Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Restu


__ADS_3

Keesokan paginya, Aslan menjemput Nova untuk ia bawa ke kediaman Brahma. Meski tatapannya masih kosong, Aslan tetap memaksa membawa Nova ke rumahnya. Karena Aslan khawatir, kedua orang tuanya akan menghambat niatnya untuk menikahi Nova. Sedangkan perut Nova semakin lama akan membesar.


"Kuatkan hatimu, Sayang. Percayalah, Mama dan Papaku pasti akan merestui hubungan kita. Jangan menyerah, ya?" bisik Aslan, di tengah perjalanan menuju ke rumahnya.


"Aku takut, Kak," lirih Nova.


"Apa yang kamu takutkan? Shaka dan Rania mendukung kita. Jangan mundur, aku nggak mau kamu pergi. Perjuanganku untuk mendapatkanmu sangat susah." Aslan mengusap puncak kepala Nova.


"Siapa bilang aku mau mundur?" Aslan mengernyitkan dahinya.


"Aku ingin kamu menggenggam erat tanganku yang saat ini tengah terkulai lemah tak berdaya, berlumpur dosa, dan kasar kotor tak bermakna. Yang aku takutkan itu justru kamu akan melepaskanku setelah aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan restu kedua orang tuamu," papar Nova dengan tatapan sendu.


"Mana mungkin aku seperti itu, Sayang?"


"Aku hanya takut itu terjadi. Apalagi dengan kondisiku yang tengah mengandung anak bayi orang lain. Aku ... aku-"


"Ssst ... jangan katakan hal yang tak mungkin aku lakukan. Kamu adalah cinta yang akan selalu aku perjuangkan meski badai datang menghantam," potong Aslan cepat. Hatinya berdenyut nyeri kala mendengar suara hati ibu hamil korban nafsu bejat orang tak bertanggung jawab.


"Kamu lebay," kekeh Nova. Aslan mengecup jemari Nova yang tampak pucat.


"Biarlah apa yang aku katakan ini berlebihan. Karena memang ini yang tengah aku rasakan. Aku sangat mencintaimu, Nova,"

__ADS_1


"Terimakasih, Kak."


Tak berselang lama kemudian, mobil mereka telah sampai di kediaman Brahma. Degup jantung Nova berpacu cepat kala melihat nyonya Irene berdiri di depan pintu dengan tangan bersidekap dada.


"Kak ..."


"Tenanglah, aku bersamamu. Pasrahkan semuanya kepada Allah. Allah yang Maha Membolak-balikkan hati manusia," Aslan mengusap punggung tangan Nova yang dingin dan bergemetar.


Mereka keluar dari mobil jeep kesayangan Aslan, lalu berjalan perlahan menghampiri nyonya Irene yang menatap mereka nyalang.


"Assalamualaikum, Ma," sapa Aslan, tersenyum manis.


"Nova, bolehkah kita bicara berdua?" tanya nyonya Irene serius dan dijawab anggukan oleh Nova.


"Tolong, jangan sakiti Nova, Ma. Kalau Mama cuma mau melukai Nova, lebih baik urungkan saja niat Mama," ucap Aslan dingin.


"Mama tidak butuh saran atau apapun darimu, Aslan. Ayo, Nova." nyonya Irene menuntun tangan Nova dan membawanya ke ruang baca.


Nyonya Irene dan Nova tengah duduk di sofa yang terdapat di ruang baca tersebut. Dada Nova semakin bergemuruh tak karuan kala merasakan hawa di sekitarnya mendadak horor dan mengintimidasi.


"Nova, berapa usiamu?"

__ADS_1


"Saya 25 tahun, Tante," ucap Nova gugup.


"Tante?"


"Ha?" Nova mengernyitkan dahinya.


"Bukankah aku mertuamu?"


"Ha?" Nova melongo, semakin tak paham dengan pernyataan wanita paruh baya di depannya.


"Haish, sudahlah. Kau memang bodoh, sangat bodoh." nyonya Irene menyentak nafasnya kasar.


"Maksud Tante, saya diterima menjadi menantu di rumah ini?" tanya Nova memastikan.


"Aku tidak mau anakku telat nikah hanya karena aku tak merestui hubungannya denganmu. Seorang ibu tentu akan turut bahagia jika anaknya bahagia. Meski aku belum yakin denganmu, setidaknya melihat Aslan tersenyum saja sudah bisa membuatku lega," papar nyonya Irene serius.


"Ta-tante ... ini sungguh?" mata Nova berkaca, ada cairan bening menggenang di pelupuk matanya.


"Ya ... aku merestuimu untuk bersanding dengan putraku. Asal ... bahagiakan dia, kau sayangi dia, sepertiku menyayanginya. Dan satu lagi, panggil aku Mama jangan Tante. Aku bukan tantemu, tau,"


Siapa yang ikutan nyanyi nih?

__ADS_1


__ADS_2