
Hai, readers tercinta!
Aku menulis sesuatu di sini untuk kalian yang setia menemani perjalananku selama di sini.
Terimakasih atas dukungan kalian yang sangat berharga. Terimakasih atas kritik dan saran yang mampu membuat aku lebih semangat dalam masa pembelajaran menulis dengan benar.
Dan terimakasih, karena kalian ... aku merasa ceritaku dihargai. Dan tahukah kalian? Kadang apa yang kalian tinggalkan di kolom komentar, itu yang menjadi ide alurku selanjutnya, loh ... hehehe.
Entah dengan cara apa aku membalas kebaikan-kebaikan kalian.
Oleh karena itu, di hari ultahku ini, gimana kalau aku kasih kesempatan kalian buat bertanya sesuatu tentang aku? Kek semacam QnA gitu😂.
Kalau kalian setuju, langsung komen di bawah aja, ya? Nanti, jawabannya aku tulis di episode selanjutnya.
Oh, ya. Aku juga mau kenalin karya baru aku yang kayaknya halunya kebangetan wkwkwk.
Dan ini, sebagian cuplikan cerita di episode berapa, ya? Aku lupa wkwkwk.
**
Ting! Ting!
__ADS_1
Hah, yang ini ponsel keduaku berdering. Dan sudah kupastikan, kali ini suamiku yang memanggil.
"Ya, Gan. Ada apa?" tanyaku malas.
"Turunlah. Kita makan bersama di bawah," ucapnya di seberang sana.
"Baiklah."
Aku segera memutus sambungan telepon, sebelum dia yang memutus duluan. Biar dia tahu kalau aku malas meladeninya.
Aku segera bersiap dan turun menggunakan lift.
Sesampainya di lantai satu, ternyata semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Mbak Sri, Mbak Mira, Mbak Mustika, dan Mbak Neneng. Masing-masing asisten juga sudah berdiri di samping masing-masing majikan. Hanya Maya yang tidak ada di sana.
Mereka semua menatapku penuh arti. Perlahan aku melangkahkan kakiku dan duduk bergabung dengan mereka.
"I-iya, Mbak. Saya ... masih sering pusing," jawabku gugup.
"Obatnya masih?" sekarang Mbak Tika yang bertanya padaku. Ternyata para maduku ini saling memerhatikan satu sama lain.
"Masih, Mbak." jawabku, sambil menundukkan kepalaku. Sekilas kulihat juragan Ali melirikku dengan tajam. Sejenak aku berpikir, apa aku berbuat kesalahan?
"Baik, karena kalian semua sudah berkumpul di sini, aku akan mengumumkan kabar gembira. Eneng, Sri, Tika, Mira, dan kamu, Seika, bahwa aku telah menikahi Mayaratih. Oleh karena itu, untukmu, Seika, sementara waktu kamu tidak ada aspri. Tapi aku akan segera mencari pengganti Maya, supaya kamu tidak kesepian. Jadi, apa ada yang keberatan?" papar juragan Ali panjang lebar.
__ADS_1
"Maaf, Beib. Bukannya keberatan, tapi kenapa secepat ini kamu menikahi Maya? Kasian Seika, Beib," rasanya mau meninggoi mendengar Mbak Tika menyebut juragan Ali dengan sebutan Beib.
"Memangnya kenapa? Yang penting kalian semua aku cukupi, kan?" tanya juragan Ali sinis, seperti mengejek.
"Bukan begitu-"
"Diam! Bapakmu ada di tanganku, Tika. Kalau sampai kamu banyak omong, aku bunuh dia sekarang juga," sentak juragan Ali, matanya melotot tajam. Aku bergidik ngeri melihat pemandangan di depanku.
"Bang, udah. Jangan apa-apa pake ngancam mau bunuh orang. Kasian Pak Danu, Bang. Dia udah nggak bisa apa-apa karena ulah kamu," bela Mbak Sri.
Prang!
Piring di depan juragan Ali terbang melayang menghantam wajah Mbak Sri, hingga wajah putih itu mengeluarkan darah yang lumayan banyak. Aku gemetar ketakutan melihat pemandangan di depanku. Dan entah dorongan dari mana, aku berdiri dan berlari mengambil kotak P3K. Setelah obat kudapatkan, aku menyuruh Mbak Mira mengobati Mbak Sri. Baru setelah itu, aku berkacak pinggang di depan suami gilaku ini.
"Agan, boleh aku tahu alasan Agan menikahi kami?" tanyaku penuh penekanan. Juragan Ali menyentak nafasnya kasar, lalu balas menatapku dengan tatapan sendu.
"Jelas aku mencintai kalian, Seika. Apa lagi?"
"Bukan cinta, Gan. Mencintai itu melindungi, menyayangi, melengkapi, menghormati, dan menghargai. Bukan menyakiti dan menghakimi, Gan. Lihat Mbak Sri, dia terluka fisik dan hatinya karena ulah Agan. Apa ini namanya cinta?" isakku.
"Seika Sayang, maaf jika aku membuatmu takut. Tapi tolong, jangan ikut campur urusan Agan, ya?" juragan Ali mencoba meraih tanganku, tapi aku tepis dengan kasar.
"Jangan sentuh aku kalau Agan masih main kasar sama wanita. Ingat, kamu juga terlahir dari rahim seorang wanita. Jika kamu berani melukai wanita, lalu bukankah sama halnya dengan melukai ibumu sendiri, hah?" aku masih terisak di depan suamiku. Aku keluarkan semua uneg-uneg di hatiku agar sedikit lega.
__ADS_1
"Seika?! Beraninya kamu!" juragan Ali seperti hendak melayangkan tangannya untuk menamparku. Tapi aku tak gentar, aku serahkan wajahku untuk dia tampar.
"Tampar aku, Gan. Kalau perlu, bunuh aku sekalian. Aku lebih baik mati ketimbang harus hidup dengan laki-laki ringan tangan seperti Agan!" teriakku, lalu aku segera berlari keluar rumah. Masa bodo nantinya, yang pasti aku ingin sendiri. Aku pun takut menghadapi kenyataan yang mau tak mau harus aku hadapi nanti.