
Keesokan paginya Ayla menatap heran ke arah pria yang selama seminggu ini tidak kemana-mana, sebab pasalnya sekarang Bima sudah tampil begitu rapi seperti hendak pergi ke suatu tempat.
Terlihat wajahnya begitu tersirat rasa penasaran sebab selama ini ia selalu menyuruh Bima pergi mengunjungi anak istri pria itu agar Cynthia tidak merasa curiga kepadanya, namun Bima selalu menolak sebab katanya dirinya butuh ketenangan tetapi entah mengapa pagi ini tiba-tiba pria itu sudah terlihat sangat rapi.
"Mas Bima mau ke mana? Kok pagi-pagi sudah rapi begitu, apa Mas mau pergi ke kantor untuk mengecek pekerjaan yang selama seminggu ini terbengkalai?" Ayla tidak terpikirkan ke arah Cynthia.
Bima menggelengkan kepalanya karena urusan pekerjaan di kantor ia sudah menempatkan orang kepercayaannya untuk menghandle semuanya, karena dirinya harus mencari pinjaman untuk bisa mendapatkan modal kembali agar semua uang yang selama ini sudah terpakai bisa dikembalikan dengan begitu keuangan perusahaan kembali stabil.
"Mas mau balik ke rumah dulu untuk mengecek keadaan di sana soalnya tidak baik juga kan harus meninggalkan rumah berhari-hari takutnya mereka bakalan curiga, Percayalah Mas kembali bukan karena merindukan mereka atau ingin bertemu dengan mereka melainkan hanya ingin memastikan rumah dalam keadaan baik-baik saja!"jelas Bima membuat Ayla masih mengerutkan keningnya karena merasa bingung.
"Bukan seperti itu juga kan Mas, kalau memang kamu mau ke sana memastikan keadaan anak istri kamu aku juga tidak pernah permasalahan karena memang itu merupakan tanggung jawab kamu! Posisiku di sini itu harusnya membuat aku sadar kalau tidak bisa menuntut lebih dari hubungan ini, karena aku tidak ingin kehadiranku membuat kamu melupakan sesuatu yang harusnya tidak boleh kamu lupakan!"jelas Ayla sebab menurutnya sudah kapok berurusan dengan yang namanya polisi ataupun sebagainya akibat dulu memakai kekerasan ketika mengetahui kalau suaminya ternyata selingkuh.
Wanita itu melabrak pelakor bahkan tidak main-main menghajar simpanan suaminya itu dengan begitu brutal, sebab menurutnya rasa sakit akibat fisik itu suatu saat pasti akan sembuh tetapi rasa sakit akibat pengkhianatan Percayalah akan dibawa mati.
Bima tersenyum karena dirinya sangat menyukai sikap Ayla yang terlihat begitu berbesar hati ketika mengikhlaskan dirinya pergi tidak ada wajah cemberut dari wanita itu karena memang posisi mereka berdua ini tidak sama-sama menguntungkan sebab Bima masih memiliki istri sah dan juga tanggung jawab.
"Terima kasih karena pengertiannya selalu kamu berikan untuk sampai-sampai membuat Mas lupa kalau sebenarnya di luaran sana masih punya istri dan juga anak!"ujar Bima sambil mengecup pelan kening Ayla lalu pamit untuk pergi.
Sepeninggal Bima terlihat Ayla memasang senyum Devil ke arah mobil pria itu yang sudah semakin menghilang, wanita itu mengepalkan tangannya akibat dari tadi bermain peran yang begitu hebat padahal sebenarnya ia merasa muak.
