Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Talak aku!


__ADS_3

Tiga hari pasca dirawat di rumah sakit, keadaan Morgan semakin memburuk. Seluruh tubuhnya penuh dengan peralatan medis yang kata orang, membantunya menyambung nyawa.


Dan ditiga hari inilah, Rania tak pernah absen mengunjungi suami kasarnya ini. Karena, di lubuk hati yang terdalam, Rania masih sangat mencintai Morgan. Namun, Rania tetap dengan pendiriannya untuk menggugat cerai Morgan. Bahkan, Aslan pun turut membantu melancarkan rencananya.


Dan rencananya, surat panggilan sidang itu akan Rania berikan setelah Morgan benar-benar pulih.


Hari ini, hari ke-empat Morgan berada di rumah sakit. Pagi ini, Rania dengan telaten membersihkan tubuh Morgan dengan waslap dan air hangat yang telah disediakan Suster.


"Sayang, terimakasih karena hingga saat ini, kamu masih setia berada di sisiku," ucap Morgan lirih.


"Itu sudah kewajibanku, Mas. Kamu tak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting. Fokus dengan kesembuhanmu, itu jauh lebih baik," ucap Rania yang masih setia membersihkan tubuh suaminya.


"Aku mencintaimu, Sayang," Morgan menggenggam tangan Rania, dan setelah itu Morgan memberi kecupan singkat di punggung tangan Rania.


Rania berusaha untuk bersikap sewajarnya demi kelangsungan rencananya. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Morgan.


Ceklek.


Pintu terbuka dari luar. Ternyata, Shaka datang dengan membawakan makanan kesukaan Morgan.


"Mor, bagaimana keadaanmu?" tanya Shaka, sambil meletakkan barang bawaannya di atas nakas.


Morgan diam menanggapi. Bagaimanapun juga, Morgan masih memendam api kemarahan dalam hatinya untuk Shaka. Karena Kakaknya ini telah berani membawa Istrinya pergi, di hari di mana dia dan Rania bertengkar hebat, yang juga karena Shaka sebagai penyebab pertengkarannya.


Shaka tersenyum kecut. Dia bisa memaklumi hal ini. Sedangkan Rania, dia segera membuang air bekas bilasan Morgan ke toilet.


Setelah membuang air tersebut, Rania sengaja menghindari percakapan kakak beradik tersebut dengan duduk di luar sambil berselancar di dunia halu. Ternyata pendapatan semakin meningkat. Meski dirundung masalah, Rania tetap menulis cerita yang idenya dia dapat dari perjalanan hidupnya sendiri.


Dia juga menyempatkan untuk menghubungi Fatma. Ngomong-ngomong dengan Fatma, Rania sudah mengucapkan bela sungkawa melalui telepon. Dan rencananya, setelah semua urusannya selesai, Rania akan berkunjung ke Makam ayah Fatma.


Fatma begitu pengertian. Berkat kerja kerasnya, kini usaha Rania untuk mendirikan sebuah konveksi telah terwujud. Rania hanya sebagai penyuntik dana, Fatma sebagai pelaku usahanya. Kini, ruko itu telah dihuni empat karyawan konveksi dan lima anak jalanan sebagai pembuat hiasan rumah.

__ADS_1


Semua hasil karya mereka terpajang rapi di dalam ruko yang sudah sulap menjadi sedemikian rupa, untuk memikat para pembeli. Hanya saja, Rania belum bisa meresmikan usahanya. Karena situasi yang terjadi belakangan ini.


Setelah selesai dengan urusannya, Rania kembali memasuki kamar VVIP itu dengan perasaan campur aduk. Namun, ketika pintu belum sempat terbuka. Terdengar percakapan Shaka dan Morgan yang tak sangat jelas terdengar.


"Mor, aku telah berusaha untuk melupakan Rania. Dan dia, sama sekali tak tahu menahu tentang perasaanku. Apalagi yang kau pikirkan?" tanya Shaka.


"Lalu, aku harus menerima begitu saja setelah kalian pergi berdua ke rumah itu?" sergah Morgan.


