
Satu jam berlalu, seorang suster keluar dari ruangan ICU tersebut. Shaka bergegas mendekati suster, dan lalu menanyakan kondisi Nyonya Marsya.
"Biar dokter yang menjelaskan ya, Tuan. Saya permisi," pamit suster tersenyum ramah.
Shaka menyugar rambutnya kasar. Entah mengapa, melihat wajah pucat nyonya Marsya membuat Shaka yakin bahwa wanita tua tersebut memang benar-benar sakit. Tapi tentang keinginan wanita itu, ah ... sungguh membuat Shaka frustasi.
Tak berselang lama kemudian, dokter keluar lalu menutup pintu ICU pelan. Shaka bergegas mendekati dokter lalu bertanya tentang kondisi ibunya.
"Nyonya Marsya terkena diabetes tipe 2, dan saat ini kadar gula dalam tubuhnya sudah mencapai angka tertinggi. Dan juga, pasien memiliki riwayat penyakit jantung. Mohon maaf dengan berat hati, saya hanya bisa menghimbau kepada keluarga supaya memasrahkan semuanya kepada Tuhan ..." ucap dokter dengan raut wajah lemas.
"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkan ibu saya, Dok?"
"Sayangnya tidak. Pada dasarnya, diabetes adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Si penderita sendiri yang bisa mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Selain itu, faktor beban pikiran juga bisa membuat kadar gula darah dalam tubuh naik. Sayangnya, kadar gula dalam tubuh nyonya Marsya telah mencapai angka high, yang artinya sangat tinggi. Untuk sementara, kami hanya bisa memberi suntikan insulin saja. Semoga bisa bekerja," terang dokter panjang lebar.
"Apa saya boleh masuk, Dok?"
"Boleh, tapi tolong jaga ketenangan pasien. Saya permisi."
Setelah dokter berlalu, Shaka bergegas memasuki ruangan tersebut. Perlahan, Shaka mendekati Nyonya Marsya yang terbaring lemah di ranjang pasien.
"Ma ... maafkan aku. Aku memang anak durhaka," isak Shaka, bersimpuh tepat di samping ranjang ibunya.
"Tolong, bukalah mata Mama. Jangan hukum aku seperti ini, Ma. Sadarlah ... aku ingin meminta maaf," tangan kurus nan dingin yang sedang Shaka genggam tiba-tiba bergerak. Shaka terkejut, ia menegakkan tubuhnya lalu berdiri. Mengamati sang ibu, kalau-kalau benar wanita itu telah membuka mata.
Dan benar saja, mata yang terpejam telah terbuka meski masih sayup.
__ADS_1
"Ma ... Mama sudah sadar. Aku panggil dokter dulu," ketika Shaka hendak pergi, Nyonya Marsya menahannya untuk tidak pergi dengan menggenggam erat tangan Shaka.
"Kenapa, Ma?" tanya Shaka heran.
"Nikahi ... Aina, Nak ..." lirih Nyonya Marsya lemah, sangat lemah.
"Ma ..." Shaka hendak protes, tapi melihat air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata Nyonya Marsya, Shaka mengurungkan niatnya.
"Anggap saja, ini permintaan terakhir Mama, Nak," Nyonya Marsya meringis merasakan nyeri di ulu hati. Dengan kadar gula yang sudah mencapai angka high ini juga membuat penglihatan Nyonya Marsya kabur.
"Baik, tapi aku menikahi Aina bukan karena anak. Tapi demi baktiku kepadamu," ucap Shaka menatap kosong wanita tua di depannya. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan.
Aina yang sedang berdiri di belakang Shaka bersorak kegirangan. Jika kalian bertanya, mengapa perempuan itu bisa ada di rumah sakit itu? Maka ... ini ceritanya.
