
Rania dan Shaka baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Kini, mereka tengah duduk di sofa panjang di kamar mereka dengan posisi Rania merebahkan kepalanya di paha Shaka.
"Mas?"
"Hmmm," sahut Shaka tanpa mengalihkan pandangannya yang tengah menonton serial Doraemon terbaru.
"Tadi di makam, aku melihat seorang laki-laki mirip banget sama Morgan." Shaka masih menyimak tanpa menyela.
"Dia tengah dipukul dan dihajar seorang laki-laki yang pakaiannya rapi. Pakai jas pula penjahatnya,"
"Oh ya? Terus kamu nggak diapa-apain, kan?" Shaka yang sudah mulai tertarik dengan arah pembicaraan Rania segera memencet tombol on/off yang ada di remote TV.
"Nggak. Dia tuh malah kaya salah tingkah dan takut gitu pas aku negur dia." ucap Rania seraya memainkan dagu mulus Shaka.
"Kamu negur? Ini beneran nggak sih?" sontak Rania segera duduk dan menatap Shaka tajam.
"Kamu pikir aku suka bohong? Aku nggak kaya kamu, Mas. Bilangnya kerja, nyatanya malah ciuman mesra sama Aina di Pantai," gerutu Rania kesal.
"Ya ampun, wanita gini amat, ya? Salah dikit aja, kejadian masa lalu diungkit-ungkit terus," kelih Shaka dalam hati.
"Oke, oke. Terusin dulu ceritanya. Aku belum begitu paham, nih," ujar Shaka berusaha mengalihkan perhatian. Dan berhasil, Rania kembali fokus bercerita.
__ADS_1
"Nah, dia kan pergi, tuh. Selepas dia pergi, aku coba buat ngecek denyut nadi si korban ini. Masih ada, lemah tapi. Terus aku inisiatif buat bawa dia ke rumah sakit. Nah ... saat itu juga aku dengar dia ngomong gini, Ma ... Pa ... Kak ... Sayang ... gitu. Dan suaranya tuh mirip banget sama suara Morgan," papar Rania panjang lebar.
Shaka terdiam, tapi dia berpikir ... Morgan udah nggak ada. Nggak mungkin orang yang Rania maksud itu Morgan beneran.
"Sayang, Morgan udah nggak ada. Udah meninggal, palingan itu emang kebetulan mirip kali. Nggak mungkin orang meninggal hidup lagi, kan?"
Saat Rania tengah berpikir, ponsel Rania berdering nyaring. Rania segera meraih benda pipih itu dan ia tempelkan benda itu ke telinganya.
"Halo?"
"Ya, saya sendiri,"
"Oh, alhamdulillah ... baiklah, saya ke sana sekarang,"
"Ada apa, Sayang?" tanya Shaka penasaran.
"Orang yang aku tolong udah sadar. Katanya, aku diminta ke sana. Dia kan tanpa identitas, jadilah aku yang sebagai jaminannya," kekeh Rania.
"Baiklah, kalau begitu aku antar, ya?"
"Oke, aku ganti baju dulu." Rania bergegas menuju walk in closet untuk bersiap.
__ADS_1
**
Sesampainya di rumah sakit, Rania dan Shaka berjalan menuju kamar yang ditunjuk seorang suster.
Entah mengapa, Shaka merasa ada rasa aneh di dadanya yang sulit dideskripsikan. Apalagi semakin lama mereka semakin dekat dengan pintu kamar itu, jantungnya semakin berdegup sangat kencang.
Shaka tak bisa memungkiri ada rasa percaya jika Morgan masih hidup. Karena, waktu Shaka ingin melihat jenazah Morgan, pihak rumah sakit tak mengizinkan dengan alasan sudah masuk peti.
Ada keganjalan, tapi saat Shaka menyuruh Adi menyelidikinya, tak ada apapun yang terjadi. Semuanya clear.
Shaka dan Rania telah sampai di depan pintu kamar rawat inap Morgan. Rania dengan santai membuka pintu tersebut dan menggandeng tangan Suaminya serta menariknya masuk ke kamar tersebut.
Shaka melihat, seorang laki-laki berambut gimbal tengah tidur membelakanginya. Memang sangat kurus kering, kulit tak terawat meski tetap terlihat cerah.
"Permisi, assalamualaikum?" sapa Rania berjalan mendekat ke ranjang yang tengah Morgan tiduri.
Diam, Morgan tak menjawab.
"Assalamualaikum?" gantian Shaka yang mengucapkan salam sembari menyentuh lengan kurus Morgan.
Deg.
__ADS_1
Menyentuh kulit orang misterius di mata Shaka, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.
"Rasa ini?"