KETIKA CINTA TERBAGI

KETIKA CINTA TERBAGI
Episode 92


__ADS_3

"kamu mah seperti itu kalau orang lain ngomong kamu cepat sekali untuk menyetujuinya coba kalau aku yang ngomong, jangankan disetujui yang ada pasti kamu bakalan membantahnya terus supaya aku berhenti buat bicara!"sungut Angga tidak terima karena menurutnya Kamila itu selalu menempatkan dirinya di posisi yang paling terakhir di mata wanita itu entah apa kekurangannya sampai-sampai setiap saat Hanya seperti begini saja.


"Jadi ceritanya kamu cemburu sama papa kamu sendiri, Memangnya menurut kamu Kamila itu ada tipe-tipe menyukai pria yang lebih tua begitu? "tanya Mela dengan wajahnya yang mengejek putranya sendiri itu.


"Aishh Mama pernah mengerti apa dengan keinginanku selama ini kan tidak pernah? Yang ada itu setiap kali aku ngomong pasti bakalan dibantah, tetapi kalian itu berbuat seolah aku ini manusia yang tidak punya pikiran tidak tahu ngomong dan alhasil lebih banyak disuruh diam!"Angga mengeluarkan semua unek-unek yang tengah ia rasakan karena jika dirinya diam saja Mana ada orang yang bakalan tahu perasaannya.


Kamila ingin sekali tertawa melihat wajah cemberut milik pria itu sebab menurutnya Angga itu marah tapi tidak pada tempatnya, tidak mungkin dirinya membantah orang yang lebih tua seperti Hero karena itu yang ada sama saja dirinya tidak menghormati pria itu.


Namun Kamila lebih memilih membiarkan Angga sibuk dengan pikirannya sendiri mencurigai hal yang tidak pantas untuk dicurigai, karena nanti kalau capek pasti bakalan berhenti sendiri Masa iya orang tidak gubris terus dirinya malah getol terus melakukannya.


"Ya sudah ayo lebih baik kita istirahat saja nanti kalau ada yang merasa lapar silakan, Nikmati saja makanannya di dapur soalnya Sekarang ya mama sama papa butuhkan itu istirahat!"Mela mengakhiri perdebatan tersebut karena jika tidak bisa dipastikan sampai besok pagi tidak akan pernah kelar karena semua orang pada mau menang sendiri tidak ada yang mau mengalah.


"Nah seperti begini yang bagus kita tidak usah menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu, lebih baik lakukan suatu hal yang berguna buat diri sendiri misalnya istirahat begitu!"Kamila menimpali perkataan Mela tadi sebab memang dirinya juga membutuhkan istirahat saat ini sebab terlalu banyak kejadian yang ia lewati sampai-sampai tidur pun tidak dapat.


Angga Sebenarnya masih ingin ngobrol ngalor ngidul kemana-mana bersama dengan Kamila tetapi ketika dilihatnya wajah kelelahan wanita itu membuat dirinya juga tidak tega, maka dari itu ia memilih untuk mengantarkan Kamila ke kamar tamu agar wanita itu bisa istirahat dengan benar.


"Ayo kamu ikut aku untuk menuju ke kamar yang bakalan kamu tempati, ingat ya Pesan mama tadi kalau kamu merasa lapar meskipun itu sudah tengah malam atau kapan saja kamu telepon aku saja nanti pasti aku bakalan temani kamu!"Angga terlihat seperti seorang pria yang siaga 24 jam eh maksudnya bukan pria Tapi maksud suami.

__ADS_1


"Iya makasih atas tawarannya Tetapi kalau aku kelaparan dia panggilnya Bibi lah, masa iya Aku panggilnya kamu Memangnya kamu bisa memasak sesuatu untukku agar bisa kenyang?"ledek Kamila karena memang sangat mustahil ketika ia kelaparan dipanggilnya Angga Memangnya apa yang bisa pria itu lakukan di dapur.


