
"Jadi gitu, Beb, ceritanya. Aku mohon jangan marah lagi, ya?" pinta Aslan di tengah kekalutannya.
"Tapi aku masih nggak percaya, Kak. Masa iya, Fatma tega banget sama sahabat sendiri?" Fatma merebahkan kepalanya ke paha Aslan, dan lalu Aslan memijit dahi Nova lembut.
"Nggak ada yang nggak mungkin, Beb. Kita nggak akan bisa tahu isi hati seseorang, bahkan isi hati pasangan sekalipun. Terkadang, di depan aja yang sok akrab, tapi di belakang menusuk. Maka dari itu, sebisa mungkin kita harus selalu berbuat baik dengan orang lain. Setidaknya, jika mereka membicarakan keburukan kita, kita tak pernah berlaku buruk dengan mereka." Aslan mengecup dahi Nova, lalu menyingkirkan kepala Nova, karena Mbok Mun telah datang.
"Silahkan diminum, Tuan Muda." Mbok Mun meletakkan dua gelas teh hangat ke meja, lalu segera pergi untuk menyelesaikan pekerjaan lain.
"Oh, ya, Kak. Bagaimana dengan hubungan kita? Kita bahkan nggak tidur seranjang, loh?" tanya Nova dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku, ya, Beb. Aku nggak mau kita menanggung dosa besar karena melanggar ketetapan Allah. Aku pernah mendengar orang seperti ini, jika kamu menikahi gadis yang tengah hamil anak maka, jangan kamu gauli istrimu hingga dia melahirkan. Seperti itu." Aslan menunduk tajam.
"Maafkan aku juga, karena tak bisa jaga diri sampai harus terjadi kejadian seperti ini. Maafkan aku, Kak." Nova terisak dengan menutupi wajahnya menggunakan kesepuluh jarinya.
__ADS_1
"Kamu nggak salah, Beb. Siapapun tak ingin berada di posisi seperti ini, termasuk kamu. Aku nggak menyesal memilih kamu, aku nggak akan pernah meninggalkan kamu. Aku menikahimu karena Allah, kita akan ibadah bersama untuk meraih jannah-Nya," bisik Aslan, lalu mengecup dahi Nova dalam.
**
Di rumah sakit, Shaka yang masih berbahagia atas kembalinya sang istri sampai lupa dengan tugasnya menemui Amran.
"Mas, selama aku tidur kamu ada main sama perempuan lain nggak?" tanya Rania tiba-tiba kepada Shaka yang sedang sibuk mengusap perut Rania sembari mengajak ngobrol janin dalam perut istrinya.
"Aku kan cuma nanya, Mas. Oh ... kamu emang ada main sama perempuan lain, ya?" Rania menyipitkan matanya.
"Tuh, belum juga aku jawab, udah marah duluan. Su'udzan itu nggak boleh, Sayang. Apalagi sama suami kamu sendiri." Shaka mengelus punggung tangan Rania lalu mengecupnya.
"Tinggal jawab apa susahnya. Kamu mah, aku bete." Rania merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi Shaka.
__ADS_1
"Sayang ... apa sampai sekarang kamu masih belum bisa percaya sama aku? Aku mencintai kamu bukan hanya untuk satu atau dua tahun saja. Tapi untuk selamanya, Sayang. Apa aku harus membelah dadaku terlebih dahulu agar kamu percaya padaku?" Shaka memeluk perut istrinya lalu mengecup tengkuk Rania.
"Aku cuma tanya, Mas. Kenapa nggak langsung dijawab apa adanya aja?" isak Rania. Kondisinya yang tengah hamil muda sangat mempengaruhi kondisi emosionalnya.
"Tentu tidak. Harusnya, tanpa aku beri tahu pun kamu sudah tahu jawabannya, loh. Jangan-jangan lagi kangen, ya?" goda Shaka lalu menggelitiki perut Rania.
"Perempuan itu butuh kejelasan menggunakan lisan, Mas. Nggak cuma lewat tindakan doang. Perempuan itu selalu mengutamakan hati, laki-laki cuma logika. Itu yang bikin kita susah akur. Ada ... aja masalah yang bikin kita bertengkar." Rania berbalik menatap Shaka yang sudah tidur di sisinya. Tak peduli dengan tempat di mana mereka berdua. Karena mereka merasa dunia hanya milik mereka.
"Karena itulah tujuan pernikahan. Menyatukan pemahaman, sehingga bisa saling memahami. Kalau aku belajar memahami kamu, tapi kamu tidak. Maka, setiap detik kita akan bertengkar." Rania semakin terisak di dada bidang Shaka, Shaka membalasnya dengan mengusap kepala Rania yang terbungkus hijab warna pastel itu.
"Aku mencintaimu, Mas."
"Aku lebih mencintaimu, Sayang."
__ADS_1