
Lain halnya dengan Aina yang semakin dekat dengan Adi. Sejak mendapat saran dari ibunya, Aina mulai membuka hati dan memberi peluang kepada Adi untuk mendekatinya. Dan entah mengapa rasa itu telah muncul begitu saja. Atau karena memang Aina ya g telah jatuh cinta dengan Adi sejak lama namun tak disadarinya.
Keduanya semakin dekat seperti lalat dan lem lalat, sulit dipisahkan. Meski begitu, Adi tak kunjung memberi kepastian. Sehingga membuat Aina selalu cemas setiap harinya. Cemas Adi ternyata tak memiliki rasa apa-apa terhadapnya. Seperti siang ini, Adi membantu Aina melayani para pembeli, sedangkan yang memasak adalah ibu Aina.
"Adi, meja nomor dua pesan nasi goreng dan jeruk hangat, ya!" seru Aina, yang sedang membersihkan piring bekas para pengunjung.
"Iya!" Sahut Adi dari kejauhan yang sedang mengambil pesanan salah satu pengunjung di dapur.
Namun, Adi membantu hanya ketika di jam istirahat saja. Itu pun dia sudah mendapat ijin dari Shaka. Karena Shaka mendukung penuh hubungan Adi dan Aina.
Karena, jika Aina bersama Adi maka rumah tangganya akan semakin adem, ayem, tentrem, gemah ripah loh jinawi.
Dan siang ini, Adi telah menyiapkan kejutan untuk Aina. Kejutan bagi Aina dan olahraga jantung baginya.
Tepat ketika warung mulai padat oleh para pengunjung, Adi menghilang. Hal itu tentu membuat Aina bingung sekaligus kesal. Dengan bibir mengerucut dan wajah masam, Aina terpaksa melayani para pengunjung seorang diri. Meski begitu, di depan para pengunjung Aina terpaksa harus melebarkan senyumnya. Karena biasanya, masakan lezat tak akan nikmat jika penjual tak ramah, judes, apalagi galak. Pembeli akan berpikir, niat jualan apa ngajak berantem?
Namun, tiba-tiba datang seorang badut mickey mouse yang menari-nari dan mengelilingi Aina. Para pengunjung pun tertawa melihat tingkah badut itu. Tangan badut itu juga menggenggam sekuntum bunga mawar putih, lalu dia berjongkok bertumpu pada satu kaki dan memberikan bunga itu untuk Aina.
Aina menutup mulutnya dengan kedua tangan dan dengan binar kebahagiaan. Lalu menerima bunga itu dengan senang hati, dan menghirup aroma bunga tersebut dalam-dalam.
"Terimakasih," katanya.
Namun, ketika badut itu berdiri, para pengunjung juga berbondong-bondong memberikan sekuntum bunga mawar putih untuk Aina. Aina semakin bingung tak mengerti.
__ADS_1
"Ini maksudnya apa, Bu?" tanya Aina, kepada seorang ibu yang juga baru saja menyerahkan bunganya. Namun, Ibu itu hanya tersenyum penuh misteri.
Tak sampai di situ, tiba-tiba ada anak kecil yang membawa lollipop berbentuk hati lalu berkata, "Kakak, ini permen cinta dari Kakak itu di sana."
Anak kecil itu berkata sambil menunjuk salah satu pohon yang berada tepat di depan warung Aina. "Terima dia, ya, Kak. Biar aku dikasih permen banyak sama Kakak ganteng itu," kata anak yang berusia sekita delapan tahunan itu.
"Siapa dia, Dek? Itu hanya pohon," ucap Aina, sambil menerima lollipop tersebut. Namun tiba-tiba ...
"Aina ... lollipop itu rasanya manis dan menghibur. Sedangkan lollipop yang kamu pegang, itu berbentuk love yang artinya cinta. Karena itu, aku akan berusaha memberikan kesan manis dan menghibur di kala kau terluka. Aina, maukah kamu menerima cintaku?" Adi keluar dari balik pohon, dengan wajah tertutup rangkaian bunga mawar putih. Pria pemberani itu lantas berjongkok dengan bertumpu satu kaki, dan menyerahkan bunga itu ke hadapan Aina.
"Terimalah bunga ini jika kau menerima cintaku, dan letakkan bunga yang ada dalam genggamanmu beserta lollipop itu jika kau menolakku," ucap Adi, menatap Aina dalam-dalam dan penuh harap.
Aina terdiam, terpaku dengan kejutan demi kejutan yang Adi rencanakan untuknya sedemikan rupa. Ada rasa bahagia yang menyala, berbunga, dan menggelitik hati seorang Aina yang baru-baru ini merasa hampa.
Barulah, Aina kembali fokus dengan laki-laki di depannya.
"Terima! Terima! Terima!" teriak para pengunjung.
Aina menghela nafasnya berat, lalu dia meletakkan bunga dan lollipop ke meja kasir. Hal itu tentu membuat raut wajah Adi yang semula berseri, kini surut kembali. Aina tersenyum penuh arti, lalu dia turut berjongkok berhadapan dengan Adi yang sedang menundukkan kepalanya.
"Maaf, bunga dan lollipop itu terpaksa aku letakkan di meja," bisik Aina.
"Ya, aku paham. Aku tahu, hatimu pasti akan sangat sulit menerimaku yang hanya seorang bawahan Tuan Shaka. Aku menyadari itu," jawab Adi, tersenyum hambar.
__ADS_1
"Kamu salah paham rupanya," kekeh Aina pelan.
"Maksudmu?" Adi mendongak, menatap wajah Aina yang tak jauh dari wajahnya. Mereka saling bersirobok tatap dalam kegamangan.
"Adi, jika aku tak meletakkan bunga dan lollipop itu, bagaimana caraku menerima bungamu yang sebesar tubuhku ini? Apa bisa aku menerima bunga ini menggunakan kaki?" bisik Aina, tepat di telinga kanan Adi. Lalu menerima rangkaian bunga besar itu dan menciumnya.
Kedua mata Adi berbinar, disertai lahar panas yang mulai mendesak ingin keluar.
"Aku terima bungamu, cintamu, dan dirimu," ucap Aina pelan.
Sorak para pengunjung tak dapat dicegah, seakan turut merasakan kebahagiaan yang tengah Adi rasakan.
"Sungguh? Kau sungguh menerimaku?" tanya Adi memastikan.
"Ya! Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Aku tak ingin hanya sekedar cinta, pacaran, lalu ditinggalkan."
"Maksudmu?" Adi masih tak mengerti.
"Aku ingin kita pacaran setelah menikah."
__ADS_1
Barulah Adi berdiri dan berjingkrak layaknya anak kecil yang diijinkan bermain hujan oleh ibunya. Aina tersipu melihat reaksi Adi, begitu pula para pengunjung dan Ibu Aina yang turut terharu.