"Secara perlahan aku bakalan membuat kamu menjauh dengan wanita yang sudah mempengaruhi kamu agar keluargaku hancur, Sudah lama aku bersembunyi sampai-sampai tidak sempat-sempatnya membantu Putriku yang kalian tindas! Akan tetapi Percayalah masa dimana kehancuran kalian sudah semakin di depan mata, dan ketika perusahaan yang telah kalian rebut itu berhasil aku dapatkan maka di saat itulah aku bakal menunjukkan siapa aku!"ujar Ayla yang benar-benar harus pura-pura bersikap sangat baik ketika berhadapan dengan Bima karena kita tidak pria itu pasti bakalan mencurigai.
"kamu sudah melakukan seperti yang aku katakan kepada kamu kemarin kan, yaitu menyindir wanita itu habis-habisan karena sudah tidak becus menjaga anaknya? Sebab dengan begitu wanita itu pasti bakalan frustasi karena menjadi wanita rumahan yang tidak bisa kemana-mana, karena aku tahu kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja dan dia harus menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang!"tanya Ayla kepada seseorang di seberang.
"Tepat seperti dugaan kamu kalau kemarin dia menghubungiku untuk memeriksa kondisi anaknya dan kamu tenang saja aku sudah mengatakan seperti yang kamu suruh, Percayalah wajah wanita itu benar-benar merasa tidak enak kepadaku dan hal itu pasti bakalan ia pikirkan selama beberapa hari ke depan!"sahut orang di seberang membuat Ayla tersenyum penuh kemenangan.
Ayolah mematikan panggilan tersebut karena sudah mendengar apa yang harusnya ia dengar, meskipun terdengar sangat tidak manusiawi tapi ia tidak pernah ingin melenyapkan nyawa seseorang tidak seperti yang dilakukan oleh Bima dan Sintia dulu.
__ADS_1
Kedua manusia itu bahkan tega menghabisi dirinya dan juga suami melalui kecelakaan namun untung juga sang suami cepat tanggap dan mendorong dirinya, sehingga yang terbakar bersama mobil hanyalah suami tercinta sedangkan dirinya hanya bisa menatap nanar Kepulan asap tersebut.
"Kamu tenang saja mas kali ini aku bakalan membalaskan dendam kita, dan aku juga minta maaf kepada kamu karena tidak bisa membantu Putri kita selama ini Padahal dia begitu tersiksa!"gumam Ayla lirih.
Bima sebenarnya enggan untuk mengecek keadaan Sintia dan juga Ardilla, Hanya saja dirinya merasa harus ke sana karena surat-surat rumah dan surat-surat penting lainnya berada di situ takutnya Sintia bakalan salah gunakan.
Karena Wanita itu jika tidak mempunyai apapun yang bisa ia gunakan agar menghasilkan uang takutnya jika berpikiran pendek maka rumah satu-satu yang ia punya bakalan habis, maka dari itu dirinya harus mewaspadai dari awal takutnya jangan sampai suatu saat pikiran Cynthia beralih.
Sesampainya di sana terlihat mobil Chyntia masih terparkir sempurna di Garasi, membuat dirinya yakin jika wanita itu berada di rumah dan tidak pergi kemana-mana semalam.
Bima terlihat santai saja saat masuk ke dalam rumah seolah tidak ada masalahnya ketika dirinya tidak pulang selama seminggu lebih, sebab menurutmu tidak ada satupun orang dalam rumah tersebut yang berhak untuk menasehatinya karena mereka saja tidak ingin dinasehati oleh dirinya.
Cynthia yang baru keluar dari kamarnya hendak memeriksa keadaan Ardila menatap heran ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam rumah dan terlihat begitu sampai seolah tidak punya salah, wanita itu lalu berdiri bersedekap sambil memasang tatapan tajamnya ke arah orang yang baru saja masuk itu seperti sedang mengajaknya berperang.
"Masih ingat kalau punya rumah? Masih ingat juga kalau punya istri dan anak yang merupakan tanggung jawab, aku pikir kamu sudah mati jadinya baru datang sekarang karena baru bangkit?"tanya Cynthia dengan tatapan sinisnya tetapi Bima tidak menghiraukan sama sekali karena pria itu memilih untuk masuk ke dalam ruang kerjanya guna mengambil berkas-berkas yang ia simpan.
