
Hari ini, Fatma diizinkan keluar dengan syarat tetap dikawal oleh pihak kepolisian. Fatma menghirup udara luar dalam-dalam. Enam bulan sudah ia hanya menghirup pengapnya udara penjara. Dan ini kali pertamanya dapat ia rasakan sejuknya udara luar.
"Silahkan, Nona," titah seorang petugas kepolisian, mempersilahkan Fatma masuk ke mobil berwarna putih-biru dengan tulisan police itu. Fatma mengangguk, lalu tangan yang masih diborgol itu meraih handle pintu lalu menariknya hingga pintu terbuka.
Fatma masuk ke dalam mobil disusul seorang polisi duduk di sampingnya. Lalu, mobil berjalan dengan kecepatan sedang.
Selama dalam perjalanan, Fatma terdiam merenungi segala kesalahannya. Kebodohan yang selama ini ia perbuat mengantarkan dirinya ke dalam dunia gelap dan menyesatkan. Hingga kini, ia mendapat ganjaran yang setimpal dan ia harus menerima dengan lapang dada.
"Minta maaflah dengan sungguh-sungguh, maka kamu akan meraih sebuah kebebasan. Jangan menaruh dendam terlalu dalam, karena itu hanya akan membakar hatimu dan membakar masa depanmu," ucap seorang polisi yang berada di samping Fatma.
"Saya tahu, Pak. Dan saya menyesali semua perbuatan saya. Tapi, apakah ada kemungkinan untuk saya bebas?" tanya Fatma lirih. Lalu, polisi yang memegang kemudi
mengangguk mantap. "Kamu memusuhi orang yang salah, Nona. Orang itu sangat menyayangi Nona. Sampai-sampai dia memikirkan nasib ibu Nona jika Nona terlalu lama dalam penjara," katanya.
__ADS_1
Hati Fatma tersentuh oleh pengakuan polisi yang tengah memegang kemudi itu. Fatma tersenyum tipis, lalu setetes cairan hangat jatuh ke tangannya yang tengah dilingkari sepasang borgol.
"Ya, dia memang sangat baik. Dan saya yang bodoh," celetuk Fatma, lalu situasi dalam mobil itu pun kembali hening. Hingga tibalah mereka di sebuah rumah mewah bernuansa hitam putih, Fatma sangat tahu pemilik rumah tersebut.
Jantung Farma berdesir, ia merasa gugup dan takut. Pintu yang menjulang tinggi itu terbuka. Dan tampaklah seorang wanita yang sedang hamil tua, menyambut mereka dengan tangan terbuka.
"Silahkan masuk, Pak," ucap Rania lembut. Matanya tertuju kepada seorang perempuan yang memakai pakaian berwarna orange dengan borgol yang menjerat kedua tangannya.
"Masuk, Fat," ucapnya kepada Fatma yang masih diam terpaku, sembari menundukkan wajahnya tajam. Fatma mengangguk, lalu berjalan perlahan di belakang Rania. Jantungnya berdetak sangat cepat. Baginya, lebih baik menghadapi pelanggan cerewet daripada menghadapi sahabat yang hampir saja celaka oleh perlakuan kejamnya.
"Nunggu suami saya selesai mandi dulu, ya, Pak," ucapnya ramah. Seorang polisi mengangguk dan tersenyum.
Suasana yang mencekam dan menegangkan bagi Fatma yang berada dalam posisi bersalah. Posisinya seolah memberi jarak jauh untuk hubungan persahabatannya dengan Rania. Sesekali Fatma melirik sahabatnya itu, namun yang dilirik seolah menolak menatap dirinya. Sebenci itukah Rania terhadapku? Pikirnya.
__ADS_1
Hingga minuman dan beberapa camilan berjejer di meja panjang, Shaka baru saja turun dan langsung menyalami para polisi. Sedangkan kepada Fatma, Shaka hanya mengangguk sebagai bentuk hormat kepada tamu.
"Selamat datang di rumah kami. Mohon maaf kami hanya bisa memberi suguhan apa adanya, dikarenakan ... Istri lagi mode manja," canda Shaka. Pipi Rania merona malu, tangannya terulur mencubit lengan Shaka. Jangankan Rania, para polisi saja menangis melihat adegan suami istri tak tahu tempat itu.
Sedikit nyeri melihat adegan uwu di depan matanya. Tapi, Fatma mencoba untuk ikhlas dam berpikir bahwa semua itu bagian dari takdir Allah. Benar adanya. Jodoh, mati, rezeki, cantik, tampan, hitam, putih, itu semua merupakan takdir Allah. Jika sudah begitu, apa yang bisa kita lakukan?
"Ehm! Jadi, bagaimana kelanjutan kasus ini, Pak?" tanya Shaka, mencoba menetralkan suasana.
"Maksud kedatangan kami kemari tak lain dan tak bukan adalah membawa tahanan kami untuk meminta maaf secara langsung terhadap Saudari Rania. Di mana, statusnya kini adalah tersangka," ujar seorang polisi. "Silahkan, Saudari Fatma untuk membuka suara," ujarnya lagi.
"Rania ... kedatanganku kemari memang benar, aku ingin meminta maaf. Sebelum kamu bertanya-tanya, aku akan menjelaskan semuanya dulu. Aku mohon, jangan ada yang memotong pembicaraanku." Fatma memejamkan matanya dan mendesah berat. Sedang yang lainnya hanya menatap Fatma lekat, menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Fatma.
"Aku akui, aku yang menaruh racun itu ke dalam makanan kamu. Tapi percayalah, itu hanya racun dengan kadar resiko paling ringan. Aku pastikan racun itu tak berbahaya untuk kandungan kamu juga. Dan alasan aku melakukan itu adalah ... karena aku marah sama kamu yang selalu dicintai oleh pria yang aku cintai. Aku lelah terus memendam perasaan ini, Ran. Tapi di samping itu, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Jujur, aku nggak mau melukaimu dengan merebut pria yang kamu cinta dan yang mencintaimu. Percaya tak percaya, aku sangat menyesal setelah memasukkan racun itu, Ran. Aku sangat menyesal. Hiks, hiks," isak Fatma.
__ADS_1
"Kenapa kamu tak mau cerita kalau kamu telah mencintai Morgan? Setelah kandas dengan Morgan, kamu juga tak cerita mengenai perasaanmu ke Shaka. Kenapa?" mata Fatma menyipit. Masih ada rasa sakit di ulu hatinya tiap mengingat kejadian mencekam waktu itu.
"Karena aku selalu melihat kondisi kamu yang tertekan, Ran. Mana tega aku curhat sedangkan kamu juga butuh bahu untuk bersandar?" tanya Fatma.