Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Trauma


__ADS_3

Kini Aslan, Nova, Rania, dan Shaka tengah duduk di ruang keluarga kediaman Brahma. Tuan Yudi dan istrinya masih dalam perjalanan setelah dikabarkan bahwa Aslan menghamili Nova. Suasana di ruang tersebut menjadi tegang dan kaku.


Rania yang tak biasa diam itu mencoba untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Kak, bisa jelaskan?" tanya Rania datar.


"Sayang, itu semua nggak bener. Kakak nggak menghamili Nova sama sekali," protes Aslan dengan wajah panik, seperti suami yang ketahuan berselingkuh.


"Terus, aku percaya, gitu?" sengit Rania. Meskipun Nova sahabatnya, dia tetap tak terima jika Nova melakukan hubungan terlarang dengan kakaknya.


"Ran-"


"DIAM!" sentak Rania dengan nafas tersengal. Sontak Nova bungkam seketika, begitu juga dengan Aslan yang tak menyangka dengan sikap adiknya.

__ADS_1


"Aku mau kamu tes kehamilan sekarang, Nova. Aku punya testpack," ucap Rania dingin dan menatap kosong dua tersangka di hadapannya.


"Sayang, kendalikan emosimu. Bukankah kak Aslan juga bilang dia tidak menghamili Nova?" Shaka mencoba meredam emosi istrinya, yang tentu tidak baik untuk janinnya.


"Iya, enggak bikin hamil tapi bikin bunting. Pantes kamu sekarang tambah berisi ya, Nov?" Rania melirik sinis Nova. Bagaimanapun juga, mood ibu hamil itu berubah-ubah dan mudah tersentil, bukan?


"Ran, aku benar-benar nggak menghamili Nova. Nova tu korban pemerkosaan tukang parkir butik kamu. Aku yang menolongnya, aku yang melihat kejadiannya. Dan aku yang mengobati lukanya!" teriak Aslan frustasi. Rania dan Shaka tercenung, antara percaya dan tidak percaya. Tapi jika benar itu kenyataannya, Rania akan menjadi orang paling bersalah atas kejadian ini.


Dan tiba-tiba, terdengar Nova yang tengah terisak sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Nova, apa benar kamu-" ucapan Rania terpotong kala Shaka menyentuh punggung tangan Rania dan menyipitkan matanya, sebagai kode jika mereka berdua hanya perlu diam dan mendengarkan penjelasan.


"Kak ... aku ta-kut di-dia datang lagi ..." isak Nova pilu. Aslan yang terlalu mencintai Nova itu sontak segera merengkuh tubuh ramping itu dengan erat.

__ADS_1


"Aku di sini. Kamu akan aman bersamaku. Anggap saja, aku adalah ayah kandung bayi itu. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, Nova. Bukankah kita saling mencintai?" Aslan menangkup pipi Nova dan mengusap pipi basah itu menggunakan ibu jarinya.


"Lihat mataku. Apa ada kebohongan di dalam sana?" Nova menatap manik coklat itu, dan menundukkan wajahnya segera.


"Aku kotor, Kak. Aku terlalu hina untuk bersanding denganmu," tolak Nova, yang tentunya Aslan tahu itu adalah kebohongan. Aslan sangat yakin Nova telah mencintainya.


"Dengar aku baik-baik. Aku mencintaimu beserta semua yang ada dalam dirimu. Baik burukmu, kurang lebihmu, dan termasuk janin yang ada dalam kandunganmu. Aku tak peduli siapa ayah janin itu dan bagaimana dia hadir di rahimmu. Karena yang aku tahu, aku hanya perlu mencintainya dan mencintai ibunya. Apa ini sudah cukup meyakinkan, Calon Istri?" goda Aslan, berusaha mencairkan suasana.


"Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu, Kak? Apa mereka tak malu memiliki menantu korban pemerkosaan sepertiku?" Nova masih merasa insecure dan takut jika dirinya tak diterima di keluarga Pradikta.


"Mereka pasti akan memberi restu, Nov. Tapi jika mereka tak merestui sekalipun, aku masih memilik keyakinan dan kekuatan untuk menggapai restu mereka," ucap Aslan mantap. Rania dan Shaka menatap pasangan di depan mereka dengan rasa haru biru. Ketulusan Aslan begitu tajam, meski Nova masih mengambang.


Tapi cinta Aslan begitu kuat mengikat hati Nova yang sedang mengidap trauma. Nova bahkan melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meminum bayigon ukuran besar. Kalau saja Aslan tak hadir tepat waktu, tentu nyawa Nova tak terselamatkan.

__ADS_1


"Aslan! Apa yang kau lakukan bocah?!" teriak seorang wanita dari arah luar.


"Mama?" gumam Rania, Shaka, dan Aslan bersamaan.


__ADS_2