Cynthia yang merasa diabaikan seperti begitu tentu saja merasa tidak terima dan langsung mengikuti Bima dari belakang dan menarik kuat baju pria itu sehingga membuat Bima menghentikan langkah kakinya , , tatapan tajam tentu saja diberikan oleh Bima kepada Sintia sebab menurutnya Wanita itu sudah sangat tidak sopan karena hampir saja mencelakainya.
"Istri bakalan memperlakukan suaminya dengan baik Kalau suaminya itu memperlakukan istrinya dengan baik pula, tetapi suami seperti kamu ini yang tidak punya rasa tanggung jawab Memangnya layak mendapatkan semua itu?"tanya Cynthia yang tidak mau kalah bahkan kini nada bicara Wanita itu sudah lebih tinggi satu oktaf dari Bima.
Bima tidak terima ketika harga dirinya sebagai seorang kepala rumah tangga diinjak-injak seperti yang dilakukan oleh Cynthia saat ini, pria itu pun berdiri menantang Cynthia dengan tatapan nyalanya karena ingin menyiratkan jika wanita itu tidak Diam jangan menyesal dirinya nekat.
"Bisa tidak orang baru datang itu jangan langsung diajak ribut seperti begini, Apa kamu tidak malu dengan tetangga yang lain yang setiap hari saja mendengar suara kamu?"tanya Bima yang sudah tidak bisa emosinya.
"Aku Bukan suruh kamu jangan pulang ke rumah selama ini Jadi untuk apa aku mempermasalahkan kamu yang baru datang, terus untuk apa juga aku harus memikirkan perkataan para Tetangga karena biarkan saja mereka tahu kalau kamu itu suami yang tidak berguna?"ujar Sintia.
"Aku capek Aku mau istirahat di ruang kerjaku dan jangan ada yang pernah masuk ke dalam untuk mengganggu, Apalagi itu orangnya adalah kamu yang jelas-jelas sangat aku tolak untuk masuk ke dalam ruangan tersebut!"Cynthia menatap tak percaya sebab menurutnya Bima sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Aku ini istri kamu jadi di rumah ini aku berhak untuk masuk ke ruangan mana saja termasuk ruang kerja kamu, Lagian Apa sih yang kamu sembunyikan di dalam sampai-sampai aku tidak boleh masuk sama sekali?" Tanya Chyntia.
Bima mengepalkan tangannya menahan emosi sebab menurutnya Cynthia sebagai seorang istri tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang suami, padahal jelas-jelas seorang kepala keluarga itu harus dihargai apapun kondisinya dan juga apapun posisinya untuk saat ini.
Cynthia tidak pernah mencerminkan sikap seorang istri yang berbakti kepada suaminya, karena terbukti selama ini wanita itu selalu menginginkan agar Bima yang mengikutinya bukan dirinya yang mengikuti Bima.
"sebelum kesabaranku habis dan aku melakukan kekerasan kepada kamu lebih baik keluar dari ruanganku sekarang, aku masih berbicara dengan posisi sadar dan juga belum menggunakan tangan tetapi kalau kamu mau aku bakalan memberikan untuk kamu saat ini juga!" Tegas Bima.
"kamu kenapa berani mengancamku untuk saat ini terus kemarin-kemarin kamu ke mana saja, Apa sekarang kamu sudah punya kekuatan di luar Jadi bisa melakukan hal padaku agar aku meninggalkan kamu dan kamu cari yang baru? "tanya Sintia penuh selidik sebab selama ini Bima tidak pernah berkata pasar apalagi mengancamnya seperti yang pria itu lakukan.