Pagi itu, Aina sangat malu semalu-malunya akan hinaan Shaka, sang pujaan hati. Karena malunya itu, Aina tak sampai hati bercerita kepada ibunda. Akhirnya, ia berpikir keras bagaimana cara mendapatkan Shaka, walau tanpa cinta sekalipun. Buta? Iya, dia dibutakan oleh cinta, cemburu, dan api kemarahan yang menggebu. Gila? Iya, dia gila karena orang yang dia cintai belasan tahun malah menjadi milik orang lain. So ... selama bertahun-tahun dia cuma jagain jodoh orang doang.
Maka, di sinilah Aina berada. Di Mansion keluarga Pradikta, di mana Tuan Besar masih mengunjungi putranya di negara lain.
Aina bahkan meninggalkan tugasnya sebagai seorang dokter, tanpa surat cuti atau hanya sekedar pamit, apalagi surat cinta ...
Aina duduk di sofa panjang berwarna putih abu di ruang tamu. Menunggu Nyonya Besar datang, Aina mengamati seluruh penjuru ruangan tersebut. Ruangan yang penuh akan foto keluarga, terutama foto Shaka dan Morgan, mulai dari mereka masih bayi sampai mereka dewasa.
Suara langkah seseorang berhasil menghentikan kegiatan Aina. Aina tersenyum manis menyambut Nyonya Marsya, begitu pula dengan Nyonya Marsya yang menyambut hangat kedatangan Aina.
"Tante, apa kabar?" tanya Aina mencium punggung tangan Nyonya Marsya.
__ADS_1
"Sedang agak tidak baik, Nak. Ada apa kamu datang kemari? Ah, maksudku tumben kamu datang ke sini. Pasti ada sesuatu bukan?" sangat mudah membaca pikiran Aina, meski hanya dilihat dari gelagatnya.
"Tidak baik? Apa yang Tante rasakan? Pusing, mual, atau nyeri sendi?" tanya Aina beruntun. Nyonya Marsya terkekeh.
"Ini yang membuat Tante ingin sekali miliki menantu seorang Dokter. Dengan mengeluh saja sudah diperhatikan sedemikian rupa. Tante merasa gemetar, lemas, pandangan kabur, nyeri di seluruh tubuh, dan ... ah, sangat sakit, Nak," Nyonya Marsya mendudukkan tubuhnya di sofa empuk miliknya.
"Kita ke rumah sakit saja, ya?" Aina mengecek denyut nadi Nyonya Marsya, dan benar saja, sangat lemah.
"Baiklah."
Sesampainya di rumah sakit, Aina membeli air mineral terlebih dahulu, membiarkan Nyonya Marsya masuk rumah sakit sendiri. Karena Nyonya Marsya sudah menjadi pasien aktif, memudahkan Nyonya Marsya masuk ke ruang pemeriksaan tanpa melakukan pendaftaran berkali-kali. Karena biasanya, itu adalah tugas Alvin. Namun, kali ini Alvin tidak mengantar majikannya karena sedang menemani sang Tuan Besar ke negara X.
Akan tetapi, Nyonya Marsya jatuh pingsan sebelum melakukan pemeriksaan apapun. Dan berakhir di ICU.
Dan saat itu, Aina yang sedang menunggu Nyonya Marsya terkejut melihat calon mertuanya dibawa ke ruang ICU dalam keadaan tidak sadar. Reflek, Aina berpikir menghubungi Shaka menggunakan telepon rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Nyonya Marsya telah sadarkan diri dan orang pertama yang ia lihat adalah Aina.
"Ain ..." ucap Nyonya Marsya lirih.
"Terimakasih, telah menemani Tante ke sini. Tante sangat bahagia ketika kamu bersedia menjadi istri kedua Shaka,"
Wajah Aina berbinar kala mendengar oerkataan Nyonya Marsya.
"Apa aku boleh melanjutkan misiku, Tan?" tsnya Aina dengan hati-hati.
__ADS_1
"Boleh, Tante akan sangat bahagia jika pernikahan itu terjadi,"
TBC_