Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Cinta Yang Layu


__ADS_3

Aslan, Adi, dan Alvin baru saja mengumpulkan bukti-bukti kuat untuk menangkap si pelaku. Dari CCTV rumah sakit, pengakuan penjaga kantin, beberapa saksi kuat, dan orang yang campur tangan dengan kasus tersebut sudah ditelusuri dan hasilnya mengarah ke orang sama.


Satu hari penuh Aslan, Adi, dan Alvin menangani kasus terkait celakanya Rania. Hingga kini, petang telah berganti siang. Tuan Harsa, kedua orang tua Rania, dan Shaka masih berjaga menunggu Rania sadar. Rania sendiri sudah dipindah ke kamar inap bersebelahan dengan Morgan meski masih harus dipasang alat-alat khusus dan penjagaan ekstra.


Tuan Harsa juga sudah tahu jika Morgan masih hidup semenjak semalam diberi kabar palsu jika Shaka berada di rumah sakit. Memang tak bohong, nyatanya Shaka benar-benar di rumah sakit. Hanya saja bukan Shaka yang tengah dirawat melainkan Morgan.


Nahasnya, baru saja sampai di rumah sakit dan berbahagia mengetahui si bungsu masih hidup. Tuan Harsa sudah disuguhi kabar buruk lagi tentang Rania yang tengah kritis.


"Pa, kenapa Rania belum sadar juga?" isak nyonya Irene yang langsung dipeluk oleh tuan Yudi.


"Sabar, Ma. Rania itu wanita yang kuat," ucap tuan Yudi. Meski jauh dalam lubuk hatinya, ayah yang berwatak cuek itu lebih khawatir dan lebih sakit melihat keadaan putrinya lemah tak berdaya di atas ranjang pasien.


"Pa, Ma. Aku sungguh minta maaf karena tak bisa menjaga istriku dengan baik. Aku juga minta maaf karena aku gagal menjadi suami yang baik." Shaka mencium tangan nyonya Irene penuh penghayatan. Sungguh, kali ini Shaka merasa suami paling payah di dunia.


"Tidak, Nak. Itu tak benar, peristiwa ini sudah menjadi garis yang Tuhan takdirkan untuk rumah tangga kalian. Jangan menyalahkan diri seperti ini. Suami yang baik akan selalu mencoba memberikan yang terbaik untuk istrinya," jawab tuan Yudi sembari menepuk punggung Shaka.


"Terimakasih, aku pasti akan segera menemukan pelakunya." Shaka beralih menatap Rania yang masih damai dengan tidurnya. Lantas, Shaka mendekati Rania lalu mengecup keningnya.


"Lekas bangun, Sayang. Aku merindukan sinar matamu, aku rindu semua tentangmu. Bangunlah, kasihani aku yang payah ini, Sayang," lirih Shaka diiringi tetesan air mata yang jatuh di pipi pucat Rania.

__ADS_1


Di waktu bersamaan, Adi menemui Shaka dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Shaka. Tatapan mata Shaka berubah tajam dan nyalang.


"Sayang, aku pergi dulu, ya? Kamu baik-baik di sini, aku akan segera kembali. Aku mencintaimu." Shaka mencium bibir Rania sekilas lalu menitipkan Rania ke nyonya Irene karena tuan Yudi tengah mengurus pertemuan dengan klien.


"Hati-hati, Nak. Jangan gegabah, itu saja pesan Mama," ucap nyonya Irene melepas kepergian Shaka yang dibalas anggukan oleh Adi karena Shaka sudah lebih dulu pergi.


Sedang di sebelah kamar Rania, Morgan tengah menatap kosong langit-langit kamar tersebut. Ditemani tuan Harsa, keadaan Morgan semakin membaik. Otak Morgan berpikir cepat tentang identitas asli orang yang menculiknya yang mengaku memiliki dendam kesumat dengan Shaka.


"Tak mungkin dia tak ada masalah denganku. Aku yakin, dia memiliki motif lain selain dendam dengan kak Shaka. Tapi siapa dia?" gumam Morgan lirih namun masih terdengar oleh telinga tuan Harsa.


"Jangan terlalu dipaksakan untuk berpikir, Nak. Kamu mesti banyak istirahat. Semua masalah sedang ditangani orang-orang kepercayaan Papa dan Kakakmu," sahut tuan Harsa bijak.


"Baik, tapi tunggu sampai dia sadar dulu. Kamu tahu sendiri, dia sudah bukan istrimu."


"Baiklah, Pa. Aku mengerti." tatapan Morgan kembali sendu dan sayu, setiap mengingat hubungannya dengan Rania telah berakhir.


Ya, mau bagaimana pun juga Morgan telah meninggalkan Rania selama tiga tahun lamanya. Tak mungkin Rania setia menunggu hingga Morgan kembali, sedangkan yang Rania tahu Morgan telah meninggal dunia.


Perjuangannya mencoba kabur yang selalu berujung siksaan hanyalah demi Rania. Tapi sayang, yang dia perjuangkan bukan lagi menjadi hak miliknya.

__ADS_1


Hai, readers!


Semoga kalian masih setia menunggu cerita aku yang selalu amburadul ini.


Bolehkah aku bercerita sedikit ... saja tentang mengapa aku jeda nulis dalam waktu yang lama.


Jujurly, aku ada salah paham dengan salah satu saudara aku. Di sini, aku yang jadi tersangka salahnya. Padahal, yang aku katakan pada mereka adalah kebenaran. Tapi mereka marah dan nggak terima.


Mereka, orang yang "senggol, bacok!"


Aku diperlakukan seperti orang yang sangat hina oleh mereka.


Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam lagi. Aku yang paling hancur di sini karena bertahun-tahun memendam luka yang sangat dalam akibat ulah mereka. Tapi aku diam, karena aku masih memandang mereka sebagai keluarga. Karena aku merasa aku ini orang nggak punya dan lebih rendah dari mereka.


Tapi sejak kejadian kemarin, aku paham. Aku bukan keluarga di mata mereka. Dan aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan, karena Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk umat-Nya.


Mentalku down bener-bener down. Tidur susah, makan nggak enak, mual, deg-degan tiap ingat bentakan-bentakan mereka, acungan-acungan mereka. Pokoknya, aku bleng nggak bisa mikir apa-apa.


Aku nulis ini karena aku nggak tahu, lewat apa biar aku bisa ngungkapin semua yang terlalu sesak untuk aku pendam ini. Aku butuh pelampiasan, aku butuh teman curhat yang bisa dipercaya. Dan aku pilih kalian, yang udah setia nunggu cerita demi cerita aku.

__ADS_1


Love you♥️


__ADS_2