
Kedua orang tua Morgan telah sampai di rumah sakit. Mereka begitu terpukul mendapat kabar buruk tentang putra kesayangannya. Apalagi setelah mengetahui penyebab Morgan pingsan.
Tuan Harsa menghela nafasnya kasar melihat istrinya berlaku kasar terhadap menantunya.
"Jangan menampar anak orang sembarangan Ma, kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan gegabah!" ucap Tuan Harsa memperingati istrinya.
"Pa, kondisi anak kita memburuk karena ulahnya yang menjijikkan itu Pa huhuhu," Marsya menangis pilu di pelukan Tuan Harsa.
"Sabar Ma, dengarkan penjelasan Rania dulu. Kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Shaka kan hanya menjelaskan kemungkinannya saja. Kasihan Rania, dia menjadi korban atas kelalaian anak-anak kita juga," terang Tuan Harsa bijaksana.
"Maafkan Mamamu ya Nak, dia hanya sedang emosi saja kok," ucap Tuan Harsa kepada Rania yang menundukkan kepalanya tajam.
"Kalau begitu kita masuk dulu mau melihat keadaan Morgan. Sekali lagi maafkan Mamamu ya," Tuan Harsa mengelus puncak kepala Rania sembari tersenyum lembut.
Setelah pintu tertutup, tinggallah Rania dan Shaka yang sedang menatap Rania iba. Tangis Rania pecah beserta tubuhnya yang merosot ke lantai.
"Huhuhu, apa salahku Ya Allah!" Rania menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya terguncang.
Shaka seakan ikut merasakan apa yang tengah Rania rasakan. Dari kecil mendapat siksaan, setelah siksaan berakhir malah datang lagi masalah lain, bahkan lebih berat.
Entah keberanian darimana, Shaka melangkah mendekati Rania. Perlahan tangan itu bergerak untuk mengelus rambut hitam legam milik Rania.
Merasakan ada yang mengelus kepalanya, Rania mendongak. Rania menatap Shaka dengan tatapan pilu.
"Kak, harus bagaimana aku menghadapi masalah ini? Haruskah aku menyesal karena telah mengenal kamu dan adikmu? Tidak! Ini pilihanku sendiri," Rania tertawa garing seolah sedang menertawai nasibnya, tatapannya kosong seperti tak ada lagi kebahagiaan di matanya.
Shaka semakin tidak tega dibuatnya. Ia memberanikan diri untuk memeluk gadis rapuh di depannya ini.
"Kak...Aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Mas Morgan hanya salah paham terhadapku. Kak Shaka percaya kan sama aku?" Rania menjatuhkan kepalanya di dada bidang Shaka. Rania tahu hal ini salah tapi, saat ini Rania butuh sandaran agar dirinya tidak ikut jatuh dan terpuruk karena masalah ini.
__ADS_1
"Aku percaya, sangat percaya. Morgan hanya butuh waktu. Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi, tapu setidaknya aku tahu siapa kamu dan sekuat apa kamu! Kamu kuat Nia! Kamu itu gadis terkuat yang pernah aku temui. Jangan menyerah, aku yakin akan ada pelangi setelah hujan, oke!" ucap Shaka memberi dukungan.
"Kakak salah, aku bukan gadis kuat. Aku bahkan tidak bisa menghentikan air mataku. Kakak tahu, aku gadis murahan yang menjajakan tubuhku kepada para pria hidung belang. Ya, karena itu kebahagiaan tidak mau bertemu denganku,"
Hati Shaka bagai teriris sembilu mendengar pernyataan Rania. Ini salahnya, salahnya karena tidak bisa menahan hasratnya. Salahnya karena memaksa Rania untuk makan siang dengannya tanpa hadirnya Morgan sebagai kekasih Rania.
"Maaf Rania, ini salahku. Andai aku tidak terbakar gairah, mungkin ini semua tak akan pernah terjadi. Tapi semua sudah terlanjur. Kita nggak akan mungkin bisa merubah takdir kan?" tanya Shaka dan memeluk adik iparnya memberinya setitik kekuatan.
