Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Semua Untuk Bayiku


__ADS_3

Rania, Shaka, dan Ibu Fatma tengah duduk di kursi yang berbeda. Rania menatap dua orang di samping kiri dan kanannya secara bergantian, momohon penjelasan.


"Sayang, aku--"


"Jelaskan semuanya dengan jelas," ucap Rania penuh penekanan.


"Fatma yang telah meracunimu waktu itu. Kamu ingat saat kita ber-video call dan tiba-tiba aku menyuruhmu untuk berdiam di tempat?" Rania mengangguk. "Dia ada di belakangmu saat itu. Tapi sayangnya, aku terlambat. Sampai di tempat, aku melihatmu sudah tak sadarkan diri," jelas Shaka jujur.


"Benar, Nak. Fatma memang salah, dia melakukan itu karena terlalu dibutakan oleh cinta," sela Ibu Fatma.


"Cinta? Cinta siapa?" Rania tentu bingung dengan pernyataan Ibu Fatma.


"Fatma yang lebih dulu kenal dengan Nak Morgan, tapi malah kamu yang dicintai Nak Morgan. Saat itu, Fatma datang ke Ibu dan menceritakan semuanya. Ibu berusaha menenangkan dia, dan dia berusaha move on. Sayangnya, dia malah jatuh ke orang yang salah lagi. Yaitu dengan kamu, Nak Shaka. Dan kejadian bertepuk sebelah tangan itu terulang lagi."

__ADS_1


Duaaar!


Bagai disambar petir di siang bolong. Rania berusaha mencerna dengan fakta yang baru saja dia terima. Dia berpikir, bagaimana bisa dia tak tahu kalau sahabatnya tengah jatuh cinta? Mengapa selama ini Fatma tak pernah cerita?


"Mas?" Rania mencengkeram erat ujung bajunya. Bulir-bulir keringat mulai membasahi jilbabnya yang panjang di bawah dada. Matanya berkabut terhalang air mata yang menggenang.


"Sayang ... kendalikan dirimu." Shaka bergegas menghampiri sang Istri, lalu ia rangkul bahu yang tak berdaya itu.


Ibu Fatma bergeming. Ada sepercik penyesalan menyala di hati wanita paruh baya itu melihat Rania yang tampak syok. Tubuhnya turut bergetar, merasa cemas jikalau kandungan Rania terganggu. Bagaimanapun juga, wanita tua itu telah menganggap Rania seperti putri kandungnya sendiri.


"Tenangkan dirimu, Sayang. Ada bayi dalam perut kamu. Tolong, kendalikan emosi kamu." Shaka sangat mengerti bahwa kondisi psikis ibu hamil sangat sensitif. Dan yang terjadi sekarang bukan lagi mengenai psikis, tapi juga tekanan berat.


"Mas, aku harus apa? Kenapa kamu yang dia cintai? Kenapa kamu?! Dia kan tahu kalau kamu suami aku!" teriak Rania, masih tetap berada dalam dekapan Shaka.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Nak. Fatma mencintai Tuan Shaka sebelum kamu. Fatma nggak berani bercerita waktu itu karena dia malu dan apalagi masih berhubungan dengan Fikri, Nak. Jangan salah paham," bela Ibu Fatma untuk putrinya yang tengah dikurung di hotel prodeo.


"Begitu? Lalu, pantaskah dia mencelakai aku dan bayiku karena cintanya kepada suamiku yang sama sekali tak ku ketahui, Bu? Pantaskah dia ku sebut sahabat? Pantaskah dia melakukan hal keji kepadaku setelah apa yang aku berikan untuknya? Pantaskah, Ibu?" tanya Rania, pandangannya tajam dan penuh penekanan. Ibu Fatma mati kutu. Benar, apapun alasannya, Fatma tetap salah. Di sini, Rania sama sekali tak tahu akan perasaan putrinya. Ditambah Fatma tak pernah bercerita mengenai perasaannya kepada Rania.


"Apapun alasannya, maaf. Putri Anda tetap bersalah, Bu. Saya mohon, beri ruang untuk istri saya menenangkan hatinya." Shaka mengangguk sebagai kode supaya Ibu Fatma keluar dari rumahnya. Ibu Fatma mengerti, dia segera berdiri dan menunduk hormat kepada sepasang suami istri itu.


"Tunggu, Bu!" seru Rania, berhasil membuat langkah Ibu Fatma berhenti. "Sampaikan pada Fatma, kalau aku menunggu menunggu penjelasannya!" Shaka terhenyak, tak mengerti isi kepala ibu muda yang tengah hamil hasil karyanya.


"Maksud kamu, Nak?" tanya Ibu Fatma tak mengerti.


"Aku tunggu etika baiknya dan akan aku lihat tulus atau tidaknya dia," kata Rania tegas. Mendengar itu, memaksa kedua sudut bibir Ibu Fatma tertarik membentuk senyuman.


"Terimakasih, Nak Rania. Hatimu sungguh mulia," ucap Ibu Fatma dengan mata berkaca.

__ADS_1


"Aku melakukan ini karena aku menghargai jasa Fatma selama ini kepadaku, dan aku malu jika amarahku didengar anakku dan akan menurun kepadanya nanti. Aku tak mau itu terjadi."


__ADS_2