
?Satu bulan kemudian ...
"Sayang!" teriak Shaka, sambil berjalan dengan langkah tergesa.
Rania yang sedang menidurkan Raishaka tentu saja terkejut sekaligus kesal. Karena, Raishaka yang baru saja tertidur kembali bangun akibat teriakan Shaka.
"Kamu kebiasaan, ya, Mas! Raishaka baru saja tertidur, dia jadi bangun karena teriakanmu." Rania berkata dengan wajah masam dan sorot mata tajam.
"Maaf, Sayang. Aku tak tahu jika Raishaka tidur," kekeh Shaka tanpa merasa bersalah. Hal itu tentu membuat Rania semakin jengkel.
"Puasamu ku perpanjang satu minggu lagi,' ancam Rania ketus.
"Sayang ... aku datang ingin memberimu kabar gembira," decak Shaka frustasi.
"Apa?" tanya Rania ketus.
"Sebentar lagi, kita akan pergi ke kondangan. Akhirnya, kita bisa pake baju couple juga," ucap Shaka, seperti anak kecil yang mendapat ijin naik odong-odong.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Rania, dengan wajah berkerut.
"Adi dan Aina akan menikah tiga hari lagi, Sayang."
"Benarkah?" tanya Rania, dengan wajah berbinar.
"Iya, Sayang. Dan aku akan ngasih hadiah spesial buat Adi," jawab Shaka, sembari mengecup dahi Raishaka.
"Apa Aina sudah benar-benar mencintai Adi, Mas?" Rania pikir Aina hanya menjadikan Adi sebagai bahan pelampiasannya saja. Bagaimanapun juga, Rania tak mungkin dengan mudah melupakan perbuatan Aina kepada dirinya dan Shaka tempo dulu.
"Aamiin," sahut Rania.
Sedang di tempat lain, Adi dan Aina tengah sibuk dengan persiapan pernikahannya. Adi bahkan sudah mengajukan cuti dan Shaka dengan begitu pengertian mengijinkan Adi cuti selama satu bulan.
Kini Adi dan Aina tengah melihat dekorasi gedung yang bertema gold and elegan. Senyum dari keduanya tak pudar, sinar kebahagiaan begitu terpancar dari wajah mereka. Genggaman tangan mereka tak pernah sedetikpun merenggang. Aura pengantin begitu kuat terpancar dari sinar mata sepasang calon pengantin itu.
"Terimakasih kamu telah bersedia menjadi istriku, Ai," bisik Adi, sambil meremas lembut tangan Aina.
__ADS_1
"Harusnya aku yang makasih, Mas. Karena kamu mau menerima semua yang ada padaku, bahkan masa laluku," balas Aina, netranya menatap Adi dengan sendu.
"Kita sama-sama beruntung di sini, Ai," ucap Adi, tersenyum manis. Dan Aina membalas dengan senyuman pula.
Sedangkan di sebuah pantai, Morgan tengah menatap deburan ombak yang menyapu lembut permukaan kakinya. Matanya menerawang jauh lautan luas di depannya, baginya ... lautan itu tengah menertawakan nasibnya.
"Ya ... aku bahagia melihatmu bahagia. Tapi aku nggak bisa dengan mudah menghilangkan rasa ini begitu saja, Rania. Aku mencintaimu terlalu dalam. Aku mencintai orang yang salah," kekeh Morgan menertawakan dirinya sendiri.
"Aku sangat bodoh karena gagal move on. Aku selalu merasa, kamulah yang akan menjadi wanita terakhir dalam hidupku. Namun, nyatanya kamu adalah pasangan untuk kakakku sendiri. Apa aku masih memiliki hak untuk cemburu? Lucu, bukan? Mencintai kakak ipar sendiri." Morgan menendang kerikil kecil yang tergelatak mengenaskan di depan kakinya.
"Aaaaakkhhh! Bagaimana aku bisa melupakan kamu, Rania!" teriak Morgan, ia menyugar rambutnya ke belakang, tampak kilat kekecewaan di netra hitamnya.
Belakangan ini, Morgan lebih banyak menutup diri dan menghindari interaksi dengan orang lain, sekalipun itu adalah Tuan Harsa--Ayahnya sendiri.
Bahkan, ketika Raishaka lahirpun, Morgan masih enggan bertemu dengan keponakannya itu.
Sedangkan Shaka, bukannya ia menutup mata, hanya saja dia memilih membiarkan sang adik menentukan jalan dan keinginannya sendiri. Ia tak ingin mengganggu adiknya, karena sama saja dia menyulut api emosi bagi mantan suami dari istrinya itu.
__ADS_1