Angga memasang wajah cemberutnya karena Kamila itu sepertinya tidak tahu bakat Terpendam yang ia punya, nanti Intinya kalau mereka berdua menikah dirinya bakalan menunjukkan skill yang selama ini ia punya tetapi disembunyikan.


Kamila kini sudah berada di kamar tamu yang ditunjukkan oleh Angga tadi dirinya menatap sekitar dan membandingkan dengan kehidupannya di keluarga Nugraha dulu, rumah itu memang terlihat megah dari luar tetapi Percayalah kamar yang ia tempati itu merupakan kamarnya asisten rumah tangga padahal Bima dan Cynthia dipanggilnya Papa dan Mama.


"Aku harus mencari tahu sebenarnya aku ini anaknya siapa dan juga kenapa sampai selama ini aku memanggil mereka orang tuaku, apa ada hal yang disembunyikan dan tidak diinginkan agar aku ketahui?"gumam Kamila monolog sebab menurutnya kalau dirinya merupakan anak Bima dan juga Cynthia pasti mereka tidak akan memperlakukan dirinya layaknya pembantu selama ini.


Kalau mengingat Bima dan Cynthia dalam benak Kamila hanya ada yang namanya kata-kata kasar dan juga penganiayaan yang selalu dilakukan mereka, Apalagi ditambah dengan personil mereka yang satu lagi yaitu Ardila yang lebih parah dari kedua orang tuanya.


setelah Kamila memilih untuk pergi dari rumah tersebut atau bukan pergi sih lebih tepatnya diusir hidup wanita itu sebenarnya berubah drastis, karena tidur tidak ada yang bakalan berteriak saat ia terlambat bangun kemudian kamarnya pun layak untuk ia tempati.


Cynthia tahu kalau Ardila Tengah memendam rasa kecewa yang amat sangat terhadap dirinya, hanya saja dirinya ingin agar wanita itu mengerti Kalau sebenarnya ia rela meninggalkannya seharian hanya karena ingin mencari uang untuk biaya hidup mereka.


"Mama tadi itu sudah beli bubur jadi tolong kamu makan dong meskipun sedikit saja supaya kamu bisa menghargai kerja keras Mama, Tetapi kalau kamu hanya diam seperti begini nanti yang ada kondisi kamu tambah parah Terus Dokternya datang malah terus menyalakan Mama seperti tadi. "pinta Cynthia dengan wajahmu manis terserah Ardila menatap ke arahnya atau tidak.


"Hanya membeli saja merasa capek Terus apa daya kalau misalnya mau masak untukku setiap hari nanti ngomongnya apa coba bukan capek lagi sepertinya tetapi bosan, jadi kalau melakukan sesuatu tidak sepenuh hati lebih baik tidak usah dipaksakan karena aku juga tidak minta Bukannya itu yang mau kamu sendiri?"Ardila sudah tidak peduli lagi dengan Siapa dirinya berbicara sebab menurutnya untuk apa juga menghormati Mamanya itu jika wanita itu tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang anak.

__ADS_1


"kamu itu sakit sih boleh tapi mulut kamu itu juga jangan ikutan sakit dong, Setiap kali buka mulut buat ngomong pasti akhir-akhirnya bakalan mengatakan orang tua yang tidak tidak! jadi anak bisa tidak kamu menghormati orang tua kamu sendiri yang selama ini sudah membesarkan kamu, dan juga merawat kamu sampai segede ini karena tidak mungkin kamu dari kecil merawat diri sendiri kan?" Tanya Sintia yang sudah merasa kesal dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Ardila kepadanya.


