Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Kondisi Rumah Aina


__ADS_3

Morgan terdiam mendengar pertanyaan Rania yang memang ada benarnya. Ya, dia bukan lagu suami Rania. Rania bukan lagi hak miliknya, melainkan milik kakaknya.


"Maafkan aku terlalu lancang menanyakan hal ini. Aku ... aku hanya belum bisa menerima sepenuhnya kalau kamu sudah bukan lagi ... milikku. Selama ini, aku selalu merasa kamu itu masih milikku." Morgan tersenyum kecut sembari menunduk tajam menatap jemari kakinya yang terasa kaku.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku pun merasakan hal sama saat kamu pergi dulu. Tapi aku berpikir, suatu saat nanti aku juga akan pergi meninggalkan orang-orang yang mencintaiku. Dari situ aku mulai merubah pandanganku, bahwa cinta yang besar dan abadi hanya untuk Allah. Aku pasrahkan kamu kepada-Nya waktu itu, aku memohon pada-Nya untuk menjagamu. Dan lambat laun, Shaka hadir menerobos ruang hatiku yang kosong, menyembuhkan luka yang waktu itu sulit mengering." Rania menatap kosong jam bulat yang tergantung di dinding kamar. Teringat kembali masa-masa terpuruknya. Masa di mana ia bagaikan layangan yang terombang-ambing oleh angin, tak tentu arah.


"Maaf, andai waktu itu aku tak sakit, aku tak lemah, mungkin kamu masih menjadi milikku."


"Jangan bicara seperti itu. Semua yang terjadi kepada kita adalah bagian dari garis yang Allah tetapkan untuk kita. Semangatlah! Aku yakin, akan ada pelangi setelah hujan. Jangan terjebak dengan masa lalu yang justru akan membuat kamu semakin terpuruk dan tak memiliki semangat." Rania tersenyum manis, lalu beralih menatap jam, mengingat sang suami tak kunjung kembali.


"Benar, setidaknya aku masih bisa melihatmu meski dengan status yang berbeda." Morgan membalas senyum Rania.


Perbincangan mereka teralihkan oleh suara pintu yang terbuka.


"Sayang ... nasinya udah dapat, nih--" Shaka terdiam, melihat Morgan yang menemui sang istri diam-diam membuat darahnya mendidih.


"Morgan?" Shaka menatap nyalang Morgan yang juga menatap datar Shaka.


"Jangan salah paham, Mas. Morgan cuma mau melihat keadaan aku aja, kok."

__ADS_1


"Melihat keadaan? Haruskah menunggu aku nggak ada dulu baru ke sini, begitu?" Shaka menaikkan sebelah alisnya.


"Cih, cemburuan!" Morgan berdecih, lalu membawa kursi rodanya keluar dari kamar inap Rania. Rania hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak beradik itu.


"Sayang, apa kamu akan beralih hati dan kembali sama dia?" tanya Shaka, dan tiba-tiba raut wajahnya berubah sendu.


"Kok kamu nanya gitu? Masih nggak percaya sama cinta aku ke kamu? Kurang bukti apa lagi, sih, Mas? Aku sampai dibikin hamil gini, masih aja nggak percaya," gerutu Rania, wajahnya cemberut membuat Shaka gemas.


"Aku cuma takut, Sayang. Aku percaya, hanya saja Morgan ... sepertinya dia masih sangat mengharapkan kamu kembali." Shaka menggenggam tangan Rania, lalu mencium punggung tangan Rania. "Aku sangat mencintaimu, Nia. Tolong, apapun yang terjadi tetaplah di sisiku." Rania terhenyak saat merasai punggung tangannya basah.


"Mas, kamu nangis?" Rania menatap Shaka yang menunduk. "Cieee ... takut kehilangan aku banget, ya?" goda Rania dengan nada mengejek.


"Sangat, Nia. Aku sangat takut kehilangan kamu. Apalagi, di sini udah ada bibit aku junior." Shaka tersenyum, sembari menyentuh lembut perut Rania yang sudah agak membuncit.


Shaka tersenyum dan mengusap jejak air matanya, dan segera menyambar bibir ranum Rania.


**


"Bun, sepertinya Ayah mulai jarang pulang, ya?" tanya Aina, yang sedang membantu sang ibu membuat nasi bakar. Ya, gelar dokternya hilang sia-sia. Saat ini, dia hanya membantu sang ibu jualan nasi bakar di depan rumahnya.

__ADS_1


"Iya, Nak. Entah mengapa, Ayahmu sulit sekali dihubungi. Ponselnya nggak aktif," ucap sang ibu sendu. Aina menghela nafasnya kasar, lalu menyentuh lembut pundak sang ibu menyalurkan kekuatan kepada wanita yang telah melahirkannya.


"Mungkin Ayah sangat sibuk, Bun. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ntar, nasi bakarnya nggak laku, loh." bunda Aina turut tersenyum, lalu memeluk putrinya erat. Meskipun, hatinya tak dapat berbohong. Dia sungguh sangat menghawatirkan suaminya.


Semoga Allah menjagamu, Mas ...


Di tengah pelukan hangat Aina dan sang bunda, terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu utama rumah mereka.


"Siapa, ya, Bun?" Aina melepas pelukannya, lalu melempar tatapan bingungnya kepada ibunda.


"Biar Bunda yang buka. Kamu teruskan dulu pekerjaannya, ya?"


"Ya, Bunda."


Bunda Aina berjalan perlahan, lalu segera membuka pintu bercat putih itu.


"Ah, Nak Alvin. Tumben ke sini. Silahkan masuk."


"Tidak perlu, Bunda. Saya kemari hanya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Harsa, bahwa pak Amran dinyatakan bersalah dalam kasus penculikan dan pemalsuan data kematian putra tuan Harsa--tuan muda Morgan."

__ADS_1


Duarrrr.


"Innalillahi! Mana mungkin, Nak?!" teriak Bunda Aina, setelah akhirnya wanita malang itu jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2