
"Jadi ini, biang kerusuhan dan manusia tanpa adab itu?" Shaka menyunggingkan senyum sinisnya disertai tatapan nyalang penuh kemarahan.
"Ya, ini aku! Kenapa?! Mau balas dendam? Bunuh aku, Ka. Bunuh aku!" sentak Fatma angkuh tanpa penyesalan sedikitpun.
"Aku bunuh kamu? Terlalu enak, Fatma," ucap Shaka tegas.
Hawa di gedung kosong bekas pabrik gula itu semakin seram dan tegang. Alvin dan Adi hanya bersidekap dada sembari mengawasi keadaan luar.
"Terserah kamu, Ka. Aku nggak takut. Mau kamu cincang tubuhku sekalipun aku nggak takut. Aku udah persiapkan segala resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi." Fatma tersenyum culas. Shaka menatap Fatma tak percaya.
"Katakan, ada dendam apa kamu sampai melakukan semua ini." Shaka mencengkeram dagu Fatma kuat.
"Aku benci kalian, itu saja. Cih!" Fatma meludahi wajah Shaka. Shaka menggeram kesal.
"Katakan, atau usaha bundamu aku hancurkan. Katakan!" Shaka mulai habis kesabaran.
"Pengecut!" teriak Fatma murka. "Aku melakukan ini semua karena aku marah sama Rania. Kenapa Morgan dan kamu bisa jatuh cinta sama orang yang sama. Padahal jelas-jelas aku yang menyatakan cinta dulu! Aku yang mencintai Morgan dulu. Saat aku tahu Morgan memilih Rania, aku ikhlas. Aku beralih hati ke kamu, tapi kenapa kamu pun dirampas? Aku sakit, Ka! Kenapa Rania selalu menang dibanding aku?!" Fatma menangis histeris. Meluapkan segala keluh-kesah di hatinya. Shaka masih diam menyimak.
"Aku yang meracuni Rania, tapi bukan racun yang berbahaya buat janinnya. Karena aku menyayangi janinnya. Aku cuma marah sama dia, kenapa selalu dia yang jadi pemenangnya? Sedangkan aku cuma tokoh pendamping di sini, Ka. Dulu, aku memang sempat menjalin hubungan sama Fikri, tapi hati ini masih tetap buat Morgan. Fikri cuma pelampiasan aku!" Shaka tersenyum sinis, lalu mundur beberapa langkah.
"Menjijikkan! Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan dari zaman nabi Adam. Kenapa kamu masih takut nggak laku? Kamu dikuasai rasa iri sampai kamu nggak sadar rasa itu telah membakar seluruh jiwamu. Kamu nggak pantas disebut sebagai seorang sahabat dari Rania yang sudah mengubah nasib burukmu," papar Shaka tegas dan dingin.
"Kamu telah membahayakan dua nyawa sekaligus. Kamu tega mencelakai orang yang telah membawamu ke dunia yang lebih layak. Entah, apa sebutan apa yang cocok buat makhluk seperti kamu. Yang jelas, kamu tak pantas disebut manusia!" sentak Shaka sampai berhasil membuat Fatma terjingkat kaget.
__ADS_1
Fatma tertunduk lesu.
"Aku nggak nyangka otak kamu sedangkal ini. Cuma karena masalah iri, kamu sampai menipu semua orang bertahun-tahun dengan menyembunyikan Morgan. Gila kamu!" sentak Shaka lagi.
"Kalau Morgan, aku cuma diajak kerja sama. Otaknya bukan aku, Ka. Sumpah, bukan aku," elak Fatma.
"Kalau bukan kamu, katakan siapa dia?"
"Aku nggak kenal dia. Dia bilang, dia musuh kamu. Itu aja." Shaka terdiam, mencerna perkataan yang terlontar dari mulut Fatma.
"Dari mana kamu mengenal dia?" tanya Shaka penuh selidik.
"Dia mendatangiku sepulang kuliah dulu," jawab Fatma jujur.
"Ya, Tuan?"
"Cek ponsel perempuan ini," titah Shaka tegas. Adi hanya mengangguk lalu segera mengambil ponsel Fatma yang berada di tasnya.
Adi mengernyitkan dahinya heran.
"Ada apa?"
"Tuan ... sepertinya ini akan sulit," kekeh Adi. Shaka mengernyitkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Tuan Amran, sepertinya saya perlu menyelidiki kasus ini lebih dalam. Rumit sekali," keluh Adi.
"Adi, tuan Amran tak punya cukup uang untuk membayar biaya terapi tuan Morgan. Mana mungkin?" protes Alvin.
"Keuangan perusahaan tiga tahun lalu pernah geser beberapa angka. Sepertinya--"
"Dia pelakunya?" potong Alvin.
"Benar. Kita harus mencari bukti yang valid dan juga perlu beberapa saksi kunci. Termasuk wanita ular ini." Adi menatap Fatma dengan tatapan mengejek.
"Baiklah. Kalau begitu, masalah ini aku pasrahkan ke kalian berdua termasuk perempuan ini."
Buat kalian yang udah support aku, makasih ya. Itu yang aku butuhkan sekarang. Sampai sekarang, aku nggak bisa denger orang bicara keras sedikit aja. Denger kakak aku bentak anaknya aja, aku yang kaget dan takut 😂
Entah, sepertinya aku perlu ke psikolog. Soalnya, ada unsur pelecehan juga😊
Jadi, aku perlu melupakan semua kejadian yang salah satu orang dari mereka lakukan sama aku. Padahal kejadiannya udah 4 tahun, tapi aku masih merasa sangat takut.
Mohon do'anya ya, guys!
Oh iya, bentar lagi novel ini tamat ya!
Buat kalian yang penasaran sama kisah aku, cus masuk ke "Selingkuh yang indah". Di sana, aku bumbuin sedikit2 kisah nyataku.
__ADS_1
Selamat membaca! 😊