
Shaka telah sampai di perusahaan SP Group,dia langsung menuju ruangannya yang berada di lantai empat.
Asisten Adi telah menunggunya dan langsung menyuruhnya masuk.Raut wajah Adi terlihat cemas,entah apa yang terjadi sebelum Shaka datang.
"Pa..." Shaka menautkan alisnya ketika melihat Papanya tengah duduk bersandar di sofa,matanya terpejam.
"Ah sudah datang rupanya,duduklah.Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan tentang..adikmu"
Shaka langsung bisa menebak apa yang terjadi,pastinya menyangkut Rania.Namun Shaka masih diam menyimak.
"Masa iya dia bilang sama Papa mau menikah sama Office Girl di perusahaan Papa,gila dia" Tuan Harsa mendesah frustasi.
"Bukankah OG juga manusia Pa?"hanya kalimat ini yang bisa keluar dari mulut Shaka.
"Bukan tentang derajat si perempuan Ka,tapi tentang dia yang belum bisa apa-apa.Calon istri nya OG dianya pengangguran lagi,hah paket komplit.Adikmu itu bahkan pipis saja masih minta tolong.Setidaknya kalau mau menikahi seorang OG,minimal dia menjadi pengusaha,biar istrinya nggak perlu susah bersih-bersih perusahaan"
"Kalau mereka saling cinta mau gimana lagi Pa, restui saja daripada nantinya akan berdampak buruk untuk Morgan.Siapa tahu setelah dia menikah dengan pilihannya,terus dia taubat kan bagus" ucap Shaka menenangkan Papanya.
"Masalahnya tadi Morgan minta Papa melamar si perempuan itu nanti malam Ka.Modal apa dia berani melamar perempuan.Laki-laki memiliki tanggung jawab yang besar ketika dia sudah menetapkan seorang perempuan sebagai istrinya.Dia harus memiliki kesiapan untuk memenuhi kebutuhan sandang,pangan dan papan untuk anak dan istrinya kelak!" terang Tuan Harsa panjang lebar.
"Lalu apa hubungan aku sama lamaran ini Pa?" tanya Shaka frustasi.Jujur saat ini pikirannya lebih berpihak dengan kelinci yang berada di pangkuan Rania tadi.
"Papa ingin kamu memberi pengertian kepada adikmu tentang hal-hal yang harus dia persiapkan menuju pernikahan.Bukan dari segi finansial saja,mental pun harus dipersiapkan.Lagian kamu saja belum menikah,masa adikmu mau melangkahi kakaknya".Tuan Harsa mendengus.
"Nanti aku coba beri Morgan pengertian Pa,tapi kalau aku nggak berhasil ya jangan halangi dia"
"Baik,Papa tunggu kabar selanjutnya" setelah mengatakan itu,Tuan Harsa bangkit dan keluar dari perusahaan putranya.
"Hah ku kira urusan mendesak,ternyata urusan percintaan." Shaka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Di sisi lain Max mengabarkan kepada Nova bahwa kemungkinan dua atau tiga hari ke depan,Morgan akan melamar Rania.Nova yang mendengar itu,kemarahannya meluap.
"Sial,terus ikuti Morgan kemanapun dia pergi Max!"ucap Nova kepada laki-laki di hadapannya.
"Baik Nona,namun ada hal yang lebih penting lagi" Max melepaskan kaca mata hitamnya.
"Apalagi??"tanya Nova penasaran.
"Saya dengar,Tuan Morgan akan menikahi Rania Minggu depan jika mendapat restu"
"Gosip murahan!!darimana kamu dengar itu hah?"Nova menggebrak meja hingga gelas di depannya terjatuh dan pecah
"Saya dengar sendiri Tuan Morgan mengucapkan itu di depan sopir pribadinya" sebenarnya Max sudah lelah menghadapi sikap Nova,tapi bagaimanapun juga dia membutuhkan uang untuk membayar operasi kakaknya.
"Terus ikuti Morgan,cari informasi sedetail-detailnya."ucap Nova yang masih mengontrol emosinya.
"Baik Nona,saya permisi" Maxpun berlalu meninggalkan Nova.
"Assalamualaikum Nia.."
"Aku dalam perjalanan menuju rumahmu"
"Ya sesuai janjiku untuk mentraktirmu makan siang.Lupa?"
"Bersiaplah,aku akan segera sampai"
Tut..Telpon dimatikan.
Namun di kediaman Rania,dia sedang terheran-heran karena sebutan Nia dari Shaka untuk dirinya.Baru kali ini ada orang yang memanggilnya dengan sebutan Nia.
__ADS_1
Setelah berperang dengan pikirannya,akhirnya Rania bersiap sebelum Shaka sampai di rumahnya.Kali ini Rania memakai dress bunga-bunga berwarna pink dengan lengan sepanjang siku.Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai begitu saja.
Beberapa saat menunggu, Shaka telah sampai di rumah Rania.Shaka mengetuk pintu dan kemudian mengucapkan salam ketika Mbok Mun mempersilahkan masuk.
Mbok Mun memanggil Rania untuk segera menemui tamunya.Irene yang melihat kedatangan Shaka hanya tersenyum dikiranya Shaka lah kekasih Rania.
"Perkenalkan,saya Irene.Mamanya Rania" Irene menjabat tangan Shaka.
"Saya Shaka,teman Rania" Irene terkejut karena tebakannya salah.Lalu siapa kekasih Rania? batinnya.
Rania yang mendapat kabar bahwa ada tamu yang menunggu pun langsung bisa menebak siapa orangnya.Dia bergegas turun ke lantai bawah menuju ruang tamu.Dan benar saja dugaannya.Laki-laki tampan itu tengah bercanda dengan Mamanya.
"Pak Shaka"
Shaka begitu terpesona melihat kecantikan Rania yang sesungguhnya.Biasanya Rania hanya memakai celana jeans dan kaos,namun kali ini dia tampil berbeda dengan mengenakan dress selutut.Terlihat feminim dan anggun menurut Shaka.
"Bisa kita berangkat sekarang Pak?" tanya Rania,tangannya dia lambaikan tepat di depan wajah Shaka.
"Bi..bisa..Nia.Kalau begitu saya izin untuk membawa Rania keluar Tante"Shaka menundukkan kepalanya dan kemudian keluar meninggalkan Irene yang melongo melihat kedua sejoli ini.
"Ada rasa yang tak bisa diungkapkan.Aku milih yang ini.Yang kekasih beneran masa bodo" gumam Irene.
Di sisi lain,Morgan masih memohon kepada Mamanya agar bersedia melamarkan Rania untuknya.
"Please Ma,lamarkan dia untukku.Aku ingin dia menjadi istriku" ucap Morgan sambil memijit pundak Mamanya.
"Kalau Papamu bilang iya,maka Mama iya.Tapi sebaliknya,kalau Papamu bilang tidak,Mamapun tidak" ucap Mama Marsya tegas."Yang kamu rasakan ini hanya obsesi belaka Morgan,bukan cinta!" imbuhnya lagi.
"Ini cinta Ma,jantungku serasa ingin meledak saat berada di dekat dia" ucap Morgan memelas.Berharap sang Ibu berasa dipihaknya.
__ADS_1
"Mama tidak ingin merestuimu tanpa restu Papamu terlebih dahulu.Mamapun sama,Mama ingin kamu mapan baru menikahi gadis itu.Titik!!" ucap Marsya dingin dan segera meninggalkan Morgan yang sedang menatapnya iba...
Restu orang tua itu kunci kebahagiaan rumah tangga...😊