
Sebelum kalian baca kelanjutan cerita, Assa mau ngucapin Minal Aidin Wal Faizin buat kalian semua. Mohon maaf lahir batin ya ...
*InsyaAllah mulai hari ini, aku mulai rajin update lagi. Aku ucapkan banyak terimakasih untuk kalian yang selalu setia nunggu part selanjutnya, dari aku nulis urak-urakan sampai aku berhasil mendapatkan level 3. Aku sangat bersyukur karena kalian selalu dukung karya perdana aku. Dan aku berdo'a, semoga kalian selalu diberi kesehatan dan keberkahan. Aamiin ...
I Love You♥️*
Keesokan paginya, Aslan baru saja mengerjapkan matanya setelah semalam penuh mata yang bening itu terpejam. Ia bergegas membersihkan diri dan setelahnya, ia menuju lantai bawah untuk mengisi perutnya yang kosong. Sebelumnya, ia sudah diberi tahu oleh Mbok Mun mengenai Rania yang sedang berkunjung.
Mendengar hal itu, Aslan sangat bahagia untuk menyambut pagi dan bertemu dengan sang adik. Karena semalam, ia tidak tega mengganggu istirahat adik yang begitu dicintainya itu.
Dan di sinilah mereka berada. Di ruang makan yang memiliki satu set meja makan panjang dengan kursi empuk berjumlah delapan buah.
"Mbok, apa Rania belum bangun?" tanya Aslan heran.
"Apa?! Aku di sini!" seru Rania yang sudah berdiri cantik di tangga, dan tentunya bergandengan mesra dengan sang suami. Hal itu membuat Aslan cemburu.
"Cih. Dasar pengantin baru," gumam Aslan lirih.
Bersamaan dengan itu, Mbok Mun datang dengan membawa mangkuk berisi opor ayam kampung kesukaan Aslan.
"Mereka sangat serasi, Den," bisik Mbok Mun tersenyum hangat. Membuat Aslan yang sedang cemberut itu langsung menerbitkan senyuman manja kepada wanita paruh baya itu.
"Selamat pagi kakak jomblo abadi!" seru Rania mengecup pipi Aslan kilat.
"Sial. Untung sayang, kalau enggak udah aku sumpal tuh mulut pake toples kerupuk," ujar Aslan. Namun, ketika mata itu menatap sesuatu yang asing, mulut tebalnya terbuka lebar menandakan keterjutan.
__ADS_1
"Ran, kamu berhijab?!" seru Aslan dengan wajah berbinar.
"Iyes. Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Rania dengan segala kegundahannya.
"Ada," jawab Aslan.
"Apa? Yang mana?" jawaban tersebut membuat Rania gelisah. Shaka hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukan istri dan kakak iparnya itu.
"Tambah cantik kamu tu. Makanya aneh," ujar Aslan lirih, namun masih terdengar sampai ke telinga Rania. Membuat si empunya tersipu malu.
"Ah, kakak mah ... bikin aku tambah gemoy ala geboy deh," ucap Rania dibikin genit.
"Sudah, sudah. Ayo makan, kasihan nasinya udah dingin," sela Shaka. Dan berhasil membuat pasangan Tom and Jerry itu menghentikan aksi konyol mereka.
"Mas, kamu duduk sebelahan sama aku sini," ucap Rania kesal karena Shaka duduk berseberangan dengannya. Shaka pun mengangguk setuju.
Sementara itu, Fatma tengah menatap jas pengantin milik Fikri dengan tatapan kosong. Hatinya benar-benar hancur saat ini.
Semenjak kejadian tempo lalu, Fatma memblokir semua akses yang berhubungan dengan Fikri. Ia tak mau lagi berurusan dengan laki-laki brengsek itu.
Nova hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Fatma.
"Nggak bisa move on, Bu?" goda Nova.
"Bukan nggak bisa, tapi belum bisa," ucap Fatma ketus.
__ADS_1
"Kalau mau move on, jangan terus-terusan memandang jas itu, lah." sahut Nova sambil berlalu meninggalkan Fatma.
Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan cantik, make up tebal, dan berpakaian seksi.
"Permisi," ucap perempuan itu.
"Silahkan, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nova dengan senyuman ramah.
"Benarkan ini butik milik Rania?" tanya perempuan itu tanpa basa basi.
"Benar. Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Nona dengan Rania?" tanya Nova lagi curiga.
"Tidak, aku hanya memastikan saja. Katanya, perempuan murahan itu sudah punya butik sendiri. Cih, yang benar saja. Dinding lembab, sempit, pengap, bau, dan ini, pakaian murahan. Nggak cocok sama aku," sarkas perempuan itu.
"Heh! Kalau kamu datang cuma mau ngehina, mending kamu pergi deh. Mulut sampah tempatnya ya di tempat sampah, kan? Dan asal kamu tahu, mau secantik dan sekaya apapun kamu, level kamu tu masih jauh dari Rania. Karena apa? Karena, meskipun butik dia jelek dan apalah katamu tadi, dia nggak pernah ngerendahin orang kaya kamu. Ngerti?" balas Nova yang tak kalah pedas.
"Kamu? Dibayar berapa kamu sama dia? Oh, jangan-jangan kamu sama murahannya lagi sama dia," serang Airin lagi, padahal dalam hatinya, ia sangat down dengan hinaan Nova tadi. Ya, dia Airin. Wanita itu masih berharap kepada Shaka dan akan mencoba sekuat tenaga untuk menghancurkan kebahagian Rania.
"Aku dibayar berapa pun itu bukan urusan kamu. Karena aku di sini kerja, halal, dan yang pastinya aku nggak jual diri. Tau deh, kalau situ. Dilihat-lihat dari posturnya, kayanya kamu udah nggak perawan deh. Apalagi baju kamu yang ... maaf ya, yang murahan dan kurang bahan itu, pasti kamu open B-O. Maaf loh ini sebelumnya," ucap Nova dengan nada setengah mengejek.
"Jangan asal ngomong kamu! Ada bukti?!" sentak Airin, meski dalam hatinya ia membenarkan dugaan Nova.
"Loh, kalau nggak merasa ya jangan marah dong. Cepat tua, nanti nggak bisa open B-O lagi loh," sungguh saat ini, Nova sedang menahan amarah yang sangat amat luar biasa terhadap wanita di depannya ini. Hinaannya cukup membuatnya sakit hati. Seperti apapun itu, orang yang telah menyelamatkannya dari genggaman Shaka adalah Rania. Bagaimana bisa ia membiarkan malaikat penolongnya dihina begitu saja?
"Kamu-" Airin melayangkan telapak tangannya ke atas hendak menampar Nova. Namun, sebuah tangan besar menghalangi niatnya itu.
__ADS_1
"Jangan pernah menyentuh kulit Nova dengan tangan kotormu itu, Airin," ucap Aslan dengan sorot mata tajam dan penuh penekanan.
TBC.