"Iya, aku tahu Kak. Tapi untuk saat ini biarkan menikmati keterpurukanku. Setelah itu aku akan bangkit lagi," ucap Rania antusias.
"Menangislah dan berteriaklah sepuasnya!Setelah ini tersenyumlah dan buktikan kepada mereka bahwa kamu tidak salah! Sebab di sini aku yang salah. Sekarang hapus air matamu dan senyumlah. Temani Morgan sampai dia sembuh, kalian berhak bahagia," Shaka melepaskan pelukannya dan segera menjauh dari tubuh Rania, takut khilaf lagi.
"Kak Shaka benar, aku akan buktikan kepada Morgan kalau tuduhannya itu semua salah," Rania segera menghapus jejak air matanya dan segera berdiri.
"Aku cari kantin dulu ya Kak, mau beli air putih. Kakak mau?"
"Tidak perlu. Kamu hati-hati saja ya," ucap Shaka tersenyum lembut. Rania mengangguk dan segera pergi meninggalkan Shaka menuju kantin rumah sakit.
"Hah! Hilangkan perasaan itu Shaka! Dia milik adikmu," Shaka menepuk-nepuk kepalanya berharap nama Rania segera terhapus dari otaknya.
"Kamu kenapa Shaka?" tanya Tuan Harsa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Shaka.
"Ah Pa, aku agak pusing aja kok. Kok Papa udah keluar?" tanya Shaka mengalihkan topik pembicaraan.
"Papa melihat semuanya Ka, jangan bohong!"
Ya, Tuan Harsa hendak keluar untuk memanggil Shaka atas perintah Morgan. Hingga berakhir melihat kejadian tersebut.
"Maaf Pa, aku hanya tidak tega melihat Rania begitu terpukul atas kejadian ini. Tolong jangan beritahu Morgan, aku takut emosinya memuncak lagi," ucap Shaka memohon.
__ADS_1
"Untuk saat ini Papa bisa diam, tapi tidak untuk lain kali. Kamu paham?"
"Paham Pa," ucap Shaka menunduk,
"Morgan ingin bertemu, masuklah!"
Shaka bergegas menghampiri adiknya yang masih dalam posisi yang sama.
"Mor, kamu mencariku?" tanya Shaka hati-hati.
"Kak, Istriku mencintaimu. Apa aku harus melepasnya?" tanya Morgan dengan tatapan kosong.
"Bicara apa kamu! Jangan mempermainkan pernikahan, dia begitu mencintaimu Mor! Buka matamu!" ucap Shaka dengan nada naik satu oktaf.
"Setelah aku pulih, aku akan menyerahkan dia kepadamu," ucap Morgan lagi menghiraukan ucapan Kakaknya.
Brak!
Barang belanjaan Rania terjatuh ke lantai mendengar penuturan suaminya. Lagi air mata itu keluar tanpa dapat Ia cegah. Sontak semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut, terutama Morgan.
Rania langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Sedangkan Shaka berlari untuk mengejar Rania.
"Lihat Morgan! Ini yang namanya rumah tangga hah! Papa kecewa, sebagai kepala rumah tangga, sebagai seorang suami dan sebagai orang tua, Papa merasa malu memiliki anak pengecut sepertimu!" Tuan Harsa murka, bagaimanapun juga Rania dia sudah Ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.
"Pa, kamu keterlaluan!" sentak Marsya.
Morgan menatap kosong ke arah pintu. Ia merasa telah gagal menjadi seorang Suami. Penyakit yang dideritanya sungguh membuatnya nyaris gila. Padahal Rania sudah menunjukkan rasa cinta dan bahkan mengungkapkannya.
"AKU BODOH!!!!" seru Morgan yang sukses membuat kedua orang tuanya yang sedang berseteru langsung terdiam.
__ADS_1
tinggalkan like dong readers..
kasih aku semangat gitu loh!! 😉