Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Kehangatan


__ADS_3

Sejak mendengar penuturan Nova, Rania selalu kepikiran dan merasa takut acap kali mengingat jika dirinya juga pasti akan menjadi menu buka puasa suaminya. Rania berpikir, Shaka pasti akan menjadikan dirinya sasaran empuk, apalagi satu bulan lebih menahan hasrat yang membuncah.


Dan malam ini adalah malam pertama Rania bebas dari roti bantal yang selama ini selalu menutupi gua kenikmatan suaminya. Rania berdiri di balkon kamar mengenakan piyama bergambar Choopper--Dokter hebat di kapal One Piece.


Rania resah membayangkan adegan panas yang akan terjadi malam ini, apabila Shaka mengetahui perihal masa nifasnya yang telah usai. Masih Rania ingat bagaimana ia kehilangan mahkota berharganya di malam itu.


"Sayang!" panggil Shaka, yang baru saja masuk ke kamar.


"Iya, Mas!" sahut Rania, tak kalah dengan nada tinggi.


"Kamu tumben pakai baju panjang-panjang di kamar. Kamu sakit?" tanya Shaka, seraya mengulurkan tas kerja dan jas hitamnya kepada Rania.


"Tidak, Mas. Oh, iya, kamu masuk kamar nggak salam dulu," ucap Rania, menyalami Shaka dan mencium punggung tangan itu dengan takdzim.


"Oh, maaf, Sayang. Aku terlalu merindukanmu," bisik Shaka. "Assalamu'alaikum," imbuhnya.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Capek?" Rania tersenyum manis.


"Sangat, Sayang. Tapi melihatmu dan Raishaka saja, lelahku hilang." Shaka memeluk pinggang ramping istrinya dan menyesap lembut leher jenjang Rania.


Rania memejamkan matanya erat, merasakan gelenyar aneh yang menggelitik perut dan punggungnya. "Aku mau sekarang, Sayang. Aku tidak bisa menahan lagi," kata Shaka.


"T-tapi kamu harus mandi dlu, Mas," kata Rania, berusaha mengulur waktu. Dia berpikir, bagaimana Shaka tahu kalau hari merahnya telah selesai?


"Jadi, kamu benar-benar udah sembuh, Sayang?" tanya Shaka, dengan mata berbinar. Rania mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu apalagi? Ayo, kita bertempur untuk pertama kali!" ajak Shaka, seraya meraba leher jenjang Rania. Dia sangat tahu titik kelemahan istrinya itu. Mendadak bulu kuduk Rania merinding. Darahnya berdesir, adrenalinnya berpacu cepat. Tak dapat dipungkiri Rania juga menginginkannya.


"Tapi kata Nova rasanya seperti pertama kalinya melakukan," lirih Rania, seraya menggigit bibir bawahnya. Shaka terkekeh pelan, tangannya terulur mencubit hidung Rania gemas.


"Bagaimana kamu setakut itu sedangkan kamu belum mencoba sama sekali?" tanya Shaka, seraya tersenyum tipis.


"Kalau begitu, ayo kita coba sekarang!" Rania mengedipkan matanya genit. Mendapat sinyal kuat dari Rania, senyum lebar terukir di bibir seksinya. Lantas, tangannya terulur menggendong tubuh ramping Rania dan di bawanya tubuh itu ke dalam kamar mandi.


"Mas!" pekik Rania, terkejut karena tubuhnya bagaikan terpelanting ke udara.


Shaka menurunkan tubuh Rania ke dalam bath up, lalu ia nyalakan keran air. Tak lupa, Shaka menyalakan lilin aroma terapi yang akan membuat pertempuran panasnya menjadi semakin berkesan dan bergairah.


"Massssshhh ..." lirih Rania, ketika tangan Shaka mulai aktif menggerayangi setiap inci tubuh Rania yang masih berbalut piyama basah.


Satu kedipan, tubuh Shaka dan Rania telah polos tanpa sehelai benangpun. Mereka sama-sama terjun ke dalam jurang kenikmatan yang tiada duanya. Saling mendayung, berlomba untuk mencapai puncak permainan.


Desah dan suara khas permainan terdengar jelas malam itu. Shaka bermain dengan begitu gagahnya. Memainkan titik pusat Rania menggunakan indera perasa. Rania melenguh, tubuhnya berdenyut, kejang kenikmatan telah datang, dan kepuasan telah ia rasakan.


"Sekarang jatahku, Sayang," bisik Shaka, lalu ia segera memacu permainan dengan cepat. Hingga ia pun lunglai lemas, diserang kenikmatan.


**


Tak lain halnya dengan Aina dan Adi. Sepasang pengantin baru itu, tengah menikmati hangatnya ranjang. Tiada malam tanpa permainan. Bahkan, Adi sampai membeli sofa tantra demi mencapai titik kepuasan.


Saat ini, mereka tengah saling berpelukan dalam balutan derasnya peluh setelah selesai memenangkan permainan. Senyum lebar tercetak jelas di bibir mereka, karena siraman kebahagiaan.

__ADS_1


"Mas, terimakasih," ucap Aina, sambil memainkan jarinya di dagu Adi. Adi mencekal jari lentik dan diciumnya jari itu.


"Aku yang lebih berterima kasih, Sayang. Kamu telah menjaganya untukku," bisik Adi. Aina tersipu, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


"Kenapa masih malu? Kita sudah empat belas kali melakukannya dalam empat hari, Sayang," goda Adi. Aina semakin malu, wajahnya panas dan sudah dipastikan kulitnya telah berubah warna. "Kamu hebat, Sayang," bisik Adi, lalu mendorong pelan bahu Aina hingga posisi wanita itu menjadi telentang pasrah.


"Mas ..." rengek Aina manja.


"Satu kali lagi, setelah itu kita mandi dan istirahat." tak menunggu jawaban, Adi segera meraup bibir Aina yang sedang mengerucut kesal.


Mau tak mau, Aina pun pasrah menerima serangan demi serangan Adi yang tiada pernah puas.


Ya, setelah akad nikah diselenggarakan Adi segera memboyong Aina dan Ibunya ke rumahnya. Rencananya rumah lama Aina akan dijadikan restauran klasik. Ibu Aina telah mengijinkan.


Namun, Aina masih belum menanggapi. Karena Aina masih terpuruk akan ketidak hadiran Ayahnya karena masih menjalani hukuman atas perbuatannya. Adi tak mempermasalahkan, ia sangat paham dengan perasaan istrinya itu. Yang pasti, Adi tahu jika Ainanya bahagia menikah dengannya.


Hai kaum haluners!


sedikit lagi, novel ini menuju tamat yah.


simak terus kelanjutannya.


dan teruntuk pembaca setiaku, terimakasih atas dukungan kalian. Kalian sangat hebat, sampai kalian setia menunggu kelanjutan cerita pertamaku di sini yang amburadul ini.🥺


Love sekebon buat kalian 🤗

__ADS_1


__ADS_2