Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Mendadak Harus Menikah


__ADS_3

Kini Morgan telah dirawat di sebuah rumah sakit.Keadaannya begitu memprihatinkan.Sedangkan Marsya masih menangis di samping putranya.Menggenggam erat tangan putra sulungnya,se erat do'anya berharap sang putra segera sadar dan pulih kembali.


Tak berselang lama,Shaka datang dengan kondisi masih kacau.Matanya sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


"Ma" sapanya lirih.


"Ini semua salahku,aku salah karena tergoda oleh kekasih adikku sendiri,aku salah telah melukai hatinya Ma" ucap Shaka terisak sambil bersimpuh dihadapan sang Ibu.


"Sudahlah Nak,jadikan ini pembelajaran hidup yang sangat berharga untukmu.Yang penting sekarang adalah kesehatan Morgan.Jangan ulangi lagi hal itu Nak.Mama mengerti kamu mencintai gadis itu,tapi kamu juga harus tau kalau Morgan memiliki gangguan mental" isak Marsya memeluk Shaka erat,tangannya mengusap kepala Shaka mencurahkan seluruh rasa cinta dan sayang serta dukungan besar untuk kedua putranya.Apalagi Marsya sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi berkat Alvin,orang kepercayaannya.Bahkan dalang dibalik peristiwa inipun telah terungkap.Namun masih dirahasiakan.Marsya yakin,sebenarnya Shaka mencintai Rania tulus.Karena seorang ibu dapat merasakan apa yang anak-anaknya rasakan.


"Aku tidak mengerti kenapa aku tidak bisa mengendalikan perasaanku Ma.Bahkan ketika aku melihatnya pertama kali bersama para anak jalanan,rasa itu sudah hadir"Shaka meraup wajahnya kasar.Jika Morgan tidak mengalami kecelakaan,mungkin rasa bersalah tak akan sebesar ini.


"Lalu dimana gadis itu Ka?" Marsya menangkup wajah Shaka dan menatapnya lekat.


"Masih di hotel Ma,dia tak sadarkan diri setelah aku guyur dengan air hangat" jawab Shaka sendu.


"Suruh Alvin menjemputnya,bawa kesini" Marsya mengusap air mata Shaka.


"Papamu sedang menemui orang tua gadis itu"imbuhnya lagi


"Untuk apa Ma? Ayah gadis itu bekerja di perusahaan kita.Pasti dia sedang tidak di rumahnya" Marsya mengerti bahwa jawaban itu hanya alibi Shaka untuk menutup rasa cemburunya.


"Papamu sudah tahu Nak,kamu lupa bahwa ada Alvin si serba guna itu hmm?" Marsya mengecup kening putranya."Terkadang kita baru menyadari sebuah rasa terpendam terhadap seseorang setelah orang itu telah dimiliki orang lain,belajarlah untuk ikhlas ke depannya Nak"


Belum sempat Shaka menjawab,terdengar suara Morgan memanggil ibunya.

__ADS_1


"Ma...Rani..." ucap Morgan lirih.


"Dimana aku?" Morgan mengerjapkan matanya berkali-kali sebab kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


"Sayang,kamu sudah sadar Nak?" Marsya mengecup punggung tangan Morgan."Kamu di rumah sakit,jangan berfikir macam-macam,Ranimu akan segera datang"


Mendengar perkataan Ibunya,Shaka merasa nyeri di bagian ulu hatinya.Namun dia harus bisa ikhlas dan mengubur rasa itu dalam.


"Lihat kakakmu,dia telah menyesali perbuatannya.Maafkan dia Nak,tak baik kalian berantem seperti ini hanya karena kejadian yang tidak sepenuhnya kesalahan Kakakmu" Marsya berusaha mati-matian menahan air matanya untuk tidak keluar melihat Morgan yang enggan menatap Kakaknya.


"Morgan,maafkan aku.Aku tidak bisa mengendalikan hasratku.Benci aku! Hajar aku sepuasnya Mor.Lakukan apa yang kamu inginkan terhadapku sekiranya kamu dapat memaafkanku!!" Shaka menampar pipinya sendiri berkali-kali hingga pipinya berwarna merah efek panas.Sontak Marsya langsung mencekal dan memeluk erat Shaka.


Lelehan bening itu jatuh merosot membasahi pipi yang pucat itu.Namun Morgan masih enggan menatap Kakaknya.


Dan tiba-tiba..


