
Satu jam kemudian.
Shaka masih setia berada di samping Rania yang sedari tadi tak sadarkan diri. Shaka pun mulai gelisah. Mau dibawa ke rumah sakit pun dia gundah lantaran Rania dinyatakan luka ringan, tanpa luka dalam sedikitpun oleh Aina.
Padahal, sebenarnya Rania sudah sadar sejak tiga puluh menit yang lalu. Hanya saja pura-pura belum sadar. Dia takut menghadapi masalah yang sedang terjadi dan takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah dia sadar.
"Sadarlah, Nia. Maafkan aku telah melukaimu," ucap Shaka lirih sambil memegang lembut jemari Rania.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah," ucapnya lagi.
Rania dapat merasakan betapa Shaka menyesalinya.
Akhirnya, Rania memutuskan membuka matanya. Tapi sebelumnya, dia memantapkan tekad dan menguatkan mental. Agar jika nanti pertengkaran terjadi, Rania siap untuk melawan.
"Eunghhh .." lenguh Rania pura-pura.
"Nia, kamu sudah bangun?" tanya Shaka antusias.
"Di mana aku?" lirih Rania.
"Kamu di apartemenku, mau minum?"
"Cih, sok perhatian," batin Rania.
__ADS_1
"Aku ingin pulang, Kak," kata Rania sambil perlahan mengubah posisinya untuk duduk.
"Aku nggak bisa membawamu pulang." Shaka meletakkan tumpukan bantal di punggung Rania, supaya nyaman ketika bersandar.
"Kalau tidak, izinkan aku mengabari keluargaku. Supaya mereka nggak khawatir, Kak," kata Rania memohon.
"Baik, aku izinkan. Tapi jangan katakan kalau aku yang mengurungmu di sini." ucap Shaka dingin.
Shaka memberikan ponsel Rania kepada si pemilik. Hanya mengirim pesan, bukan panggilan.
Setelah mengirim pesan, ponsel langsung direbut oleh Shaka.
"Sebenarnya maksud kamu menyekap aku itu apa, Kak? Ingin menyiksaku sampai aku mati? Ah, aku semakin membencimu," ucap Rania, dengan pandangan kosong.
Deg!
"Pelampiasan? Dia pikir aku barang yang bisa dia banting sesukanya?" batin Rania menjerit karena rasa perih yang singgah di hatinya.
"Sungguh ini salahku, semua karena aku yang malah keluar rumah disaat aku dalam masa iddah ku." Rania menatap tajam Shaka dengan api kebencian yang semakin membara.
Di sisi lain, Aslan sedang kelimpungan mencari adiknya. Dia baru sadar setelah tiga jam Rania tak terlihat di butik.
Dan ketika lagi panik-paniknya, ponsel tiba-tiba mengeluarkan bunyi notifikasi. Disaat itulah Aslan membanting ponselnya setelah membaca pesan masuk dari Rania.
__ADS_1
'Kak, aku pergi selama beberapa hari ke depan, ya. Aku mau healing dulu. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Love you kakak Sayang' ini adalah pesan yang dikirim Rania dalam pengawasan Shaka.
"Sialan, aku lelah mencarimu sampai Viva marah padaku karena tak jadi kencan, kamu malah asyik healing? Oh My God ...Rania," Aslan meraup wajahnya secara kasar.
"Kamu pikir, aku percaya gitu aja? Nol besar, Rania." Aslan langsung bergegas meninggalkan butik menuju rumah sahabatnya--Fikri.
Di apartemen Shaka.
Rania terisak pilu sambil menggigit bantal menahan suara. Ya, setelah Shaka keluar, Rania langsung memeluk lututnya dan menangis sepuas-puasnya.
Nyatanya, gadis itu tetap lemah dan hanya memakai topeng agar terlihat kuat di depan orang lain. Hanya Aslan dan Fatma yang memahami karakter Rania.
Shaka melihat semuanya, karena Shaka memasang CCTV di kamarnya sendiri untuk berjaga.
"Aku sakit melihatmu menangis, Nia. Tapi aku marah ketika melihat adikku yang sudah tiada," gumam Shaka.
Namun, ucapan Aina yang menyuruhnya membedakan antara emosi dan ambisi tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
"Benarkah ini ambisi-ku ingin memilikimu? Ah, kurasa tidak." pungkasnya dan setelah itu dia mengecek laporan yang dikirim Adi melalui e-mail.
**hayo, udah pada bolong berapa kali nih puasanya? apa belum bolong? alhamdulillah 😊
"Hai, orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertaqwa," (Q.s Al-baqarah:183**)
__ADS_1