Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Aku Memaafkanmu


__ADS_3

"Tapi akhirnya, kamu nyakitin aku sangat dalam, Fat," isak Rania, tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Shaka.


"Maafkan aku, Ran. Aku menyesal, aku merasa sahabat terb*ngsat. Pukul aku, tampar aku, bunuh aku kalau perlu supaya kamu puas, Ran," raung Fatma, seraya bersujud di kaki Rania. Dia tumpahkan segala penyesalan yang menghantui dirinya selama di penjara.


"Aku maafin kamu, Fat. Meski demikian, aku nggak bisa kembali seperti dulu lagi. Tentu kamu paham perasaan seorang ibu ketika keselamatan anaknya terancam," jawab Rania sendu. Hatinya terasa bagai teriris melihat sahabat terbaik versi dirinya malah bersujud dan memohon ampun padanya.


"Aku janji akan berubah dan akan aku tebus semua kesalahan aku di penjara. Aku terima hukuman itu dengan lapang dada." Fatma menarik dirinya, lalu memegang erat tangan Rania. "Percayalah, aku menyesali perbuatanku. Aku menyayangimu, Rania." Fatma mengecup punggung tangan Rania, lalu menatap dan mengangguk kepada polisi sebagai kode obrolannya telah berakhir.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan dan Nona. Tersangka telah memenuhi keinginan Anda, telah meminta maaf kepada Anda secara baik-baik dan bersedia menerima hukumannya. Kalau begitu, kami pamit undur diri dan semoga sehat selalu," ucap seorang polisi, seraya menarik lengan Fatma supaya berdiri di tengah kedua polisi tersebut. Mereka bertiga berbalik badan dan melangkahkan kaki mereka menuju pintu utama.


Namun ...


"Tunggu!" seru Rania, yang berhasil membuat ketiganya berhenti detik itu juga. Rania melangkahkan kakinya mendekati Fatma, lalu memeluknya dari belakang. "Jaga diri baik-baik, Sahabatku," bisik Rania, dan akhirnya keduanya saling tersenyum dalam iringan derasnya air mata. Tubuh Fatma bergetar tak kuat menahan rasa bersalah sekaligus bahagia yang mendesak ingin keluar, akhirnya tercurah jua, lega.


"Maafkan aku, Rania. Aku sungguh sangat menyesal," isak Fatma. Dapat Fatma rasakan betapa hangat pelukan sahabat yang telah disakitinya.

__ADS_1


Setelah Fatma pergi, barulah Rania terduduk ke lantai. Raungan tangisnya sangat menyayat hati Shaka, sebagai suami yang gagal menjaga istrinya. Sedari Fatma dan Rania berpelukan, Shaka tak bisa berbuat apa-apa selain mengawasi keduanya dan turut bahagia melihat kedua sahabat itu akur kembali. Meski Shaka tahu, kertas putih yang ternoda setitik saja tak akan kembali seperti semula bersih walaupun telah dibersihkan sekuat tenaga.


"Sayang, tenangkan dirimu. Kamu hebat, aku bangga sama kamu." Shaka memeluk Rania erat, diusapnya bahu Rania yang bergetar.


"Kenapa dia tega sama aku, Mas? Kenapa dia jahat? Dan kenapa aku tak kuasa melihatnya terluka?" raung Rania dalam pelukan Shaka, tangannya mencengkeram erat ujung kaos suaminya.


"Dia sedang gelap mata, Sayang. Dan sekarang dia sudah menyadari serta menyesali perbuatannya," ucap Shaka menenangkan.

__ADS_1


"Aku sakit melihat dia sampai bersujud di kaki aku. Padahal, menurut aku ... aku juga salah, Mas. Harusnya kamu milik dia, Morgan milik dia. Kenapa aku yang jadi milik kamu? Kenapa aku nggak peka?" tanya Rania.


"Kita dipertemukan oleh Allah dan akan dipisahkan pula oleh Allah. Kamu harus yakin itu. Jadi, kita nggak akan mudah berpisah jika hanya karena pengakuan Fatma."


__ADS_2