"kalian sendiri kan yang mau melahirkan aku ke dunia Memangnya kalian pernah mendengar kalau aku itu minta untuk dilahirkan, jadi jangan menyesal dong mendingan diam saja karena tugas orang tua yang mengurus anaknya karena anak itu tidak pernah minta untuk didatangkan ke dunia yang penuh dengan sengsara seperti begini. "Sintia memilih mengalah meskipun sebenarnya Ardila yang harus diam karena menurutnya wanita itu sedang emosi jadi supaya suasana jangan tambah keruh mendingan yang waras mengalah.


"Ya sudah Mama balik ke kamar dulu kamu tolong makan ya itu buburnya ada di samping meja kamu, soalnya Sepertinya kamu hari ini tidak ingin melihat kehadiran Mama tapi Tenang saja kok Mama tidak akan pergi dari rumah sini soalnya tidak ingin kamu pingsan seperti kemarin!"jelas Cynthia sebelum meninggalkan tempat itu dan lebih memilih untuk mengalah saja deh.


Sepeninggal Chintya, Ardilla mendengus kesal karena menurutnya Mamanya itu sepertinya setengah-setengah hati untuk memperhatikannya, karena jika Cynthia Itu tulus ikhlas memperhatikannya pasti wanita itu biarpun yang marah model bagaimanapun tetap akan berusaha supaya dirinya bisa makan.


"Tidak cocok jadi seorang ibu tetapi terlalu memaksakan diri, pantesan saja tiap hari papa kalau di rumah selalu marah-marah orang punya istrinya saja seperti begitu!"Ketus Ardila lalu memilih untuk melahap habis bubur yang ada di sampingnya soalnya menurutnya emosi itu menguras tenaga Jadi kalau sampai dirinya ingin berdebat dengan Sintia lagi ya makanya lambungnya harus diisi kembali.


Cynthia yang sudah kembali ke kamarnya berusaha menghubungi suaminya yang sudah beberapa hari ini tidak pulang entah apa yang dilakukan di luar sana, Padahal selama ini Bima kalau pergi ada urusan mendadak pasti bakalan selalu mengabarinya agar tidak panik tetapi sekarang jangankan untuk memberi kabar nomor ponselnya saja tidak bisa dihubungi.


"Ini manusia satu ini lari ke mana sih sampai-sampai lepas tanggung jawab terhadap istri dengan anaknya, tahu bahwa keuangan lagi susah tapi main kabur begitu saja memangnya Dia pikir siapa yang bakalan menghasilkan uang?"gerutu Chintya sambil menatap ke arah benda pipih yang sedang ia pegang karena menurutnya benda itu tidak ada kegunaannya sama sekali di saat Genting seperti begini.


Karena panggilannya yang tidak kunjung masuk membuat Sintia memilih untuk membuang ponselnya asal dan naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat, karena kalau sampai dirinya terus-menerus menghubungi Bima tetapi ponsel pria itu tidak aktif yang ada hanya menimbulkan emosi di dalam dirinya.


Bima kini masih bersama dengan Ayla pria itu masih betah dengan selingkuhannya sebab menurutnya Ayla itu lebih perhatian dan pengertian daripada Cynthia, karena istrinya setiap kali mereka bertemu pasti ada saja pertikaian yang terjadi dan hasil ujungnya pasti bakalan dirinya yang harus mengalah terus-menerus.

__ADS_1


Belum lagi dengan keadaan Ardila yang menuntut harus diberikan perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya padahal jelas-jelas wanita itu bukan merupakan anak kandung dari Bima, kalau sekarang papa kandungnya Ardila datang menjemput anak itu otomatis Bima bakalan memberikan dengan 10 jari karena menurutnya untuk apa membesarkan anak yang bukan darah dagingnya karena besar pasti mereka bakalan mencari orang tua kandungnya.


Namun satu yang tidak Bima sadari bahwa semua anak tidak mungkin punya pemikiran seperti begitu, karena mereka pasti bakalan memahami kesusahan orang yang selama ini membesarkan mereka dan juga perhatian yang diberikan yang tidak ia dapatkan dari orang tua kandungnya.


__ADS_2