
"Akh! Sakit,Mas ..." Rania merintih kesakitan.
"Katakan padaku! Apa kau mencintainya,hah?!" teriak Morgan murka. Tangannya mencengkeram erat kedua pipi Rania hingga mata Rania memerah.
Flasback on
Ketika Morgan hendak memulai aktivitas menanam cebong, Rania menatap Morgan dalam. Rania memegang kedua lengan Morgan dengan erat. Keringat dingin membasahi kening hingga leher.
"Mas," ucap Rania dengan bibir bergetar. Namun, Morgan masih sibuk dengan usahanya. Semakin sakit rasa itu, bayangan-bayangan ketika dirinya bercumbu dengan Shaka semakin nyata.
"Kak Shaka, tolong jangan,"
Duaarrrrrrr!
"APA KAU BILANG?!!" pekik Morgan. Sontak saja, singkong yang sedang ia tanam langsung dicabut paksa lantaran tanahnya terlalu keras.
Rania tersadar dari ucapannya dan langsung memeluk Morgan dengan erat.
"Mas, maafkan aku. Aku masih trauma dengan kejadian waktu itu. Maafkan aku, Mas," Rania terisak di pelukan Morgan.
Flasback End
Rania menyentuh pipinya yang terasa nyeri akibat cengkeraman Morgan. Hatinya berdenyut nyeri, karena belum ada satu hari Morgan meminta maaf, kekerasan itu kembali terjadi.
Namun, dia melarang keras air matanya jatuh. Akan dia buktikan, bahwa dia kuat dan tidak bisa lemah begitu saja hanya karena siksaan Morgan.
"Salahku karena begitu mudahnya aku menerimamu sebagai suamiku,Mas," ucap Rania dalam hati.
__ADS_1
"Jawab, Rania! Apa kau mencintainya?" tanya Morgan dengan sorot mata tajam.
"Tidak, aku tidak mencintai Kakakmu, Mas." Rania hendak melangkah untuk mengenakan pakaiannya. Namun, Morgan menarik pergelangan tangan Rania hingga tubuh kecil itu terbentur dinding.
"Ssssshhh," desis Rania menahan sakit.
"Jangan keluar dulu, keluarkan nanti setelah laki-laki kasar itu pergi, ya," keluh Rania dalam hati yang dimaksudkan untuk air matanya.
"Lalu, KENAPA KAU MENYEBUT NAMANYA KETIKA KITA HENDAK MELAKUKAN ITU, HAH?!" tanya Morgan dengan nada tinggi.
"Karena aku masih trauma dengan kejadian itu, Mas. Tak bisakah kau memikirkan hal itu? Tak bisakah kau memaklumi itu?" Rania melangkahkan kakinya mendekati Morgan.
"Baru tadi pagi kamu berjanji padaku, Mas. Dan sekarang kamu sudah melupakan janjimu itu. Tidak ingatkah kamu dengan kesepakatan kita?" Rania menatap Morgan dengan tatapan kosong dan dengan keadaannya yang masih telanj***.
"Sudah ku katakan berapa kali jika aku, HANYA MENCINTAIMU, MAS. Kamu tuli, hah?" nafas Rania tersengal, baru kali ini Rania berani melawan. Setelah itu, dia memungut pakaiannya yang berserakan dan memakainya.
Morgan masih terdiam.
Rania memilih keluar rumah dalam keadaan kacau, sedangkan Morgan masih terdiam di dalam kamar dengan segala pikirannya.
Rania pergi mengendarai motor matic kesayangannya. Sesekali, dia mengusap air matanya yang tak terbendung lagi.
"Kenapa kamu mudah sekali menyiksaku, Mas," Rania terisak di balik helm hitamnya.
Rania berhenti di lampu merah, dia melamun. Tapi ternyata, Luna sedang mengamen di sana.
"Kak Rani?" tanya anak itu antusias.
__ADS_1
Rania terkejut dan langsung menepikan motornya.
"Luna, kamu kok masih ngamen sih, Lun? Kak Fatma kan udah ngajarin kamu untuk membuat kerajinan rumah?" tanya Rania heran.
"Sudah tiga hari ini, Kak Fatma tidak menemui kita, Kak. Kita kan juga butuh makan," celetuk Luna.
"Kok bisa?" Rania terkejut mendengar penuturan Luna.
"Nggak tahu, tapi Kak Fatma pernah bilang, katanya Ayahnya meninggal, Kak," ucap Luna sendu.
Deg!
Lagi-lagi, dia menjadi gadis bodoh yang terlalu bucin dengan suami gilanya.
"Kamu sedang tidak bercanda,?" tanya Rania memastikan.
"Iya, Kak,"
"Kalau begitu, ini uang untuk beli makanan. Kalian kembalilah ke ruko. Selesaikan pekerjaan tangan kalian, ya."
Wajah Luna berbinar menerima uang tersebut. Anak itu menemui empat orang temannya lagi yang menjadi gerombolan pengrajin tangan.
Rania mengusap air matanya yang kembali menetes.
"Tiga hari kamu kehilangan Ayahmu, tapi kamu sama sekali tidak menghubungiku. Kenapa, Fat?" isak Rania.
"Karena dia tidak ingin membuatmu lebih terbebani lagi, Nia,"
__ADS_1
Rania terkesiap.
"Suara ini,"