Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Memaafkan


__ADS_3

Rania keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kecil yang melilit tubuhnya. Shaka menatap Rania dengan berbagai rasa yang berkecamuk. Ingin memakan istri seksi di depannya, tapi di samping itu dia takut jika istrinya menolak karena perbuatannya yang sangat melukai hati sang istri.


"Sayang, kamu mau pergi?" tanya Shaka dengan nada yang dibikin selembut-lembutnya.


"Ya, aku mau ketemu kak Aslan dan kedua sahabatku. Tiga hari lagi Fashion Star akan diadakan," jawab Rania seadanya sambil berjalan ke arah walk in closet.


"Apa busana design kamu sudah selesai?" tanya Shaka lagi lalu mendekati istrinya.


"Sudah, aku hanya men-design. Sedangkan si pembuatnya aku serahkan ke Fatma dan Nova. Mereka lebih rapih dan telaten soalnya," Rania menarik gamis berwarna merah bata polos dari almari dan segera memakainya di depan Shaka tanpa rasa malu.


Shaka meneguk saliva kasar melihat pemandangan di depannya. Tak dapat menahan hasrat lagi, Shaka mendekati Rania dan mendekap wanita itu erat. Rania terjingkat kaget mendapat perlakuan seperti itu. Apalagi, dirinya belum sempurna memakai pakaiannya.


"Kamu kenapa? Pengen?" Rania menghembuskan nafasnya kasar. Ia sadar bahwa tak ada hak untuk menolak keinginan semuanya. Alhasil, wanita yang tengah hamil muda itu mencoba untuk berdamai dengan keadaan meski sangat sulit.

__ADS_1


"Ya, aku sangat menginginkanmu. Tapi di samping aku takut perutmu sakit, aku pun takut kamu menolak karena ulahku yang sudah sangat melukaimu," Shaka menunduk tajam menatap jemari kakinya yang dingin.


"Mas, aku memang marah sama kamu, tapi aku akan dilaknat Allah jika aku menolakmu. Semua udah terjadi. Aku cuma bisa berharap, aku bisa ikhlas menerima kenyataan ini. Jujur, aku cemburu, Mas. Aku seperti merasa patah hati yang kedua kali," lirih Rania disertai air mata yang meleleh begitu saja.


"Maafkan aku, Sayang. Aku janji, akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tidak masalah jika aku menceraikan dia, karena aku nggak bisa berbuat adil dan nggak siap untuk berpoligami. Ini semua demi Mama. Hanya demi Mama, Sayang." Shaka membalikkan tubuh Rania supaya berhadapan dengannya.


"Dengar baik-baik, sekalipun bidadari turun dari surga lalu menggodaku supaya meninggalkanmu, aku tak kan berpikir lama untuk menolaknya. Karena apa? Karena kamulah calon bidadari surgaku, mengerti?" bisik Shaka, lalu mengelus pipi Rania dan mengecupnya berulang. Pipi itu mengeluarkan rona merah menggemaskan.


"Kenapa diam? Hmm?" dengan telaten Shaka memakaikan gamis yang masih terbuka bagian belakangnya hingga terpasang sempurna di tubuh istrinya.


"Aku juga mencintaimu, sangat. Tolong, jangan diamkan aku lagi dan pura-pura sok ikhlas menerima keadaan padahal kamu terluka. Aku merasa telah menjadi sosok suami yang gagal membahagiakan istri, Sayang," Rania hanya mengangguk sembari semakin menyusupkan wajahnya ke dada sang suami.


**

__ADS_1


Sementara itu di AyBak Cafe, Aslan tengah fokus dengan laporan keuangan minggu ini. Matanya berbinar kala melihat angka yang tertera di atas kertas putih tersebut.


Lahir dari kalangan menengah membuat Aslan dan Rania dituntut kerja keras supaya menghasilkan uang sendiri. Meskipun Aslan tetap mendapat jatah bulanan dari Nyonya Irene yang jumlahnya cukup untuk kebutuhan satu bulan, tetap saja Aslan tak mau mengandalkan orang tuanya.


"Lis! Tolong, tetap kasih makanan gratis untuk orang-orang terlantar di luar sana seperti biasa. Pokoknya jangan sampai lupa," pinta Aslan kepada Sulis dengan senyuman hangat.


"Tapi Mas, kita bisa bangkrut kalau setiap hari kasih makan gratis mulu ke orang-orang," jawab Sulis dengan raut wajah cemas.


"Lis, yang namanya orang sedekah itu malah ditambah rezekinya, bukannya malah jadi bangkrut. Itu janji Allah. Pokoknya, jangan sampai lalai, kalau perlu tambahin porsinya," ucap Aslan semangat.


"Tapi Mas-"


"Kamu tuh tinggal ngejalanin perintahku. Lagian, kalau aku bangkrut kamu nggak bakalan ngebantu aku ngasih suntikan modal kan?" potong Aslan cepat. Sungguh, pelayan satu ini memang sangat cerewet.

__ADS_1


"Baiklah, Mas." pungkas Sulis dan segera melaksanakan perintah bosnya.


__ADS_2