
Shaka merebahkan tubuh Rania di ranjang king size yang berbalut seprai nan lembut. Tubuh keduanya sama-sama menahan gejolak nafsu yang menggebu. Nafas hangat saling beradu, mereka saling bertaut dalam tatapan yang sendu.
Kecupan lembut nan dalam jatuh di kening Rania. Tak menerima tapi tak menolak. Kegundahan menyeruak ke dalam relung hati. Wajah Morgan, sang mantan suami seperti melekat di wajah pria yang mengukungnya ini.
"Kak,"
"Ya,"
"Bolehkah jangan sekarang kita melakukan itu? Aku belum siap," ucap Rania dengan tatapan memohon. Dia pun sebenarnya ingin mendapatkan sentuhan lebih. Namun, ada hal yang membuatnya tak bisa melakukan penyatuan terhadap suaminya, yaitu cinta yang belum pasti.
"Aku sadar, kamu belum mencintaiku. Tapi ijinkan aku menanam benih-benih cinta di sini bermula dari penyatuan kita," jawab Shaka dengan lembut sambil menyentuhkan jarinya ke dada Rania.
"Aku merasa, perasaan itu sudah ada di sini sejak aku tinggal di apartemenmu. Tapi perlakuan kamu terhadapku kemarin, membuatku takut dan muak melihatmu," sahut Rania sambil memegang jari Shaka dan diarahkannya ke dada sebelahnya.
"Bisakah kamu membukakan pintu agar aku bisa masuk ke dalam sini dan memupuk perasaan itu agar yang sempat layu tumbuh kembali dengan subur?" Shaka memindahkan jarinya dari dada ke hidung Rania.
"Kalau perasaan itu tumbuh dengan suburnya, apa kamu akan menyiram bunga itu dengan roundup?"
Shaka tergelak kencang mendengar pertanyaan Rania.
__ADS_1
"Sayang, mendapatkanmu saja susah. Tidak mungkin aku akan mencampakkanmu begitu saja. Kamu adalah wanita nomor 2 yang aku cintai setelah Mama," Shaka mengecup hidung Rania.
Rania tersipu. "Terimakasih, Kak," lirih Rania malu.
"Jangan panggil aku Kakak. Aku tidak mau disamakan dengan Aslan. Aku suamimu, panggil aku Sayang," Shaka tersenyum lembut dengan kening yang masih menempel di kening Rania.
"Akan aku coba,"
"Kalau begitu, bolehkah?" Shaka menggantung pertanyaannya. Karena dia yakin, Rania sudah paham apa yang dia mau.
"Iya," Rania langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di wajah ayunya.
"Terimakasih, Sayang," Shaka mengecup bibir Rania.
Rania memejamkan matanya, menikmati sentuhan demi sentuhan yang memabukkan. Karena nafsu yang sudah di puncak ubun-ubun, Shaka langsung melepas baju tidur Rania secara paksa, dan-
"Kakak! Ini baju tidur kesayangan aku! Kok kakak sobek gitu aja, sih?" pekik Rania bersungut-sungut.
Sontak, antena yang sudah mendapat frekuensi itu buyar seketika, berganti rasa sesal tiada tara. Rencana penanaman cebong pupus sudah, karena petir yang tiba-tiba menyambar.
__ADS_1
"Kan bisa beli lagi, Sayang," Shaka menghela nafasnya kasar, dan menggulingkan tubuhnya ke sisi kanan Rania.
"Nggak segampang itu, Shaka Pradikta. Ini tuh baju tidur motif keluaran terbaru dan nggak akan keluar lagi. Ih, kamu mah ..." Rania mengerucutkan bibirnya manja.
"Kamu kan punya konveksi. Minta pegawai di sana buat benerin aja, gimana?"
"No! Big no, Kak. Nanti mereka terluka kena jarum, aku nggak tega,"
"Kok kamu lebih mentingin mereka yang cuma gambar daripada melayani suami kamu?" Shaka sedikit menaikkan nadanya karena kesal dan gairahnya yang tertahan.
"Ya iyalah. Mereka tuh memiliki kepribadian yang keren banget, the best pahlawan kecuali Sanji si mesum itu. Tapi aku tetap suka,"
"Ternyata ini sisi lain dari istriku yang lemah lembut?" Shaka membatin sambil terus memandang istri cantiknya yang sedang asyik menceritakan animasi kesukaannya.
"Dan kamu tahu? Waktu kapal Marry Go hancur, dia bisa berbicara dan berterimakasih dengan Luffy beserta kawan-kawan. Aku sampai nangis kejer dan nggak selera makan karena Marry Go hancur. Tapi akhirnya, Franky membuat kapal yang lebih bagus dan lebih canggih. Namanya Sunny Go, aku punya loh miniaturnya," Rania masih asyik berceloteh.
"Kalau begitu, kita lanjut yang tadi, yuk! Aku carikan baju tidur yang seperti itu lagi, deh. Sekalian sama pabriknya, gimana?" Shaka menaik turunkan alisnya genit.
"Enggak! Aku udah nggak mood,"
__ADS_1
"Sayaaaang ..."
Puasa udah berjalan dua minggu. Semoga kita senantiasa diberi kesehatan, agar ibadah kita lancar tanpa hambatan. Stay healthy all 🥰