adalah hal pertama yang baru saja ia alami.
"kamu kalau mau memaki saya silakan saja jangan pakai menahannya seperti begitu Soalnya kamu tahu kan kalau orang stres itu tidak punya obat, dan saya juga tidak ingin salah satu karyawan saya menjadi stres hanya karena berhadapan dengan pria yang seseperfect saya ini!"ujar Arlan yang terlihat begitu narsis tetapi Percayalah dengan tampangnya datarnya itu membuat Kamila malah ingin sekali menunjuknya agar bisa berubah miring sedikit.
"Permisi Pak sarapan yang tadi anda pesan mau taruh di mana Apa di atas meja Anda atau di meja yang dekat sofa, dan kami bawa sesuai dengan pesanan Anda tidak ada kurang satu pun kami harap anda menyukainya!"jelas salah satu pelayan yang berada di kantin kantor itu sebab ini adalah kali pertamanya Arlan memesan makanan selama pria itu bekerja di tempat itu karena selama ini dirinya selalu memilih makan di rumah ataupun di restoran.
"Oh Tuhan ini yang namanya Anugerah atau cobaan terberat dalam hidupku ya? Kenapa pria ini malah tidak berubah pikiran sama sekali padahal aku jelas-jelas sudah menolaknya, semoga saja dia berubah pikiran setelah habis makan soalnya orang kalau lagi lapar itu pikirannya kadang nyeleneh Nanti kalau sudah kenyang pasti bakalan jernih kembali?"gumam Kamila berharap di dalam hatinya bahkan Percayalah dirinya sampai mendoakan Arlan yang baik-baik supaya pria itu berubah pikiran.
"Baiklah Pak dan juga Ibu...
'Panggil saya Kamila saja Mbak,karena kalau Ibu kelihatan saya sudah tua begitu!" Pinta Kamila sambil tersenyum.
"Panggil dia Ibu,jika kamu masih ingin bekerja di kantin perusahaan!" Ujar Arlan santai akan tetapi dengan tatapannya yang begitu tajam membuat pelayan kantin tersebut hanya bisa menganggukkan kepala tidak mungkin membantah apa yang dikatakan oleh pemimpin perusahaan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak dan ibu Kamilah, semoga anda betah bekerja di sini dan juga jika ada waktu silakan mampir ke kantin perusahaan!" pamit wanita itu untuk segera pergi dari situ karena menurutnya tatapan Arlan itu begitu sangat mengintimidasi setiap orang.
"Buju Buset orang itu ternyata benar sesuai dengan berita yang beredar selama ini kalau dia sebenarnya pria yang arogan dan juga tatapannya itu loh bisa bikin jantung mau lepas, semoga ini kali terakhirnya dia makan di kantin karena jika dirinya Makan tiap hari otomatis sepertinya aku bakalan resign dalam waktu dekat!" Batin wanita itu membuat Bayu yang dari tadi berencana berniat untuk mengintip Kamila takutnya wanita itu kenapa-napa malah menatap heran ke arahnya.
"Mbaknya kenapa seperti baru habis dikejar hantu? Bukannya tadi baru kembali dari ruangannya Pak Arlan terus pasti di dalamnya ada Kamila kan, respon kamunya seperti begitu seolah-olah tadi baru saja ketemu dengan orang yang paling menyeramkan di jagat raya?" tanya Bayu memastikan membuat wanita itu berusaha menetralkan pernapasannya yang tadi salah tercekat di tenggorokannya.
"Pokoknya aku kapok 7 turunan yang namanya mengantarkan makanan untuk pak Arlan, Soalnya bukan Terima kasih yang aku dapat melainkan tatapan dia itu loh yang seperti menyuruh jantung kita untuk Berhenti bekerja!"jawab wanita itu dengan sesekali menoleh ke arah belakang takutnya Arlan muncul sekali-sekali bisa membuat karirnya di tempat itu bakalan berhenti saat itu juga.
"Nah itu dia masalahnya makanya kenapa aku ada di sini soalnya ini memastikan teman baruku itu keadaannya baik-baik saja, terus tadi gimana kamu lihat di dalam ruangannya Pak Arlan kira-kira ada sesuatu yang terjadi atau mungkin seperti dia habis memarahi orang atau berbuat kasar begitu?" tanya Bayu memastikan.
