
"Aku harap, kamu tidak akan berharap lebih atas pernikahan ini. Aku tidak akan pernah mencintaimu, maaf," ungkap Shaka lirih. Ia tahu ini salah, sungguh tak berperasaan dan berdosa. Tapi, bukankah ini kemauan Aina sendiri?
Aina merasa luka dalam hatinya semakin menganga lebar setelah mendengar sekian dari pernyataan Shaka yang begitu menyakiti hatinya.
"Apa kamu tidak ada niat untuk belajar mencintaiku? Tak peduli dengan mengapa dan bagaimania kita menikah, Mas. Kita sebagai suami istri yang sah di mata agama. Harusnya, kamu bisa memperlakukan aku layaknya istrimu," protes Aina dengan wajah yang memerah menahan amarah dan tangis.
"Jangan berharap lebih, Aina! Aku sangat mencintai istriku, Rania. Aku akan memenuhi nafkah lahirmu. Tapi jangan berharap aku mau menyentuhmu, mengerti?" ucap Shaka dengan sorot mata tajam.
"Kau tega, Mas. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini. Kamu harus mau menyentuhku, Mas!" pekik Aina, lalu melepas hijabnya dan melepas bajunya dengan kasar, sampai terlihat dua gundukan kenyal yang masih terbungkus bra dengan rapih.
Shaka terhenyak melihat kelakuan istri keduanya. Ia menelan salivanya kasar melihat pemandangan di depannya. Tapi beberapa detik kemudian, ia menyingkirkan sisi kelakiannya karena hati dan tubuhnya hanya untuk istri tercinta.
"Sentuh aku, Mas!" seru Aina lantas menarik tangan Shaka dan disentuhkannya ke dada kenyalnya. Persetan dengan harga diri, yang penting ia bisa memiliki Shaka seutuhnya.
"Aina!" sentak Shaka lalu mendorong tubuh Aina hingga terjerembab ke lantai. Ia mengusapkan tangan yang sempat menyentuh dada Aina ke baju yang sedang ia kenakan seakan dia begitu jijik oleh tubuh Aina.
"Sebegitu bencinya kamu terhadapku, Mas? Aku istrimu, aku halal untuk kamu sentuh. Ah ... bukankah Rania belum tahu pernikahan kita? Bagaimana jika dia sampai tahu tentang hubungan kita sekarang? Lalu kandungannya?" Aina menyeringai licik. Sungguh, gelar dokternya tak berguna sama sekali, memalukan.
__ADS_1
"Katakan semuanya ke Rania. Maka aku akan menjatuhkan talak sekarang juga," sontak perkataan Shaka membuat Aina bungkam seketika.
***
Setelah pertengkaran hebat dengan Aina, Shaka baru ingat jika dirinya belum menghubungi istrinya sama sekali. Shaka memencet tombol panggilan video, dan beberapa saat menunggu akhirnya, terpampang wajah cantik yang begitu ia rindukan sedang memberenggut kesal di layar ponselnya.
"Sayang ... kenapa cemberut? Suami kamu lagi butuh mood booster ini," goda Shaka.
"Kenapa baru mengubungi? Kamu kecantol perempuan lain di situ?"
Shaka tertohok oleh ucapan Rania. Benar, firasat seorang perempuan 99% tidak meleset.
"Kenapa diam? Kamu tidak membenarkan pernyataanku, kan?"
"Mana mungkin? Itu tak akan terjadi, Sayang ... kamu saja sudah cukup-"
"Mas, siapa yang menelepon?" tiba-tiba Aina nekat memunculkan wajahnya di layar ponsel Shaka yang sedang terhubung video call dengan Rania.
__ADS_1
Rania tercenung, selanjutnya ia paham apa yang tengah terjadi di sana.
"Kamu benar menikah dengan Aina, Mas?" tanya Rania tak menyangka. Air matanya luruh begitu saja bersama rasa pedih yang luar biasa.
"Sayang ... aku terpaksa menikahi Aina karena kondisi Mama benar-benar lemah. Aku akan segera kembali dan menjelaskan semuanya, oke. Tolong, jangan salah paham dulu, ya?" ucap Shaka dengan raut cemas.
"Aina, jaga suamimu selama di sana. Kita sekarang sama-sama istrinya Mas Shaka. Punya hak dan kewajiban yang sama atas suami kita. Layani segala kebutuhan Mas Shaka selama di sana."
Tut.
Telepon dimatikan secara sepihak oleh Rania. Shaka tercenung akan respon istrinya setelah mengetahui pernikahan sirinya dengan Aina. Ia tahu benar, Rania pasti sedang dalam keadaan paling hancur saat ini. Dan malam ini juga, Shaka akan kembali ke istana kecilnya untuk menjelaskan semua yang terjadi selama menemui Nyonya Marsya. Dan juga, dia akan memperbaiki kesalahannya.
Sedangkan Aina, dia terdiam begitu saja mendengar perkataan Rania. Ia berpikir, sangat pantas jika Shaka tak ingin berpaling dari Rania karena wanita itu benar-benar bersih hatinya.
"Aku sungguh ceroboh, mengapa aku tidak mencari tempat yang aman untuk menghubungi Rania?" gumam Shaka lirih. Ya, saat ini Shaka sedang duduk di ruang tamu. Sungguh mudah bagi Aina untuk mengetahui dengan siapa Shaka berkomunikasi. Dan lebih gilanya lagi, Aina muncul di layar ponsel dalam keadaan hanya memakai bra saja.
Bisa kalian bayangkan, bagaimana perasaan Rania saat itu?
__ADS_1