Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Mengejar Cinta Nova


__ADS_3

Beralih ke Aslan, pria berusia 25 tahun itu tengah sibuk bergelut dengan usaha kafe barunya. Kafe tersebut menggeluti segala kuliner bertema pedas. Dari ayam, bebek, seafood, bahkan bakso pun tersedia di sana. Pun dengan dessert yang begitu menarik perhatian terlihat dari penampilannya.


Karir sudah, tinggal asmara. Hati yang sudah terpaku oleh pesona Nova, tak mampu pindah ke pesona perempuan lain. Sayangnya, hingga saat ini si perempuan masih terlihat menghayati status jomblonya. Setiap hari, Nova hanya bergelut di butik dan kampus saja, sama seperti Fatma.


Seharusnya, Rania pun sama dengan Nova dan Fatma. Namun, karena otak Rania jauh lebih encer dibanding kedua sahabatnya, membuat Rania dapat menyelesaikan pendidikannya lebih cepat.


Siang ini, Aslan tengah bersiap menuju kafe barunya. Dia berpenampilan begitu modis dan wangi dengan jam tangan yang tentu fantastis harganya.


Sesampainya di kafe yang diberi nama AyBak Kafe itu, Aslan turun dari mobil Majero-nya dan bergegas masuk ke kafenya dengan tatapan datar, sedatar kisah asmaranya.


"Lis, bagaimana kafe hari ini? Ramai?" tanya Aslan kepada Zarlis, sang manajer kafe.


"Lumayan, Bos. Kebanyakan dari mereka, lebih menyukai masakan seafood ketimbang yang lain." lapor Zarlis serius.


"No problem. Yang terpenting, usahakan tetap mengutamakan kualitas bahan, rasa, dan pelayanan. Juga, buat strategi marketing yang lebih menarik," ucap Aslan menyunggingkan senyum tipis.


"Baik, Bos." Zarlis menundukkan kepalanya khidmat.


"Ya! Apa strateginya? Pikirkan, Zar!" pekik Aslan emosi. Sungguh, mood hari ini naik turun seperti perempuan PMS.


"A-anu, Bos, pembelian minimal dua ratus ribu kita kasih dessert gratis bagaimana? Tapi khusus dessert yang kelas kecil saja," ujar Zarlis reflek. Ia bahkan tidak memikirkan hasil akhirnya.


Aslan tampak berfikir, lalu setelahnya ia pun tersenyum puas.


"Idemu boleh juga. Mulai besok promo berlangsung. Usahakan bikin banner yang menarik dan warna yang mencolok. Aku pergi ke butik adikku dulu." tanpa menunggu jawaban sepatah katapun, dengan santainya pria tampan itu meninggalkan Zarlis begitu saja.

__ADS_1


"Hah, Bosku sungguh menakutkan." Zarlis hanya mampu menggelengkan kepalanya tanpa berani protes dengan


kelakuan labil bosnya.


**


Kini, Aslan telah sampai di butik Rania. Jantungnya berdentum kala melihat sosok yang ia rindukan tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Apakah cinta telah hadir untuk seorang Aslan?


Aslan menghampiri Nova dan menyapanya dengan senyuman semanis coklat SKM coklat.


"Hai ..." sapa Aslan garing.


"Ya?" tanya Nova yang juga bingung harus menjawab sapaan Aslan bagaimana.


"Butik hari ini, ramai?" tanya balik Aslan canggung.


"Bagus. Apa Rania sudah tahu rencana ini?" tanya Aslan yang sebenarnya tidak terlalu fokus dengan topik pembahasannya, karena matanya masih fokus dengan wajah manis apa adanya.


"Sudah, justru yang mendapat undangan pameran itu malah Rania, Kak Aslan," kekeh Nova.


"Oh begitu ... lalu, ada mau bawa model gitu?" Aslan masih menatap manik mata berwarna hitam pekat dengan bulu mata lentik menggemaskan itu.


"Rencana ada, katanya kak Rania sendiri yang jadi modelnya. Palingan, cuma butuh tiga atau empat orang model dari kelas menengah. Dan rencana, kita akan menampilkan empat tema yang terdiri dari bold, freedom, joy, dan earth. Sehingga beberapa karya ada yang terbuat dari bahan daur ulang. Menantang gitu, loh," jelas Nova antusias.


"Menarik, tapi apa Rania mampu?" tanya Aslan yang sudah paham dengan arah pembicaraan.

__ADS_1


"Rania sendiri yang bikin tema, Kak Aslan. Nanti aku dan Fatma juga bantu kok. O iya, Kak, hari ini anak-anak mendapat pesanan souvernir pernikahan dengan jumlah 2000pcs, loh!" seru Nova bangga.


"Wah! Apa itu?" tanya Aslan tak kalah bangga.


"Mereka maunya vas bunga. Bentuk bebas, diameter 10cm, dan bahan rotan. Ribet, aku nggak yakin anak-anak mampu," lirih Nova sedih. Ia kasihan melihat anak-anak yang harus bekerja keras diusia mereka yang seharusnya masih bermain dan belajar.


"Kita pekerjakan orang luar saja kalau begitu. Anak-anak sekedar membantu. Bagaimana?"


"Boleh, tapi orang luar kan belum paham caranya,"


"Biar aku yang ajarin. Kamu suruh mbak penjahit carikan teman mereka yang lagi butuh pekerjaan. Masih ada waktu berapa hari, Nov?"


"Sekitar dua minggu, Kak,"


"Kalau begitu, sekitar sepuluh orang cukup. Fatma ke mana ini? Dari tadi nggak nongol tuh batang hidungnya," Aslan celingukan mencari perempuan ter-cerewet sejagat raya itu.


"Dia lagi di atas, lagi men-tryning mbak-mbak baru yang akan kerja di cabang baru butik," Aslan menganggukkan kepalanya mengerti.


"Anak-anak?"


"Sekolah, Kak. Jam segini jangan nanyain anak-anak," Nova mendengus.


"Lupa," Aslan nyengir kuda, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Berarti fix, besok sepuluh orang harus sudah ada dan bahan biar aku yang cari. Anak-anak suruh siapkan bahan lain dan siapkan tempat yang agak luas. Untuk pameran fashion style, itu urusan kalian, ya? Aku cuma bisa mendukung dan mendo'akan yang terbaik. Karena ini bagian dari mimpi Rania." Aslan menyentuh pundak Nova dan menatap wajah manis itu lekat.

__ADS_1


"Terimakasih telah menjadi bagian butik ini. Semoga setelah ini, kamu akan menjadi bagian dari keluarga Brahma." Aslan mengerlingkan matanya, lalu segera pergi meninggalkan Nova seorang diri yang tengah melongo. Masih berusaha mencerna apa yang Aslan utarakan.


__ADS_2