Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Cerai?


__ADS_3

Kepercayaan bagaikan tiang dalam rumah tangga, jika roboh maka rumahpun akan roboh dan butuh waktu untuk memperbaikinya.


Cinta akan hilang bersamaan dengan hilangnya sebuah kepercayaan. Karena cinta dan kepercayaan akan selalu terikat kuat dalam sebuah hubungan.


...****************...


"Hiks hiks, ceraikan saja aku Mas! Untuk apa aku bertahan jika kamu saja berusaha untuk melepaskan!"


Rania tengah berada di sebuah taman belakang rumah sakit. Susana di taman begitu sepi karena hari sudah mulai menggelap.


Rania butuh ketenangan untuk meredamkan api kemarahan dalam hatinya.


Marah! Ya, dia marah karena Morgan yang tak dapat percaya akan cintanya, marah karena semua yang terjadi berawal dari dirinya. Dan ini semua adalah pilihannya sendiri.


Tapi tidak! Dia paksa untuk menikah dalam keadaan kacau. Dia bahkan sudah berusaha untuk menolak.


Lantas, mengapa Morgan menerima pernikahan ini jika dia tahu bahwa Rania hampir melakukan percintaan dengan Kakaknya sendiri?


Lagi-lagi cinta!


Apa memang cinta hanya mengundang luka?


Apa cinta hanya bersahabat dengan air mata?


"Aaaaaaaaaakh! Bawa aku ke tempat yang jauh ya Allah!" seru Rania, tangannya meremas kuat bibir bangku yang sedang dia duduki. Rania menangis tersedu-sedu.


Shaka memandang Rania dari kejauhan. Ia membiarkan Rania mengeluarkan segala keluh kesah yang ada di hatinya, supaya lega.


"Aku lelah, aku ingin pulang, aku ingin bebas!" ucap Rania lirih. Tenaganya telah terkuras habis, hari ini Ia bahkan tidak sempat menelan makanan barang sedikitpun.


Kini Shaka berjalan perlahan mendekati Rania. Dia tak tega melihat gadis yang Ia cintai terluka. Tak dapat memilikinya tak apa, namun tak dapat melihat Ia tersenyum, itu yang menyiksa. Shaka merasa telah salah melepas Rania untuk menikah dengan Morgan. Karena pernikahan itu berakhir pilu.

__ADS_1


"Nia," Shaka menatap Rania sendu. Mendengar namanya dipanggil, Rania mendongakkan wajahnya.


"Ngapain kamu ke sini hah! Semua orang itu sama saja, hanya ingin menyakitiku! Mereka nggak ada yang peduli dengan keadaanku," Rania langsung berdiri dan menunjuk-nunjuk ke wajah Shaka. Namun Shaka hanya diam dengan raut wajah datar.


"Aku lelah Kak, hiks hiks, biarkan aku istirahat sebentar saja. Aku lelah Kak," ucap Rania semakin lirih dan tiba-tiba pandangannya kabur, kepalanya terasa berat hingga akhirnya Ia jatuh ambruk ke tubuh Shaka.


Dengan sigap Shaka menggendong Rania dan membawanya ke ruang UGD dengan dibantu oleh suster yang berjaga.


"Tolong dia Dok, saat ini dia sedang tertekan karena suatu masalah dan sedari tadi dia tidak makan sedikitpun," ucap Shaka kepada Dokter yang bernama Rexi itu.


"Baik Pak, tunggu di luar sebentar ya. Saya akan memeriksa pasien," ucap Dokter Rexi sembari tersenyum ramah. Shaka menganggukkan kepalanya setelah itu dia duduk di kursi tunggu.


...****************...


Beberapa saat kemudian, Dokter Rexi keluar dari ruangan.


"Maaf apa Anda keluarga pasien?" tanya Dokter Rexi sopan.


"Ya, dia adik saya, Dok. Bagaimana keadaannya?" tanya Shaka penuh kecemasan.


"Kalau begitu saya permisi," Dokter Rexi tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Shaka.


Shaka menghela nafasnya kasar. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Aslan. Setelah selesai memberi kabar kepada keluarga Rania, Shaka masuk ke ruang UGD untuk menemui Rania. Kebetulan sekali, Rania masuk UGD setelah Morgan dipindah ke ruang rawat inap. Sehingga Morgan tidak tahu bahwa Istrinya pingsan.


.


"Nia, bagaimana keadaanmu? Sudah mendingan?" Shaka berdiri di sisi ranjang Rania dan menatap gadis itu lembut.


"Aku selalu baik Kak," ucap Rania sembari tersenyum lemah dan menatap kosong ke arah pintu.


"Syukurlah, kamu istirahat dulu. Sebentar lagi keluargamu datang." Setelah mengatakan itu, Shaka menarik selimut Rania sebatas dada. Ia mengelus punggung tangan Rania berharap gadis yang dicintainya ini terlelap.

__ADS_1


Dan benar saja, akhirnya Rania tertidur sedangkan Shaka masih setia mengelus punggung tangan Rania.


"Aku mencintaimu, Nia. Lekaslah membaik. Setelah itu putuskan apa yang kamu inginkan dan berbahagialah!" Shaka mengusap kepala Rania pelan sekali, takut si empunya terusik.


Beberapa saat kemudian, keluarga Rania datang. Yudi, Irene dan Aslan, mereka langsung menuju ruang UGD dan segera menemui Rania. Aslan menatap Shaka dengan sorot mata tajam. Shaka menanggapinya dengan santai. Ia tersenyum dan menjabat tangan semua orang yang datang.


"Apa yang terjadi denganmu Nak?" Irene memeluk Rania yang sedang tertidur itu dengan hati-hati. Sedangkan Yudi menatap putrinya iba.


"Katakan padaku, apa yang terjadi Shaka? Kenapa adikku bisa seperti ini hah?" tanya Aslan dingin.


"Aku akan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Tapi jangan di sini!" ucap Shaka tak kalah dingin.


Kini Aslan dan Shaka telah berada di luar ruangan. Mereka berdiri berhadapan saling melempar aura permusuhan.


"Ceritakan padaku semuanya!" ucap Aslan dingin.


Akhirnya Shaka menceritakan semuanya dari awal Rania menghubunginya hingga Rania pingsan, tanpa ada yang terlewat.


Mendengar cerita Shaka, Aslan mengetatkan rahangnya, matanya memerah dan tangannya mengepal.


"Morgan sialan! Berani dia menyakiti adikku, maka dia berhadapan denganku!"


"Ini pasti karena dia mendengar percakapan itu. Cih, pengecut!" ucap Aslan murka. Shaka masih terdiam dengan tatapan datarnya.


"Setelah Rania sembuh, aku akan menyuruh Rania menceraikan suami pengecut itu!"


"Aslan, aku nggak tahu percakapan yang kamu maksud itu apa, tapi jika kamu menyuruh Rania bercerai dengan Morgan maka, apa bedanya kamu dengan Morgan?" skak Shaka.


"Hah aku nggak peduli. Aku yang lebih tahu tentang kebahagiaan Adikku, bukan kamu atau adikmu yang b*jingan itu!" ucap Aslan sengit.


"Terserah padamu, tapi asal kamu tahu. Yang bisa menentukan kebahagiaan seseorang itu dirinya sendiri. Bahkan jika kamu menuntut Rania untuk menceraikan Morgan sedangkan ikatan cinta mereka kuat, apa itu akan bekerja Tuan Aslan yang budiman?"

__ADS_1


Jangan bosan sama ceritaku ya guys..


LOPE YOU PULL


__ADS_2