
Kepergian Rania membawa luka yang begitu dalam bagi Morgan. Dia pergi dengan permintaan talaknya. Morgan hanya mampu terdiam dengan perasaan campur aduk. Antara menyesal, marah, kecewa, cemburu, semua bercampur menjadi satu.
Kondisi Morgan kian memburuk. Shaka sama sekali tak meninggalkan Morgan, sedetikpun. Dan terus menghubungi Rania untuk segera datang.
Shaka : Kembalilah Rania, detak jantung Morgan kian melemah. Kata dokter, kondisinya semakin kritis.
Pesan yang ke dua puluh kali itu baru terbaca oleh Rania yang kini sedang berada di rumahnya. Berkumpul dengan Papa, Mama, dan Kakaknya. Mereka sedang membicarakan perihal perceraian Morgan dengan Rania.
"Kak, baca pesan ini," ucap Rania kepada Aslan.
"Pergilah, jika kamu ingin terluka," jawab Aslan ketus.
"Ada apa, Nak?" tanya Pak Yudi yang curiga dengan ekspresi putrinya.
"Pa, Kak Shaka mengirim pesan. Katanya, Mas Morgan kritis," Rania memperlihatkan ponselnya kepada Pak Yudi. Pak Yudi mengangguk paham.
"Begini saja, ayo kita ke rumah sakit bersama. Jika Shaka berbohong, kita bisa melindungi Rania, bagaimana?" tanya Pak Yudi menaikkan alisnya.
"Mama setuju, Pa. Ayo berangkat sekarang," ucap Mama Irene dengan senyum manisnya.
Akhirnya, sore itu mereka berangkat ke rumah sakit bersama.
Setibanya di rumah sakit, Tuan Harsa dan Nyonya Marsya ternyata sudah berada di ruangan tersebut. Mereka mempersilahkan keluarga Yudi untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Rania, maafkan Mama telah menyakitimu. Ternyata benar, Morgan sangat keterlaluan. Maafkan Mama, Rania," isak Nyonya Marsya yang sedang menggenggam tangan lemah Morgan.
Morgan terdiam dengan seribu penyesalan dalam hatinya. Ingin rasanya Morgan memeluk istri kecilnya, tapi untuk bergerak pun tubuh tak mampu.
Rania menyadari tatapan Morgan. Dengan langkah perlahan, Rania mendekati suaminya yang lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Mas, kamu kuat ya, optimis sembuh, oke!" seru Rania, dengan senyum secerah mentari. Namun, siapa sangka kini hatinya merasakan perih yang amat sangat, melihat Morgan yang begitu lemah. Padahal, baru beberapa jam mereka sempat bertengkar.
"Sayang ...jangan ceraikan aku, ya," ucap Morgan lirih.
"Iya, kalau kamu sembuh, kita akan kembali bersama dan pergi ke Cappadocia, seperti impianmu waktu itu, bukan?" Rania masih berusaha untuk tersenyum.
"Iya, aku ingin melihat anak-anak kita sukses dan membuat kita bangga," ucap Morgan lemah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
"Iya, tapi kamu harus semangat untuk sembuh, kalau kamu nggak semangat, aku nggak mau," ucap Rania sambil mengerucutkan bibirnya.
Mama Marsya terisak pilu di dada suaminya. Begitu pula Shaka yang memalingkan wajahnya karena tak ingin sisi lemahnya di lihat orang.
"Aku mencintaimu, Rania," ucap Morgan dengan nafas tersengal.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Tolong yang kuat ya, kita raih kebahagiaan bersama," Rania menggenggam erat tangan Morgan. Dia mengecup kening, pipi, hidung, dan turun ke bibir suaminya dengan penuh penghayatan.
Morgan tersenyum menerima kecupan hangat dari istrinya yang selalu dia siksa. Hatinya semakin perih. Begitu mulia hati istri kecilnya ini. Sudah berkali-kali disakiti, tapi selalu membuka pintu maaf untuk dirinya.
"Memilikimu adalah kebodohan sekaligus kebahagiaan terbesar dalam hidupku, Sayang," Morgan mengelus punggung tangan Rania menggunakan jarinya.
"Kok kebodohan?" tanya Rania manja, meski dengan air mata yang telah kurang ajar terjun dengan bebasnya.
"Iya, aku terlalu bodoh telah menyia-nyiakanmu, Sayang," Morgan tersenyum lembut.
"Tidak, kamu tidak bodoh, Mas. Aku yang bodoh karena tidak bisa membuatmu percaya denganku," ucap Rania terisak.
"Aku yang bodoh karena tak bisa menjadi istri yang baik untukmu, Mas. Maaf, maafkan aku," Rania menciumi punggung tangan Morgan.
"Tidak, Sayang. Aku yang bodoh. Jangan menangis, aku tidak bisa tidur jika melihatmu menangis seperti ini, jelek sekali," Morgan meringis menahan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"I love you, Rania,"
"Love you more, Sayang," Rania kembali mengecup bibir pucat itu lembut dan lama.
Naman, Rania terbelalak karena ternyata dia tak merasakan nafas suaminya. Rania melepaskan tautannya. Dilihatnya wajah tampan yang sudah memejamkan mata.
"Mas, kamu tidur, kan?!" pekik Rania.
Tuan Harsa dan Mama Marsya berlari ke ranjang putranya. Tuan Harsa memeriksa denyut nadi Morgan, setelah itu dia letakkan jari telunjuknya ke hidung putranya.
Tuan Harsa lunglai, tubuhnya merosot ke lantai. Mama Marsya yang sudah menyadari hal itu langsung menangis histeris.
Semua orang yang berada di luar ruangan terkejut mendengar teriakan dari dalam ruangan tersebut. Mereka langsung berlari dengan kekuatan seribu kaki.
Pak Yudi, Mama Irene, dan Aslan, terpaku melihat suasana di ruangan itu. Tuan Harsa yang duduk di lantai dengan isakan tangis, Mama Marsya yang sudah tak sadarkan diri, dan ...Rania memeluk suaminya yang sudah terpejam. Namun, Rania begitu tenang, tangannya sibuk mengelus rambut suaminya.
Dokter baru tiba dengan Shaka yang berada di belakangnya. Melihat kekacauan itu, Shaka berlari menggendong Mamanya dan diletakkan di sofa.
"Innalilahi wa inna ialaihi raji'un," ucap Dokter lirih setelah memeriksa Morgan.
Aslan mendekat dan memeluk Rania yang masih shock.
"Kak, kenapa aku janda di usia muda? Kenapa dia tega membuatku menanggung luka seberat ini?" Rania menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Aslan.
"Mor, tidur yang nyenyak di sana. Tunggu kami menyusul. Bahagialah di sana. Kami akan sangat merindukanmu," ucap Shaka dengan tangis pilu. Setelah itu dikecupnya kening adik satu-satunya itu penuh sayang.
RIP Morgan Veer Pradikta😭
O iya, kasih like, komen, vote, n hadiahnya dong😊
__ADS_1