Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Percakapan Dari Hati ke Hati


__ADS_3

"Assalamualaikum, Rania. Cieee ...pengantin baru, jangan lupa pakai baju yang aku kasih, ya," goda Fatma melalui telepon.


"Wa'alaikumsalam. Kamu mau nanya kabar apa mau ngeledek, hah?" jawab Rania yang sedang berdiri di balkon kamar.


"Hahaha ..bercanda, Sayang. Pengantin baru tuh harusnya bahagia. Lagi PMS? Aduh, kalau iya, gagal dong icikiwirnya?"


"Fatma! Udah deh, jangan ngeledek terus. Aku tu justru lagi butuh teman untuk berbagi cerita," ucap Rania sendu dengan mata yang sudah mulai berkaca.


"Kenapa, Rania? Cerita sama aku,"


Belum sampai Rania menjawab pertanyaan Fatma, tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar di perutnya.


"Lagi telponan sama siapa, Sayang?" bisik Shaka, membuat bulu kuduk Rania meremang.


Tut.


Telepon pun langsung diputus sepihak oleh Rania.


"Lepas. Aku mau minum, haus," ucap Rania datar.


"Sayangnya, aku tidak mau. Bagaimana?" tanya Shaka dengan santainya.

__ADS_1


Sontak Rania memberontak dengan sekuat tenaga untuk melepaskan pelukan Shaka.


"Biarkan seperti ini dulu, Sayang," Shaka meletakkan dagunya di pundak Rania, sesekali menciumi telinga dan tengkuk Rania dengan lembut.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Kak. Aku risih," protes Rania masih dengan wajah datarnya.


"Tak bisakah kita berdamai saja? Aku berjanji akan membahagiakanmu. Dan aku akan selalu menjagamu. Tak kan ku biarkan kamu terluka apalagi meneteskan air mata. Setetes pun itu sudah menjadi kegagalan bagiku," ucap Shaka dan-


Tes!


Rania terkesiap merasakan pundaknya sedikit basah dan hangat.


"Menangiskah dia?" tanya Rania dalam hati.


"Lucu, ya? Aku yang sok jagoan dan arogan ini bisa secengeng ini?" Shaka terkekeh menertawakan dirinya.


"Ya. Kamu payah sekali," ucap Rania dan ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi Shaka.


Shaka menangkap tangan Rania yang masih sibuk mengusap air matanya dan mengecupnya.


"Aku mencintaimu. Maafkan aku telah membuatmu terluka karena ke-arogan-anku," Shaka kembali meneteskan air matanya. Dan Shaka tidak peduli, mau Rania risih atau semakin benci pun. Yang terpenting, istrinya itu tahu bahwa dirinya sangat mencintai Rania.

__ADS_1


"Jangan menangis hanya karena wanita. Di mana harga diri kamu, Kak?" tanya Rania yang sudah mulai melembutkan nadanya.


"Sekalipun aku tak punya harga diri, asal kamu terus bersamaku itu bukan masalah," Shaka tersenyum dan membenamkan kepala Rania ke dada bidangnya.


"Rumus dari mana itu? Sebagai seorang suami, kamu harus memiliki harga diri yang mahal, agar anak dan istrimu turut menghargaimu,"


"Anak? Kamu mau punya anak?" dari sekian panjang kalimat yang Rania lontarkan, kata anak yang dapat masuk ke otaknya.


Dengan wajah berbinar, Shaka bertanya kepada Rania kembali.


"Kamu sungguh ingin anak dariku, Sayang?" tanya Shaka lagi. Terlihat sangat jelas bahwa pria 25 tahun di depan Rania ini sangat mendambakan seorang anak.


"Aku belum siap, Kak. Untuk sementara, jalani saja dulu pernikahan ini sebagaimana mestinya. Aku, aku belum sepenuhnya melupakan Morgan. A-aku masih mencintainya, maaf," ucap Rania lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Hei, aku hanya perlu menunggu rasa itu hadir. Aku tidak menuntut keturunan. Kita masih muda, anggap saja kita sedang berpacaran. Jangan terlalu dipikirkan, aku akan sabar menanti saat itu tiba, i love you," Shaka mengecup kening Rania dalam.


Tak ada keniatan untuk Rania menghindari sentuhan fisik yang Shaka berikan. Dia sadar, seorang istri harus berbakti kepada suami. Meski terkadang, bayangan Shaka yang melukainya terlintas, Rania selalu meyakinkan hatinya untuk memantapkan hati bersanding dengan pria yang tiba-tiba arogan ini.


Sebab, hanya kepada Shaka dan Morgan lah Rania merasa nyaman. Mereka melindungi namun terkadang melukai. Dan Rania sudah terlanjur masuk ke dalam lingkaran sangkar yang mereka buat.


"Kenapa bengong? Masuk saja yuk. Dingin sekali di sini," ucap Shaka sambil menggendong tubuh Rania dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Mau apa nih masuk kamar gendong-gendongan segala? 😁


__ADS_2