
Rania tengah menangis tersedu-sedu di dalam kamar butiknya. Fatma dan Nova sendiri tak bisa menemani Rania karena kondisi butik yang sedang ramai. Meskipun sudah bertambah lagi karyawan butik dan karyawan konveksi masing-masing satu orang, tetap saja mereka kuwalahan. Sedangkan anak-anak masih berada di sekolah.
"Kenapa hatiku sakit sekali, Ya Allah ..." isak Rania yang tengah memakai hijab pashmina berwarna lilac itu.
"Aku tak sanggup mengetahui yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau aku cuma diam dan menangis seperti ini, rasanya sakit juga, huhuhu," Rania merebahkan tubuhnya, lalu memeluk foto dirinya dan Shaka yang berada di ponselnya. Hingga akhirnya, ia kelelahan dan tidur dengan wajah yang sembab.
Beberapa saat kemudian, Shaka yang tidak tenang itu lantas menemui istrinya ke butik. Ia memarkirkan mobil sport yang berwarna merah itu di area parkir, karena memang butik Rania berada di ruko biasa. Jadi, nggak ada basemen dan semacamnya.
"Fat, Rania di mana?" tanya Shaka kepada Fatma yang sedang melayani pembeli.
"Di atas tuh, lagi meratap kayanya." jawab Fatma sekenanya. Mendengar jawaban Fatma, Shaka langsung menuju lantai atas dan masuk ke kamar yang sedang istrinya singgahi.
Sesampainya di dalam kamar, Shaka membuang nafasnya kasar lega melihat Rania yang sudah tertidur lelap. Ia mendekati Rania dan memeluk wanita yang dicintainya itu erat.
"Maafkan aku, Sayang." bisik Shaka lalu mencium bibir Rania mesra.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, perlahan Rania mengerjapkan matanya. Setelah mengetahui sosok yang berada di sisinya kini, Rania langsung mengambil jarak dan membatasinya dengan guling.
"Ada apa, Mas?" tanya Rania dingin.
"Maafkan aku, Sayang. Aku akui, aku memang ada masalah besar saat ini. Tapi aku nggak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya takut kamu terluka dan kecewa setelah mengetahui semuanya. Maafkan aku, Sayang," ucap Shaka sambil membuang guling pembatas ke lantai.
__ADS_1
"Lalu, kamu pikir aku percaya? Aku membaca semua isi chat kamu sama si Pedro itu. Dan aku yakin, dia bukan laki-laki. Kamu jelas memberinya nama samaran,"
"Ya. Kamu benar, dia bukan laki-laki dan bukan Pedro namanya. Dia adalah sahabatku yang dipaksa papa untuk mendekatiku. Percaya nggak percaya, itu kenyataannya," Shaka menghela nafasnya kasar.
"Papa dan Mama ingin kita segera punya anak, tapi mereka menduga kalau salah satu di antara kita itu mandul. Jadi, mereka menyuruh Aina untuk mendekatiku, lalu-"
"Sepertinya aku mulai paham. Jadi masalahnya anak, kan? Kalau begitu, kamu nikahi dia supaya kamu bisa bikin anak sama dia. Aku rela asal kedua orang tuamu bahagia," ucap Rania menahan tangis. Sakit sekali rasanya mengetahui kenyataan itu.
"Kamu kok bisa bilang gitu? Apa cuma segitu perasaanmu terhadapku, hah? Aku sedang berjuang menyelesaikan masalah ini, Nia." Shaka mendesah berat mendengar ucapan Rania. Bagaimana bisa istri yang begitu dicintainya itu dengan mudah menyuruhnya menikah lagi?
"Bukankah itu yang orang tuamu mau? Mereka tidak ingin anaknya hidup dengan wanita mandul seperti aku. Mereka sangat benar, setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, kan?" Rania memalingkan wajahnya ke arah jendela, dengan maksud untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah basah akan air mata.
"Lihat aku, Sayang." Shaka meraih dagu Rania dan ia hadapkan wajah yang basah itu agar bertatap dengan wajahnya.
"Aku sangat kecewa mengetahui kenyataan ini, Mas. Bagaimana bisa mereka menyuruhmu menikah lagi setelah tahu aku tidak bisa hamil," ucap Rania dengan bibir bergetar.
"Aku bukan bin*tang yang disingkirkan karena nggak bisa mengandung. Aku perempuan yang juga menginginkan keturunan seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Tapi apalah daya jika Allah belum berkehendak," ucapnya lagi.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kita bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Dan kamu bukan seperti pikiranmu itu, karena bagiku kamu adalah bidadariku. Bidadari dalam hidupku hingga syurgaku. Mulai besok, kita akan periksa ke dokter kandungan. Kita program hamil, oke?" Shaka menangkup kedua pipi Rania dan mencium hidung Rania.
"Aku mencintaimu, aku suamimu. Aku yang berhak menentukan segala yang akan kita lakukan ke depannya. Aku nahkoda dalam kapal rumah tangga kita. Bukan papaku, mamaku, atau kedua orang tuamu, mengerti?" bisik Shaka sambil menelusupkan tangannya ke belakang leher Rania.
__ADS_1
"Jangan berpikir untuk menyuruhku melakukan hal yang tak mungkin aku lakukan. Itu menyakitkan, Sayang." Shaka langsung ******* bibir istrinya mesra dan dalam. Rania menerimanya dengan kelegaan dalam hatinya. Sungguh, kali ini Rania bagai di atas awan. Dicintai sebegitu besarnya oleh seorang putra pemilik perusahaan terbesar di negaranya, sekaligus putra atasan Ayahnya.
"Aku takut kamu meninggalkanku dan tidak mencintaiku lagi," ucap Rania setelah tautan bibirnya terlepas.
"Ketakutanmu tidak akan pernah terjadi, sampai kapanpun. Tidurlah, kamu pasti lelah." Shaka mengecup kening Rania dalam lalu memeluk istrinya erat, dengan tangan kanan dijadikan bantal untuk kepala Rania.
"Aku mencintaimu, Mas. Sangat." bisik Rania membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dada bidang Shaka.
"Dan aku lebih mencintaimu, Sayang. Tidurlah biar nggak baperan lagi," Rania terkekeh mendengar ucapan suaminya.
"Aku baper karena aku takut kehilangan kamu. Aku nggak mau berbagi suami sama orang lain. Apalagi membayangkan bibirmu mencium orang lain, tanganmu meraba tubuh orang lain, dan ini nerobos pintu orang lain. Memikirkan itu membuatku gila," Rania memeluk suaminya sangat erat, menghirup aroma maskulin Shaka dalam.
"Eh, kamu-"
"Jangan dijawab, aku mau tidur." potong Rania karena malu telah mengucapkan hal kotor itu.
"Yang ini tu alat tempur khusus menciptakan anak aku dan kamu. Selamanya kamu." pungkas Shaka.
Pagi menjelang siang itu, ada sepasang suami istri yang sedang tidur dengan lelapnya dengan membawa kelegaan hati dan cinta yang semakin membesar satu sama lain.
Percayalah, badai dalam rumah tangga akan membuat cinta semakin besar ketika dilewati bersama dengan penuh kesadaran dan kasih sayang.
__ADS_1
TBC_