"Aku muak punya istri yang susah diatur! Yang aku inginkan adalah Posisiku di sini sebagai kepala keluarga itu dihargai, bukan malah sekarang kebalikannya kamu yang ingin aku menghargai kamu sedangkan kamu tidak pernah melakukan hal itu!"tegas Bima membuat Sintia memicingkan matanya tidak percaya dengan perubahan suaminya Padahal baru seminggu lebih tidak pulang bagaimana kalau sebulan pria itu tidak pulang antar Nanti Bagaimana sikap responsifnya itu.
"Baiklah kalau memang kamu tidak mau aku cerewet ataupun marah-marah cepat berikan aku uang belanja soalnya selama beberapa bulan ini tidak pernah kamu berikan, karena aku yakin saat kamu pergi dari rumah pasti kamu sedang mencari uang kan bukan bersenang-senang di luar sana?"Cynthia mengatakan hal itu sambil menadahkan kedua tangannya memberikan isyarat agar pria itu segera memberikannya uang tanpa menunggu lama.
"kenapa aku harus memberikan kamu uang sedangkan kewajiban kamu sebagai seorang istri saja tidak pernah kamu laksanakan, Terus kalau aku memberikan kalian uang Memangnya mau digunakan untuk apa? "Bima bukan pria bodoh yang mau saja diatur oleh Cynthia belakangan sebab menurutnya wanita itu sudah cukup berpuasa kini saatnya dirinya yang menentukan arah pemikiran semua orang di dalam rumah tersebut.
Ardila sebenarnya mendengar keributan di lantai bawah dan ia yakini itu pasti Papa dan Mamanya yang sedang bertengkar, ingin sekali Ia turun dan menghentikan segala tingkah konyol mereka yang hanya membuat pusing tetapi sama saja tubuhnya sedang tidak bisa diajak kompromi.
"Pokoknya aku bilang cepat kasih aku uang buat belanja karena aku butuh uang untuk hidup bukan hanya mendengar kata-kata kamu itu saja, kalau ngomong banyak sih tidak masalah tetapi ada buktinya boleh tetapi kalau hanya omong kosong doang ya percuma!"ujar Sintia yang masih tetap pada pendiriannya bahwa Bima harus memberikan nafkah karena posisi pria itu masih sah sebagai suaminya.
"sekarang kalau aku memegang uang satu triliun pun tidak akan aku berikan kepada wanita seperti kamu, Bukankah sudah Cukup selama ini aku memberikan kamu nafkah Jadi kenapa tidak sekarang giliran kamu yang mencari uang? Sebab menurutku mau berapa banyak uang yang aku berikan pasti bagi kamu tidak akan pernah cukup dengan kebiasaan gila kamu itu, jadi lebih baik sekarang jangan menurutku untuk memberikan apapun karena sudah akhir dan tidak akan pernah bisa berlanjut lagi!"Bima bukan tidak punya uang hanya saja dirinya harus perhitungan tidak mungkin harus menumpang makan kepada Ayla saja dan tidak memberikan sepeserpun kepada wanita itu untuk menjadi uang belanjanya .
"kamu itu Pria yang tidak berguna Aku menyesal menikah dengan kamu, lebih baik kamu keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi sebelum membawa uang yang banyak!"teriak Cynthia sambil berusaha menyeret Bima agar keluar dari ruangannya tersebut.
Plak
Plak
__ADS_1
Bima menampar keras pipi kiri dan kanan milik Sintia Itu sebab menurutnya Wanita itu sudah sangat kurang ajar karena bisa-bisanya hendak menyeretnya keluar, meskipun ia tidak memberikan nafkah tetapi selama ini dirinya selalu bertanggung jawab setidaknya wanita itu harus pengertian dengan kondisi keuangan mereka.
Chyntia langsung menghentikan kegiatannya yang berusaha menarik Bima agar keluar dan wanita itu malah memegang kedua pipinya yang terasa begitu kebas, Bagaimana tidak tangan sebesar Bima itu melakukan dengan tenaga yang penuh pasti akhirnya bakalan memar dan membiru.