
Semenjak Tuan Amran disekap di dalam gua, sang istri tiada bosan menjenguk dan mengobati. Dan itu tak luput dari berkat Rania. Rania yang memohon kepada Shaka supaya Nyonya Amran diberi izin untuk menjenguk suaminya.
Meski begitu, Shaka tetap awas dan waspada. Beberapa bodyguard mengawasi ketat, baik dalam maupun luar gua.
Saat ini, Tuan Amran menderita depresi berat karena ketakutan luar biasa. Gangguan alam ghaib ataupun gangguan binatang buas yang bersarang di gua itulah yang menjadi teman tinggal Tuan Amran. Sehingga, pria kejam tersebut menderita ketakutan luar biasa sampai halusinasi.
Hari ini tepat kehamilan Rania berusia 9 bulan. Dan sampai saat ini, Rania belum tahu bahwa Fatma turut andil dalam peristiwa keracunan itu. Yang Rania tahu, Fatma tengah mengejar cita-citanya di Paris untuk menjadi seorang designer internasional.
Fatma sendiri masih setia tinggal di Hotel Prodeo. Menyesali perbuatannya, merutuki kebodohannya, dan belajar memperbaiki dirinya. Itu yang dia lakukan selama berada di tempat tersebut. Tak jarang, ibunya datang menjenguk dan memberi wejangan, serta memberi semangat untuk Fatma.
Seperti siang ini, Sang Ibu kembali menjenguk putrinya dengan membawa nasi rames sebagai buah tangan. Salah seorang polisi yang bernama Andre Mahardika, membawa Fatma untuk keluar dari sel tahanan menuju ruang besuk.
Fatma menunduk tajam ketika lengannya dicekal oleh Bripda Andre dan dibawa ke ruang besuk tersebut.
"Hanya ada waktu lima belas menit, setelah itu kembalilah!" titah Bripda Andre tegas, lalu menutup pintu serta berjaga di depannya.
"Polisi sombong! Cakep-cakep galak," gerutu Fatma.
Ibu Fatma menatap putrinya dengan binar kerinduan. Wanita paruh baya itu lantas berdiri dan memeluk Fatma penuh kasih.
"Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" tanya Ibu Fatma, lalu menyisir tubuh Fatma dari ujung rambut hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Bu. Temanku di dalam itu baik-baik. Nggak ada yang nyakitin aku," ujar Fatma jujur.
"Syukurlah, Ibu lega mendengarnya. Oh, iya, Nak, Ibu bawakan nasi bungkus kesukaan kamu." Ibu Fatma membuka nasi yang dibungkus kertas minyak, lalu memperlihatkan isinya.
"Wah, ada babatnya juga, Bu. Aku suka sekali!" seru Fatma, dengan mata berbinar.
"Makanlah, Nak! Ibu suapi, ya?" Fatma mengangguk. Sang Ibu dengan telaten menyuapi Fatma hingga makanan itu habis tak bersisa. Tak jarang, mereka bersenda gurau saling melepas rindu.
"Aku janji, aku akan memperbaiki diri, Bu. Aku ikhlas melewati cobaan ini. Karena, inilah hasil yang aku tanam selama ini, bukan? Maafkan aku, Bu. Anakmu ini hanya bisa membuatmu sakit hati dan kecewa. Aku memang anak yang tak tahu diuntung. Maafkan aku, Ibu," isak Fatma, seraya bersimpuh dan mencium takzim punggung tangan Ibunya.
"Tidak, Nak. Kamu putriku yang paling cantik dan paling baik. Kamu tetaplah bayiku yang akan selalu aku cintai dan akan selalu timang dengan tanganku. Sedang apa yang terjadi padamu, itu tak sepenuhnya kesalahanmu. Ibu pun bersalah pula, karena Ibu gagal mendidikmu. Sepulang dari sini, Ibu akan mendatangi Tuan Shaka dan meminta maaf atas nama kamu. Juga, Ibu akan memohon kepada Tuan Shaka agar mencabut tuntuannya," papar Ibu tulus.
"Ibu tak kuasa melihatmu menderita seperti ini, Nak. Ibu tak kuasa hidup kesepian di rumah, Ibu tak kuasa menahan rindu padamu. Apa kamu tega membiarkan Ibumu menderita seperti ini, hah?"
Fatma terdiam, dia gundah. Mana tega dia melihat wanita yang telah melahirkannya ke dunia menderita? Tapi di samping itu, dia pun tak ada nyali untuk bertemu dengan Rania dan Shaka. Akhirnya, dengan segala perhitungan yang matang, Fatma menyetujui permintaan Sang Ibu. Mereka saling berpelukan sebelum berpisah kembali, karena waktu telah habis.
"Baik, Bu. Jika aku memang dibebaskan, aku akan mendatangi mereka dan meminta maaf juga. Berhati-hatilah, jaga dirimu dan jaga kesehatanmu," ucap Fatma, lalu dia segera digelandang kembali ke sel tahanan oleh Bripda Andre.
**
Di tempat lain, Shaka dan Rania tengah bersenda gurau di ruang kerja Shaka. Ya, mereka tengah berada di perusahaan setelah membeli rujak es krim permintaan ibu hamil.
__ADS_1
"Sayang, ini terakhir kamu makan es krim, ya? Ingat kata dokter! Bayi kita udah terlalu besar, kamu akan kesusahan saat melahirkan nanti kalau pola makan kamu masih seperti ini," papar Shaka lembut.
"Iya, Mas. Aku tahu, kok. Aku janji ini terakhir kalinya," balas Rania patuh.
Suara ketukan membuat sepasang suami istri itu mengalihkan perhatian.
"Ada apa, Di? Ganggu saja." Shaka mendengus, tapi Rania tersenyum kepada Adi.
"Maaf, Tuan. Ada seorang Ibu yang mengaku Ibunda Fat--" perkataan Adi terpotong kala dia sadar ada rahasia yang harus dijaga antara dirinya dan Tuannya.
"Fat? Fat siapa, Di? Fatma, ya?" tanya Rania cepat.
"Bukan, Nona. Fatih maksud saya," kilah Adi, nyalinya menciut saat menyadari tatapan nyalang Tuannya.
"Fatih siapa? Di kantor ini nggak ada yang nama itu, setahu aku. Apa pegawai bar-" perkataan Rania terpotong saat seorang Ibu tiba-tiba masuk dengan air mata yang begitu deras membasahi pipi keriputnya.
"Maafkan Fatma, Tuan! Bebaskan dia, kasihan dia, Tuan. Hiks ... hiks," isak Ibu Fatma, seraya bersimpuh di bawah kaki Shaka yang duduk bersebelahan dengan Rania.
"Tu-tunggu. Ini maksudnya apa?" tanya Rania bingung.
Dan suasana di ruang itu panas dan tegang seketika.
__ADS_1