"loh Kamu kenal sama yang namanya Kamila? eh salah tadi Pak Arlan menyuruh saya dan semuanya untuk memanggil dia dengan sebutan Ibu Kamila, karena katanya mulai dari sekarang dia akan menjadi asisten pribadinya jadi otomatis harus memanggilnya Dengan hormat karena dia akan menjadi orang penting di kantor ini!" jelas wanita itu membuat Bayu membulatkan matanya sempurna karena ternyata apa yang ia inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.
"Jadi maksud kamu Kamila bakalan ditempatkan menjadi asisten pribadinya Pak Arlan, Kok bisa ya padahal sok tahu kita semua yang bekerja di sini pak Arlan kan paling anti kalau berdekatan dengan wanita?"tanya Bayu dengan wajahnya yang penuh penasaran.
"Sepertinya kamu kembali bekerja saja tidak usah bertanya banyak tentang pekerjaan orang lain dan juga kamu panggil Ibu Kamila itu dengan sebutan yang lebih sopan sebelum kamu mendapat teguran langsung dari Pak Arlan sekarang mereka berdua lagi sarapan di dalam otomatis Sebentar lagi pasti bakalan keluar untuk meeting dengan klien Jadi kalau kamu masih berlama-lama di sini siap-siap saja bakalan ditendang keluar dari kantor!"wanita itu tidak ingin mencari perkara yang bakalan membuat dirinya kehilangan pekerjaan jadi lebih baik hanya melihat tanpa banyak berkomentar sebab jika dirinya berkomentar itu bakalan menjadi bumerang balik menyerangnya.
Bayu kembali ke kubikelnya dengan langkah yang lunglai sebab ternyata harapannya untuk mendapatkan teman kerja dan juga teman buat bercerita sirna sudah, Lagian dirinya yang merupakan karyawan biasa Mana berani meminta Kamila untuk bekerja di satu divisi dengannya yang ada Arlan bakalan me**ng**l kepalanya Lalu setelah itu mengusir dirinya di jalanan agar jangan kembali lagi.
"Yah padahal tadi kami berdua itu sudah sama cocok untuk dijadikan bestie di tempat ini, soalnya para wanita yang lain tuh mulutnya pada ember sukanya ngegosip terus tebar pesona!" lirih Bayu yang merasa harapannya bakalan sirna sudah karena ternyata Kamila tidak mungkin lagi bakalan bisa satu ruangan dengan dirinya.
Sedangkan Kamila kali ini memaksakan diri untuk makan sebab menurutnya Begitulah nasib menjadi seorang bawahan dan memiliki pemimpin yang tidak ada rasa pengertian, meskipun tadi karyawan sudah mengatakan dalam posisi yang kenyang tetapi tetap saja dipaksa makan dan karena makanan itu adalah sesuatu yang haram untuk dilewatkan dan juga takut mubazir mau tidak mau ya sudah paksakan diri saja.
"ini lama-lama rok yang aku pakai bakalan bisa langsung robek di mana-mana akibat kekenyangan, Lagian ini si kutub Kenapa tidak pengertian sekali sih kalau sebenarnya tadi aku sudah sarapan di rumah?"ujar Kamila dalam hati sedangkan Arlan makan nasi dengan memasang wajah datarnya padahal percaya lagi di dalam hati pria itu telah ditumbuhi ribuan bunga yang sedang bermekaran karena Akhirnya bisa semeja berduaan dengan jantung dalam hatinya.
__ADS_1
"Ternyata benar kata orang kalau jodoh itu tidak akan pernah kemana-mana buktinya Setelah sekian tahun menghindar akhirnya jodohku sendiri datang menghampiriku, dan kalau sudah begini ya aku bakalan genggam marah terus Persetan dengan Angga bakalan melakukan apapun terserah dari dia!"ujar Arlan sekali mencuri pandang ke arah Kamila yang tengah menatap malas ke arah makanannya itu.
"Apa makanannya tidak enak sampai-sampai kamu bereaksi seperti begitu? Kalau memang iya katakan saja nanti aku bakalan memesan dari luar yang sesuai dengan Selera kamu, SSoalnya kalau di sini ya seperti begini sudah apa adanya yang penting intinya dinikmati Jangan hanya dilihat saja seperti begitu Soalnya aku memesan ini pakai uang bukan pakai daun!"ujar Arlan membuat Kamila menatap sinis ke arahnya sebab wanita yang tadi itu tidak menyuruhnya untuk memesan makanan tetapi ini semua atas inisiatif pria itu sendiri.