
Pagi setelah sarapan, Aslan berniat menuju kampus untuk menghadapi sidang skripsi. Akan tetapi, bukan Rania jika tidak merepotkan. Rania meminta Aslan untuk menemui karyawan baru yang akan bekerja sebagai pelayan butik.
Mendapat tugas yang menyenangkan itu, tanpa berpikir panjang Aslan menyetujuinya. Dengan senyuman cerah secerah mentari pagi, Aslan menuju butik mengendarai mobil merk majero berwarna hitam mengkilap.
Sesampainya di halaman parkir, sekilas Aslan melihat bayangan Airin memasuki butik dengan langkah angkuhnya. Karena khawatir, Aslan pun mengawasi pergerakan Airin dari jauh. Dan alhasil, Aslan melihat pemandangan yang membangkitkan amarahnya.
"Kau akan berurusan denganku, Airin," ucap Aslan tajam dan penuh penekanan.
"Cih. Laki-laki payah ini lagi. Kau pikir aku takut dengan ancaman mu? Kau itu hanya laki-laki payah yang tidak pandai memuaskan perempuan. Viva bahkan meninggalkanmu karena belalai mu yang tidak bisa bertahan lama di sarangnya!" Airin tersenyum smirk melihat Aslan yang sudah memerah menahan malu sekaligus amarah karena ocehannya. Bagaimana tidak? Aslan sedang diinjak harga dirinya habis-habisan, apalagi di depan pujaan hatinya. Akan tetapi, sebisa mungkin Aslan menyembunyikan rasa malunya agar tetap cool di hadapan Nova.
"Kau pikir aku malu dengan bicaramu yang aneh itu, hah?! Tidak! Justru, yang harus aku pertanyakan itu, apa kamu sudah biasa dengan durasi yang lama? Apa sarang mu itu tidak longgar? Lalu, mengapa dengan durasiku yang pendek? Kau mau mencoba?" Aslan menyeringai puas, karena berhasil mempertahankan harga dirinya.
Percayalah, gadis perawan yang sedang berada di tengah pertengkaran itu wajahnya sudah berubah menjadi merah semerah tomat matang. Dia yang masih perawan diperkos* telinga dan otaknya.
"Sialan kamu, Aslan!" Airin menghentakkan kakinya kesal bercampur malu. Lalu, ia pun bergegas keluar meninggalkan butik.
Meskipun Airin telah pergi, hal itu tak dapat membuat rasa malu dalam diri Aslan hilang begitu saja. Bagaimanapun juga, Nova telah mengetahui rahasia negara yang begitu berharga dalam diri Aslan. Karena, pernyataan Airin tadi memang benar adanya.
__ADS_1
"A-aku, pergi dulu." ucap Aslan singkat, dengan langkah kaki seribu Aslan meninggalkan butik tanpa bertemu dengan calon karyawan baru terlebih dahulu.
Nova dibuat melongo oleh ulah Aslan.
"Apakah dia malu?" batinnya.
Sementara itu, di dalam mobil Aslan mencengkeram setir dengan erat, giginya bergemeletuk, dan matanya memerah.
"Demi apapun, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Airin." gumam Aslan menatap tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsa.
Ponsel Aslan berdering yang ternyata panggilan dari Rania. Aslan menepuk keningnya kasar. Dia baru sadar jika ada tugas yang harus dia selesaikan.
"Iya, apa?" tanya Aslan malas.
"Udah ketemu orangnya belum? Aku baru saja dapat telpon dari Nova, katanya kamu pergi sebelum berperang?" ujar Rania bertanya balik.
"Aku harus sidang sekarang juga, Ran. Tolong ngerti kakak, ya? Kamu saja yang datang ke sini sekarang. Kakak sudah di jalan." Tut. Telpon dimatikan sepihak oleh Aslan, dengan tujuan menghindari perdebatan. Ia pun bergegas menjalankan kemudi menuju kampus.
__ADS_1
Sedangkan di kediaman Brahma, Rania sedang uring-uringan yang disebabkan oleh ulah sang kakak.
"Kakak tega banget. Aku cuma minta tolong sebentar saja. Menyebalkan, awas saja kalau kamu pulang. Kamu akan aku jadikan sate, rendang, gulai, tongseng, teng-"
"Sudah, jangan marah-marah terus. Cantiknya ilang nanti," sela Shaka sambil mengecup kening Rania.
"Tapi Mas, kakak sangat menyebalkan. Masa aku minta tolong sedikit saja nggak bisa," Rania mencebik.
"Kak Aslan sedang buru-buru, Sayang. Maklumi dia, jangan menuntut hal-hal yang orang lain tidak bisa. Selama kamu bisa mengerjakan sendiri, lakukan. Jangan mengandalkan orang lain, repot," ucap Shaka panjang lebar.
"Udah ceramahnya?" tanya Rania ketus.
Shaka tersenyum hangat dan berkata, "Selama kamu masih berada di jalan yang salah, aku akan menjadi kompas yang siap menunjukkan arah yang benar untukmu." Shaka mengecup bibir Rania mesra dan dalam, membuat Rania terhanyut oleh permainan yang dibuat suaminya.
Semakin lama, ciuman itu semakin memanas hingga membuat sepasang suami istri itu lupa di mana mereka sedang bercumbu. Saling mengecap, saling *******, hingga timbul suara khas decapan.
Berbalut asmara, berselimut mendamba, mereka bergelung menjadi satu di sofa panjang yang terletak di depan TV. Hingga kegiatan menanam kecebong itu, membuat pagi mereka terasa hangat dan bergairah.
__ADS_1