"Wa'alaikumsalam" Marsya mengurai pelukannya dan menjabat tangan semua tamu yang hadir.Sebelumnya Tuan Harsa sudah menceritakan semua yang terjadi terhadap Rania,Shaka,dan Morgan kepada keluarga Rania.Juga mengutarakan maksud kedatangannya yaitu melamar Rania.Tentu saja Pak Yudi mendukung sepenuhnya namun tidak dengan Irene.Entah wanita berusia empat puluh tahun ini merasa lebih sreg dengan Shaka,bukan adiknya.


Setelah perbincangan antar keluarga itu selesai,datanglah Rania bersama Alvin.Kondisi Raniapun sama dengan Shaka,kacau.Apalagi sedikit demi sedikit ingatan ketika dirinya berubah menjadi gadis penggodapun mulai terlintas.


Rania menyalami semua orang yang berada di ruangan tersebut.Mulai dari kedua orang tuanya,Aslan,Tuan Harsa dan istrinya terakhir Shaka.Meski Rania masih enggan menatap Shaka karena alasan marah dan malu namun Rania harus bisa menunjukkan kekuatannya sendiri.


"Baik karena semua sudah hadir disini,maka acara akan segera dimulai,Rania duduklah di samping Morgan" ucap Tuan Harsa tegas.Rania dan Morgan terkejut dengan ucapan Tuan Harsa ini.


"Pa,apa maksudmu!!Aku tidak mau menikah dengan dia Pa" Morgan berusaha mengelak,meski hatinya berkata aku terima namun bukankah saat ini dia sedang marah?

__ADS_1


"Maaf Tuan,ini terlalu mendadak.Saya belum siap.Apalagi setelah kejadian ini,tentu saya akan lebih memilih untuk pergi jauh dari kehidupan Morgan" Irene segera memeluk Rania.Ia tahu apa yang dirasa oleh putrinya ini.


Morgan menatap Rania tajam,bukankah dia bersedia menikah dengannya?pikirnya.


"Ah sepertinya,Rania dan Morgan butuh waktu berdua.Mari kita keluar sebentar,biarkan mereka berbicara empat mata" begitu kata Pak Yudi.Semua orang pun menyetujui termasuk Shaka.


Setelah pintu tertutup rapat,Rania bergegas mendekati Morgan dan duduk di depan laki-laki lemah di depannya ini.


"Kamu ceroboh Mas!!! apa kamu tidak sayang nyawa kamu ha??apa kamu tidak memikirkan orang-orang di sekitarmu,orang-orang yang menyayangimu termasuk aku!!!" sergah Rania menggebu.Air matanya kembali luruh,entah apalagi yang ia tangisi saat ini.


"Aku baik-baik saja,kecelakaan ini tidak ada apa-apanya dibanding penolakanmu Ran! kenapa? kenapa kamu menolakku padahal kemarin kamu berkata Yes I Do hah?" Morgan menatap Rania dengan sorot kecewa.


"Mas,lihat aku! Aku kotor,tubuhku menjijikkan.Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku.Aku tak lebih dari seorang gadis penggoda,penggoda kakakmu sendiri Mas" Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan,sungguh dia merasa tak memiliki harga diri lagi.


"Aku mencintaimu Ran,mencintai seluruh yang ada dalam dirimu.Sekalipun dalam tubuhmu penuh dengan bakteri,maka akupun akan mencintai bakteri itu" ucap Morgan menggoda,berharap hati Rania segera luluh.


"Tak semudah itu Mas,yang aku goda itu kakakmu sendiri.Aku merasa..." belum selesai Rania berbicara,tiba-tiba Morgan menjerit kesakitan.


"Aaaahhh sakit..sakitt...to..tolong.." Morgan memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum.Saking gugupnya,bukannya menekan tombol darurat Rania justru keluar menemui semua orang yang berada di depan ruangan.


"Pak Shaka,tolong .." Rania memanggil Shaka dengan nafas memburu,air matanya tak terhitung lagi berapa ember yang ia keluarkan.


Semua orang terkejut,mereka semua berlari memasuki ruangan sedangkan Shaka memanggil dokter yang berjaga,Aslan memeluk Rania.Menyalurkan kekuatan kepada adiknya yang rapuh itu.


mohon maaf jika ceritanya masih kurang menarik,author masih belajar hehehe🥰

__ADS_1


kasih like nya dong biar aku semangat!! 😊


__ADS_2