Lelah Mencintaimu

Lelah Mencintaimu
Benar Dugaanku!


__ADS_3

Shaka lebih memilih diam di dalam mobil. Tatapannya tajam, pertanda bahwa ia sedang marah. Pasalnya, Rania menolak untuk periksa kehamilan. Tapi yakinlah, Rania melakukan hal itu pasti karena suatu alasan.


"Mas, jangan diamkan aku. Aku sedih," lirih Rania sendu.


"Hmmmm,"


"Mas, aku bukannya menolak tawaran kamu. Aku tahu kamu pasti sangat antusias. Tapi mengertilah, aku tidak mau terlalu banyak berharap. Setidaknya, izinkan aku melakukan tes mandiri. Kita berhenti di apotek, untuk membeli testpack, ya?" ucap Rania panjang lebar. Ia paham, suaminya begitu mendamba seorang bayi di tengah rumah tangga mereka yang syahdu. Tapi ia pun takut terlalu banyak mengharap, takut menghadapi kenyataan yang akan membuat suaminya kecewa terlalu dalam.


Hingga akhirnya, mereka benar-benar berhenti di depan apotek. Membeli dua buah testpack dengan merk berbeda. Dan juga, membeli vitamin penambah kesuburan.


Setelah urusan testpack selesai, Rania kembali memasuki mobilnya menuju rumah mewahnya.


"Aku langsung ke kantor saja. Jangan menungguku, sepertinya aku akan pulang telat nanti malam," ucap Shaka masih dengan nada yang terdengar dingin.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati. Ketahuilah, aku jauh lebih cemas, jauh lebih berharap dari pada apapun. Aku seorang perempuan, berharap suatu saat nanti akan ada seorang anak yang memanggilku Bunda, yang berasal dari rahimku." ucap Rania tak kalah tegas dan tajam, lalu bergegas keluar dari mobil serta menutup pintu mobil agak keras.


Shaka terjingkat kaget akibat perbuatan Rania. Tak biasanya istrinya sampai semarah itu. Mau mengejar pun tak kuasa karena pekerjaan yang sudah terlalu menumpuk. Akhirnya, Shaka memutuskan pergi ke perusahaan meski waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Kamu terlalu egois, Mas." isak Rania dari balik kaca jendela sambil menatap kepergian Shaka.


"Pergilah, aku meridhaimu. Carilah rezeki yang halal, semoga Allah memberkahimu." ucap Rania yang tentunya dimaksudkan untuk suaminya, meski ia tahu suaminya itu tak mungkin mendengar do'anya.


Rania memutuskan untuk pergi berwudhu. Katanya, salah satu cara untuk meredam emosi adalah dengan berwudhu. Karena itulah Rania menuju kamar mandi, berwudhu, lalu membaca Al-Qur'an yang selalu membuatnya tenang dikala hati terasa resah.


Hingga waktu shalat asar tiba, Rania baru menghentikan kegiatan membaca Al-Qur'an-nya, lalu bergegas melaksanakan shalat asar.


Setelah selesai shalat, Rania teringat akan benda pipih yang ia beli di apotek tadi. Rania mengambil benda tersebut yang masih tergeletak rapih di dalam tas mungilnya.

__ADS_1


"Bismillah, semoga Engkau mengabulkan do'aku dan mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu." gumam Rania, lantas tersenyum menatap dua benda pipih yang berada dalam genggamannya.


Rania menuju kamar mandi, mengeluarkan air seninya yang langsung masuk ke dalam wadah kecil berbentuk seperti mangkuk. Sisanya ia keluarkan ke kloset.


Setelah berhasil melakukan step pertama, Rania menuju step kedua, yaitu memasukkan dua testpack sekaligus ke dalam mangkuk kecil tadi. Sambil menunggu hasil, Rania memejamkan matanya sambil bershalawat nabi.


Satu menit berlalu, Rania tak sabar untuk membuka kedua matanya. Matanya yang bulat semakin bulat ketika melihat pemandangan yang menggetarkan jiwanya.


"Allahu Akbar! Subhanallah! Benarkah yang kulihat ini? Mimpikah aku?" ucap Rania dengan bibir bergetar menahan tangis haru.


"I-ini sungguh positif? Keduanya sama-sama memperlihatkan dua garis merah, Ya Allah ... inikah jawaban di setiap do'aku? Inikah hasil dari kesabaranku?" ucap Rania dengan tangis haru yang menggebu hingga tubuhnya ikut terguncang.


Saking senangnya, Rania merebahkan tubuhnya sambil memeluk dua testpack pembawa kebahagiaan yang tiada tara itu, hingga ia tertidur lalu membawa kebahagiaan itu ke alam mimpinya.

__ADS_1


Haiii sobat readers!


Maaf baru up, di sini dua hari hujan nggak reda, signal auto srendet. Hehehe 🥰


__ADS_2