"Mor! Sudah kukatakan, aku hanya mengantar Rania, tak lebih. Dengar! Dengan sikapmu yang seperti ini, aku yakin kamu tak mencintai Rania dengan tulus,"


Morgan membelalak.


"Tahu apa kau soal perasaanku, hah?" tanya Morgan sembari tersenyum miring.


"Mencintai dengan tulus itu bukan hanya sekedar hangat di ranjang, Mor. Tapi juga saling mengerti satu sama lain dan yang terpenting saling percaya," jelas Shaka.


Rania masih mendengarkan dengan seksama percakapan kakak beradik itu.


Ting! Ting!


Ponsel Rania berdering.


"Ya, Ma. Ada apa?"


'Sayang, ngapain kamu menemui laki-laki kasar itu lagi? Pulanglah, Nak'


"Ijinkan aku merawatnya hingga dia sembuh, Ma. Aku ingin mengabdi kepadanya meski ini adalah detik-detik terakhir kebersamaan kami," ucap Rania sendu.


'Baiklah, kalau itu memang maumu. Mama hanya berpesan, kau perlu menjaga hatimu agar tak terluka lagi, Nak. Kau berhak bahagia,'


Setelah mengatakan itu, ponsel terputus. Rania kembali ke tujuan awal. Perlahan dia membuka pintu kamar itu. Terlihat Shaka sedang duduk di sofa, sambil menyandarkan kepalanya ke belakang.

__ADS_1


"Mau minum, Mas?" tanya Rania kepada Morgan dengan wajah datar.


"Tidak, kamu cukup di sini, temani aku," jawab Morgan menatap lekat mata Rania.


"Tapi, aku tidak bisa menemanimu sampai sore. Aku harus ke ruko untuk persiapan peresmian besok," ucap Rania dingin.


"Baiklah, kalau begitu cium aku dulu, baru aku izinkan," ucap Morgan sambil menyodorkan pipinya.


Rania membelalakkan matanya. Mana sudi ia mencium laki-laki yang telah menyiksa lahir dan batinnya.


"Nanti saja, ya. Aku telepon Fatma dulu," Rania memalingkan wajahnya.


"Kamu menghindariku?!" sentak Morgan. Sontak Rania terkejut. Setelah itu, dia menormalkan detak jantungnya, setelah itu dia angkat bicara.


"Terus gimana? Aku langsung nyosor, gitu? Ingat, Mas. Kemarin aku hampir menyerahkan mahkotaku, tapi apa? Kamu menuduhku dengan kata-kata menjijikkan itu lagi, kan? Wajar aku masih trauma, wajar aku sulit menghapus bayangan-bayangan waktu-" Rania tak berani melanjutkan ucapannya. Sadar, orang yang bersangkutan berada dalam ruangan itu.


Shaka melirik Rania tajam. Dia langsung memahami akar masalah dari kejadian kemarin. Dia menggelengkan kepalanya.


"Laki-laki yang mencintai perempuan dengan tulus, akan menerima apapun keadaan perempuan itu. Masih suci atau tidak, itu bukan menjadi penghalang bagi laki-laki untuk menghalalkan perempuan pilihannya" _Shaka.


"Cih! Sudah nggak perawan, ngakunya segelan. Sok suci kamu!" seru Morgan sambil mengepalkan tangannya.


"Iya! Aku memang tak se-suci dirimu, Mas. Ah, aku lupa. Kamu bahkan tak pernah bersentuhan dengan perempuan lain selain dengan Ibumu," Rania tetap berusaha tersenyum.


"Mana pantas aku bersanding dengan laki-laki sepertimu. Maka dari itu, talak aku, sekarang juga!" ucap Rania penuh penekanan dan dengan sorot mata tajam.


Shaka terhenyak. Begitu pula Morgan.


"Beraninya kamu?!" pekik Morgan dengan mata nyalang seperti hendak menebas orang yang berada di depannya.


Tanpa menjawab, Rania langsung berlari keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan linangan air mata yang tak terbendung lagi.

__ADS_1


__ADS_2