
King Aslan Brahma.
Author : Visual Shaka boleh ganti nggak nih?
...----------------...
Malam telah tiba.
Rania, Shaka, dan Airin tengah menikmati makan malam yang dimasak oleh Rania. Dengan tak tahu dirinya, Airin duduk di tempat yang biasa Rania duduki. Hingga akhirnya, Rania mengalah dan memilih untuk menjauh.
Mereka makan dalam keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar ketika berbenturan dengan piring.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Shaka beranjak ke ruang TV. Sedangkan Rania membereskan sisa-sisa makanan dan mencuci piring. Airin, dia bagaikan ekor yang menempel ke mana pun Shaka pergi.
Rania menghembuskan nafasnya kasar.
"Dia yang makan, aku yang nyuci. Dia yang numpang, aku yang repot sendiri. Harus tidur di sofa lagi," Rania mendengus sebal.
Di ruang TV, sebenarnya Shaka sangat sebal jika Airin selalu menempel seperti ini. Apalagi, posisi Airin yang bersandar di bahu Shaka. Membuat si pemilik risih dan langsung beranjak meninggalkan Airin.
"Kamu kenapa sih, Ka? Aku cuma numpang nyender, loh!" seru Airin, namun tak digubris sama sekali oleh Shaka.
Shaka celingukan mencari kucing kecil versinya. Ia menyunggingkan senyum tipis melihat yang dicari sedang fokus membereskan ruang makan sambil ngomel tak jelas.
"Andai aku bebas, aku ingin sekali men-design gaun pengantinku. Entah kapan aku nikahnya, sih. Hihihi ..." Rania cekikikan membayangkan hal yang masih fatamorgana itu.
"Masa iddah belum usai sudah menghayal duluan. Nyebur sumur baru tau rasa," kekeh Rania.
Shaka menahan tawa mendengar curahan hati Rania itu. Dia melangkahkan kaki mendekati Rania dan memeluknya dari belakang. Sontak Rania terkejut bukan main.
"KAK SHAKA!" pekik Rania, sambil berusaha melepaskan pelukan tersebut. Namun, Shaka tetap santai dan semakin erat memeluk pinggang ramping Rania.
__ADS_1
"Lepas, Kak. Nggak enak kalau pacar Kakak lihat," ucap Rania melembutkan nadanya.
"Dia bukan kekasihku. Hanya teman yang kebetulan baru diusir dari kontrakan. Aku hanya tidak tega melihatnya kesusahan. Apalagi, dia sebatang kara di sini. Jangan salah paham," jelas Shaka jujur.
"Terus, kenapa Kakak jelasin panjang lebar ke aku? Pacar bukan, selingkuhan bukan, istri apalagi," skak Rania.
Shaka membalikkan tubuh Rania agar menghadap ke arahnya.
"Kamu bukan siapa-siapa aku. Tapi aku yakin, setelah masa iddah-mu selesai secepatnya aku akan menghalalkanmu,"
Rania tertegun. Menikah dengan kakak ipar? Lucu sekali, bestie ... pikirnya.
"Mana bisa begitu, Kak? Aku adik ipar kamu. Apa kata orang nanti?" tanya Rania.
"Hanya mantan adik ipar! Nggak ada hubungan darah setetespun, Nia. Yang penting kita saling cinta, beres!" seru Shaka, membuat Airin penasaran dan mendengar percakapan mereka.
"Saling cinta Kakak bilang? Saling cinta yang menyekap aku seperti ini? Saling cinta yang melukai fisik dan batinku, iya? Di sini, hanya kamu yang sepuluh. Sedangkan aku NOL bahkan minus, Kak," ucap Rania panjang lebar.
Hening.
Dan selang beberapa menit, Rania yang terlebih dahulu membuka suara.
"Maafkan aku, Kak. Aku sudah bicara kasar sama Kakak." lirih Rania sambil menggenggam tangan Shaka.
Greeb!
Shaka memeluk Rania dengan tiba-tiba.
"Harunya aku yang minta maaf, Nia. Aku yang salah telah membuatmu terkekang. JmHanya menuruti kegelapan hati sesaat, aku membuat masa depan kamu terhambat," Shaka mengecup puncak Rania berkali-kali.
"Tak apa, Kak. Yang penting, sekarang Kak Shaka sudah sadar atas kesalahan Kakak,"
"Terimakasih atas kebaikan hatimu, Nia. Aku mencintaimu,"
__ADS_1
Rania terkesiap mendengar pengakuan Shaka.
"Maaf, Kak. Aku ...aku--" ucap Rania tergugu.
"Ya, aku tahu. Kamu pasti sulit melupakan Morgan. Aku sadar, pasti sulit untuk masuk ke dalam hatimu," Shaka terkekeh.
"Aku nggak tahu rahasia Allah, Kak. Meski pengetahuan agamaku rendah, sedikitnya aku paham dengan hukum agama kita. Tunggu sampai masa iddah-ku selesai, dan aku akan segera memberi jawaban itu," Rania mendongakkan kepalanya dan tersenyum kuda. Membuat Shaka gemas dan langsung mencium bibir Rania kilat.
"Kakak! Mesum, ih!" pekik Rania kesal.
"Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu. Tolong, kunci dulu pintu hatimu. Dan buka lagi setelah aku mengetuknya," bisik Shaka sambil mengecup kening Rania dalam.
"Jangan seperti ini, Kak. Aku masih dalam masa iddah. Jangan menambah dosaku," Rania menjebik.
"Maaf, saking senengnya aku jadi khilaf," Shaka nyengir kuda sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf v.
"Kalau begitu, bebaskan aku ya, Kak. Aku bosan di sini terus. Nggk digaji lagi," protes Rania, yang sontak membuat Shaka tertawa.
"Boleh, tapi dengan syarat. Kamu hanya boleh pergi ke butik, rumahmu, dan kuliah. Pulangnya ke sini. Gimana?"
Rania terdiam sejenak, memikirkan tawaran Shaka.
"Aku ingin tidur di rumah, Kak," protes Rania.
"Iya, atau tidak sama sekali," ucap Shaka tegas.
"Hah, baiklah," desah Rania.
"Anak baik. Aku jadi semakin mencintaimu, Nia," bisik Shaka, dan kembali membenamkan kepala Rania ke dadanya.
Tanpa mereka sadari, Airin yang diam-diam melihat adegan itu mengepalkan tangannya.
"Sial! Lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi pendampingmu, Shaka," gumam Airin penuh dendam.
__ADS_1