
Tepat pukul 10 pagi Rania telah sampai di butik barunya. Di sana sudah ada Fatma dan Nova yang sedang sibuk menyelesaikan tugas mereka. Beberapa gaun yang akan dipakai di pameran nanti sebagian sudah dipajang di manekin. Tinggal gaun yang berasal dari pemanfaatan sumber daya manusia yang belum selesai dan sekaligus sedang dijahit oleh Fatma dan Nova.
"Assalamualaikum!" seru Rania secara tidak sadar berlari menghampiri kedua sahabatnya.
"Hei, bumil baru! Jangan lari, takut ambrol nanti perutnya!" sahut Nova tak kalah seru.
Shaka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rania dan dua sahabatnya.
"Kenapa mukamu sembab? Nangis lagi?" tanya Fatma melirik tajam ke arah Shaka, setelah Rania duduk di depannya dan mengamati wajah Rania dengan cermat.
"Iya, semalaman aku nangis." Shaka menghembuskan nafasnya kasar, sedikit tak terima akan tindakan istrinya yang bicara terus terang, sekaligus malu.
"Kenapa nangis? Coba cerita, kamu diapain lagi sama suamimu, hah?" tanya Nova tak sabaran.
"Jangan salah paham. Bukankah bumil memiliki mood yang berubah-ubah?" Rania menjeda sejenak ucapannya, lalu mengamati satu persatu reaksi Nova dan Fatma.
"Aku nggak tahu kenapa mood ku sekarang jadi mellow begini. Mudah nangis, mudah marah, dan mudah kesel sama orang," ucap Rania mengerungkan wajahnya.
Shaka menghela nafasnya lega. Ternyata, istrinya itu sangat memahami ilmu berumah tangga. Ia kira, Rania akan menceritakan masalah rumah tangganya.
"Aku dengar memang begitu. Katanya sih, itu bagian dari bawaan bayi. Kamu yang sabar, ya? Ini adalah bagian dari perjuangan seorang ibu." Fatma mengelus punggung tangan Rania dan menatapnya iba.
__ADS_1
"Benar. Semua ibu hamil pasti merasakan yang kamu rasakan saat ini. Termasuk ibu-ibu hebat kita. Ya, kan?" Nova tersenyum cerah secerah mentari sembari menggenggam kedua tangan sahabatnya.
"Maaf, aku nggak mau cerita yang sebenarnya ke kalian. Nggak mungkin aku membuka aib suamiku yang sama saja dengan membuka aibku sendiri," gumam Rania dalam hati.
Suara deringan ponsel berhasil membuat ketiga sahabat itu mengalihkan perhatian. Dan ternyata, suara ponsel itu berasal dari ponsel Shaka.
"Angkat saja, Mas," suruh Rania, seolah sudah tahu siapa yang menelepon.
"Tak penting. Biarkan saja," ucap Shaka singkat.
"Kalau penting gimana?" tanya Rania dengan nada sarkas.
"Biarkan saja," ucap Shaka tegas. Nova dan Fatma saling melirik. Mereka sama-sama bingung dengan situasi saat ini. Tapi dapat Fatma simpulkan, saat ini hubungan Rania dan Shaka sedang tidak baik.
"Diam!" sentak Shaka dan Rania secara bersamaan.
"Oke, oke. Rasanya, aku dan Fatma memang harus menyingkir dulu." ucap Nova, mengerlingkan sebelah matanya memberi kode. Beruntung, Fatma cepat tanggap. Sehingga, dengan mudah Fatma mengerti kode ting-ting yang diberikan Nova.
"Terimakasih," ucap Shaka yang terdengar ambigu di telinga Rania.
"Maksud kamu?" tanya Rania.
__ADS_1
"Telah menutup keburukan dan kejahatanku. Kamu benar-benar istri yang baik, Sayang. Aku semakin mencintaimu," bisik Shaka dan perlahan mendekati Rania.
"Alah, aku nggak butuh gombalan kamu. Yang aku butuhkan sekarang, telepon balik Aina. Siapa tau, ada sesuatu yang terjadi," tutur Rania yang memang ada benarnya.
"Baiklah, tapi kamu tetap di sini." Shaka segera mencari nomor kontak Aina dan memencet telepon memanggil di layar ujung kanan.
Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya Aina menjawab telepon.
"Ya, Mas. Ada apa?" [Aina]
"Ada keperluan apa kamu tadi memanggilku? [Shaka]
"Aku akan pulang. Jemput aku di bandara sore nanti," [Aina]
Tut.
Telepon dimatikan secara sepihak oleh Rania.
"Kenapa dimatikan, Mas?" Rania mengernyit heran.
"Aku nggak mau menjemputnya," jawab Shaka datar.
__ADS_1
"Oh ..." sebenarnya ada rasa perih kala mendengar Aina menyebut suaminya dengan panggilan Mas. Tapi dia bisa apa? Shaka juga suami dari wanita itu. Ah, tidak wanita. Karena ia yakin, Shaka pasti belum menyentuh perempuan itu.