
Hai ...
Sebelum kalian baca, ijinkan aku curcol di sini sedikit aja ya. Maafkan aku yang udah beberapa hari ini hilang.
Bukan nggak konsisten, tapi kalian harus tahu, aku dalam keadaan kurang baik selama beberapa minggu terakhir.
So ... mohon do'a dan dukungannya supaya aku lekas pulih dan bisa nyemplung di sini lagi ya?
Oke! Selamat membaca novel amburadulku!
**
Rania kembali fokus dengan pameran yang sebentar lagi akan segera diadakan. Dia begitu fokus dengan tumpukan bungkus pewangi pakaian yang akan dijadikan dress untuknya nanti.
Tak sendiri, karena Fatma dan Nova turut membantu. Hanya saja, rasa gelisah semakin mengguyur kepalanya sejak kepergian Shaka.
Ya, Shaka memang pergi ke perusahaan. Tapi entah mengapa, Rania selalu ingat akan kepulangan Aina yang ingin dijemput Shaka di bandara.
Meski berusaha ikhlas, tetapi hal yang wajar jika cemburu, bukan?
Suara ponsel berdering berhasil membuat lamunan Rania buyar seketika.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Ada apa?"
"Oh, pergilah."
Tut.
Telepon dimatikan sepihak oleh Rania.
Tes.
Cairan bening hangat berasa asin itu meluncur bebas di pipi Rania yang belakangan ini semakin tirus.
__ADS_1
"Ran? Kamu kenapa?" tanya Fatma lirih. Entah mengapa, melihat kondisi Rania seperti ini Fatma merasa sahabatnya itu menderita tekanan batin.
"Nggak papa, Fat. Aku hanya sedih suamiku pergi menyusul Mama Marsya ke sana sendirian," kilah Rania.
"Kamu yakin hanya itu masalahnya? Aku bukan sahabatmu yang baru beroperasi satu dua tahun, loh?" desak Fatma sambil menatap Nova yang sepertinya merasakan hal sama dengannya.
"Sungguh. Untuk apa aku bohongin kalian?" Rania memasang senyum terindahnya agar kedua sahabatnya yakin.
"Baiklah. Tapi suatu hari nanti, aku harap kamu akan cerita yang sesungguhnya sama kita, Ran. Aku nggak mau kamu melewati beban berat tanpa kita," ucap Nova lalu mengusap bahu Rania dengan lembut.
"I'm okey." pungkas Rania sambil mengusap air matanya yang hendak jatuh dari dagunya.
**
Sore telah tiba. Rania memesan taksi online untuk membawanya pulang. Karena ia yakin, suaminya pasti sangat sibuk perihal kepulangan Aina.
Taksi yang dipesan pun tiba. Rania segera naik dan menutup pintu taksi. Selama perjalanan, Rania hanya diam tak berniat membuka suara apapun meskipun si sopir taksi bertanya walau hanya basa-basi.
Hingga tak terasa, ia telah sampai di depan rumahnya. Ibu hamil itu berjalan memasuki rumahnya dengan langkah gontai.
Tak sadar dengan pintu yang tak dikunci karena melamun. Kini ia juga tak sadar jika ada seorang perempuan yang sedang masak di dapurnya. Dengan tatapan kosong, Rania memasuki kamarnya dan langsung membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah itu, barulah Rania sadar jika ada orang lain di rumahnya karena ia mencium bau masakan.
"Siapa yang masak di rumah kosong ini?" gumam Rania sambil memakai piyama.
"Aina, Sayang."
Rania terjingkat kaget mendengar suara seorang laki-laki dari belakangnya.
"Jangan kaget. Aku udah pulang dari tadi dan menunggumu loh, Yang." Shaka memeluk Rania dari belakang dan menciumi bahu istrinya yang belum tertutup sempurna.
"Kenapa dia di sini?" tanya Rania dingin.
__ADS_1
"Dia memaksaku untuk bertemu denganmu. Tidak menginap, dia pulang," terang Shaka yang terus mengendus bau khas istrinya.
"For what?" Rania mengernyit heran.
"I don't know, Baby," lirih Shaka. Sesaat Rania sadar, ada yang tidak beres dengan suaminya ketika merasakan benda keras di bawah sana.
"Mas, aku capek. Jangan sekarang, ya?" rengek Rania manja. Padahal memang dia sedang tidak mood untuk melakukan itu.
Tapi apa boleh buat? Kini tubuhnya sudah terlentang di ranjang tanpa sehelai benang pun. Karena suaminya terus mendesak dan memberinya sentuhan-sentuhan memabukkan. Perlawanannya tak mungkin berguna.
Shaka terus menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut dan ungkapan cinta.
"Aku seperti hampir gila ketika aku membuat keputusan untuk menikahinya, Sayang," bisik Shaka sambil memijat dan memelintir puncak bukit oreonya.
"Tapi ... kenapa terussshhh ... dilanjutkan?" tanya Rania setengah sadar karena perlakuan suaminya yang begitu membangkitkan gairahnya.
"Aku ingin memberi Mama kebahagiaan. Karena aku takut umur Mama tak lama lagi. Cukupkah penjelasanku?" Shaka mengulum choco chips berwarna pink itu dan sedikit menggigitnya.
"Yaaahh ..." balas Rania sambil memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sekalipun aku menikahi Aina, itu tak akan mampu membuatku berpaling darimu," Shaka melepaskan mainan yang ada di mulutnya dan berpindah ke perut Rania.
"Di sini, aku yang lebih tersiksa. Aku diserang gundah gulana. Rasa bersalah dan penyesalan semakin besar kala melihatmu tak seceria dulu," ciuman Shaka berpindah semakin turun dan turun hingga sampailah di bagian paling inti dari tubuh sang istri. Ia membenamkan wajahnya di sana hingga terdengar suara decapan yang berasal dari mulutnya.
"Mmmmhh ... Mas, jangan kesitu. Kemarilah, aku ingin memelukmu," gumam Rania yang tengah merasakan tubuhnya semakin panas dan menggila. Shaka tak mengakhiri kegiatannya, hingga akhirnya suara jeritan Rania beserta cairan yang mengalir dari pusat tubuh Rania barulah berhasil menghentikan aksinya.
Shaka tersenyum puas melihat wajah istrinya merah merona dan tatapannya yang sayu.
"Apa kamu masih mencintaiku seperti dulu?" bisik Shaka tepat di telinga Rania sembari meninggalkan gigitan kecil di sana.
"Sangat,"
"Kalau begitu, jangan diamkan aku. Bersikaplah seolah Aina bukan siapa-siapa dan nggak ada apa-apa." pungkas Shaka, lalu berkahir dengan suara decitan dan des*han yang hanya terdengar dari dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Sedang di luar kamar, Aina tengah meremas meja di depannya dan diiringi tangisan yang sudah tak mampu dia tahan.
Bagaimana mungkin suaminya tak mau menyentuhnya padahal ia sudah bersusah payah menggodanya, bahkan Shaka rela menunggu istri tuanya pulang dan melampiaskan nafsunya kepada Rania?