
"Coba ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Nyonya Irene bersidekap dan duduk menyilangkan kaki.
"Ma, Nova itu korban pemerkosaan tukang parkir butik Rania. Beruntung, aku melihatnya. Dan aku yang menyeret pria bejat itu ke badan hukum. Yang tahu kronologinya ya cuma Nova sendiri. Tapi dia nggak mau cerita ke siapa-siapa. Apalagi, sampai sekarang dia masih harus mengkonsumsi obat penenang agar dia bisa tidur nyenyak. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Rania dan Fatma. Hanya aku yang tahu, Ma," papar Aslan panjang lebar.
Hati Rania berdenyut nyeri kala menyadari sahabatnya melewati masa sulit sendiri. Ia terus berpikir, bagaimana bisa Nova tetap tersenyum ceria sedangkan jiwanya tengah terguncang?
Nyonya Marsya menghela nafasnya berat. "Lalu, kamu yang akan bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak kamu perbuat sama sekali, Aslan?" tanya Nyonya Marsya penuh penekanan.
"Ya, Ma. Aku ingin menikahi Nova karena aku juga sangat mencintainya," jawab Aslan tegas dan yakin.
"Cih, lagi-lagi alasannya cinta. Apa cinta benar-benar telah membuat semua orang buta?" keluh Nyonya Irene kesal.
"Jangan begitu. Kamu saja dibutakan oleh cinta, loh, Ma. Kamu ingat, waktu kamu rela meninggalkan sahabatmu demi menikah dengan pria bajingan sepertiku?" Tuan Yudi tersenyum miring. Mencoba menengahi masalah yang tengah terjadi. Nyonya Irene semakin membuka matanya selebar mungkin.
"Nggak usah dibesar-besarin matanya, nanti matamu terbang ke angkasa, lha ... baru tahu rasa kamu." Rania dan Shaka hanya menggelengkan kepala. Tak tahu lagi harus bagaimana menanggapi masalah ini.
__ADS_1
"Matamu yang jelas-jelas terbang sana sini pas lihat wanita bohay. Untung nggak nafsu juga sama waria jaman sekarang, bisa bahaya nanti nyoblosnya ke mana," sungut Nyonya Irene, semakin kesal.
"Se-jelalatan-nya aku, ya larinya tetap ke kamu, Ma,"
"Apa?! Jadi aku cuma pelampiasan doang? Kalau gitu, tiap kamu lihat wanita bohay sekalian aja siapin paralon buat kamu masukin. Biar nggak capek-capek pemanasan!" seru Nyonya Irene.
"Udah cukup! Kalian ini bahas hal vulgar kok di depan anak di bawah umur. Bahaya!" pekik Rania.
"Anak di bawah umur yang udah bunting kamu itu, Rania!" pekik Nyonya Irene tak terima.
"Sudah, kalau kalian belum selesai, biar aku nganterin Nova ke psikolog dulu. Kasihan dia, gara-gara tercemar telinganya jadi bergetar pula tubuhnya," desis Aslan.
"Dan cantik jelita, ya, Ma?" sela Tuan Yudi menimpali.
"Siapa yang cantik jelita? Dasar jelalatan," gerutu nyonya Irene. Aslan mendesah berat, lalu dia segera menuntun Nova dan membawanya ke psikolog. Sedangan Shaka dan Rania, mereka saling bergandengan tangan menuju kamar mereka setelah memesan jeruk hangat kepada Mbok Mun.
__ADS_1
"Maaf ya, Mas. Orang tua aku emang gitu, bobrok mulutnya," ucap Rania tak enak hati, setelah selesai membersihkan diri dan saling berpelukan di ranjang.
"Tapi seru, Sayang. Aku merasa rumah ini penuh warna. Aku menyukainya." Shaka tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aina gimana, Mas? Udah pulang?"
"Tadi aku menghubungi Adi, katanya sih udah kembali ke asalnya,"
"Hush, Mas. Nggak boleh gitu. Dia mantan istri tercinta kamu, loh," goda Rania.
"Apa kamu bilang? Coba ulangi sekali lagi." Shaka mendekatkan wajahnya ke bibir Rania. Rania pun melengos karena malu.
"Udah nikah dua tahun malunya nggak ilang-ilang. Apa udah lama aku nggak nengokin dede bayi di sini, ya?" bisik Shaka, sembari meninggalkan gigitan kecil di telinga Rania.
"Nggak usah lebay. Baru juga semalem unboxing, udah dibilang lama aja," protes Rania tak terima.
__ADS_1
"Bagiku, satu hari libur sama saja dengan nggak healing satu tahun, Sayang."
Dan olahraga panas itu benar-benar terjadi di siang bolong. Disaksikan oleh keringat yang mengucur dan jarum jam yang tak berhenti berputar.