
Setelah kejadian pengusiran Aina, Adi kembali ke ruang Tuan Mudanya. Sesungguhnya, luka dalam hatinya menganga semakin lebar melihat gadis yang dicintainya dicampakkan begitu saja oleh Tuannya. Mengetahui fakta bahwa Aina begitu mencintai Shaka saja sudah cukup menggores luka, masih harus dihadapkan oleh kenyataan bahwa Tuan Harsa memiliki rencana untuk mendekatkan Aina dengan Shaka, dan ditambah dengan hari ini yang harus bersedia menyeret paksa gadisnya keluar dari perusahaan. Kacau!
Ia berjalan melalui beberapa ruangan pribadi milik sang CEO setelah keluar dari lift eksekutif. Meski kini ia begitu kecewa dengan Tuannya, Adi tak boleh lemah apalagi sampai menghancurkan reputasinya yang sudah mendapatkan gelar asisten handal, hanya karena cinta. Bagai cinta segi tiga, tersembunyi tapi penuh makna. Di mana, ketulusan dan kesetiaan sedang diuji oleh orang luar dan orang terdekat. Hasilnya, tergantung dengan Shaka. Bisa mengemudikan laju kapal yang tengah berlayar dalam mengarungi bahtera rumah tangga, atau justru menyerah begitu saja karena tak menemukan arah.
Sesampainya di tempat tujuan, Adi terhenyak melihat kondisi ruangan yang sudah amburadul. Buku-buku serta beberapa berkas berserakan di lantai, vas bunga keramik yang tentu mahal harganya hancur berkeping-keping bak pecah seribu, dan lagi, tersangka penghancur ruangan tengah duduk di lantai bersandar di tembok yang menghadap ke meja kebesarannya.
Penampilan Shaka sangat hancur berantakan. Dasi yang entah di mana letaknya, kemeja yang sudah dibuka kancingnya sampai ke bawah dada, dan rambutnya yang sudah seperti bulu landak.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Adi, terlihat raut cemas tersirat dalam wajahnya yang tampan.
"Aku harus bagaimana, Di? Mama jatuh sakit karena terlalu memikirkan omongan teman-teman sosialitanya tentang cucu, Papa menyuruhku menikah lagi untuk segera mendapatkan keturunan, lalu Rania mulai dekat dengan teman laki-lakinya," keluh Shaka lemah.
"Jangan terlalu dipikirkan, Tuan. Anak adalah rezeki, jika belum dikaruniai berarti Tuhan memang belum menghendaki. Tuan hanya perlu bersabar dan terus bercocok tanam pada masa subur Nona Rania," kekeh Adi berusaha mencairkan suasana. Dan berhasil, sudut bibir Shaka naik ke atas membentuk senyuman yang sangat tipis.
"Apa kau pernah melakukannya, Di?" kekeh Shaka.
"Tentu saja belum, Tuan. Tapi sebagai calon suami sekaligus calon ayah sejati, saya mempelajari tentang ilmu perkembang-biakan manusia beserta tata caranya," ucap Adi dengan senyuman bangga.
__ADS_1
"Kau bahkan lebih mengerikan daripada begal jalanan, Di. Aku salut dengan kegigihanmu. Semoga istrimu mandul," Shaka tergelak.
"Mana ada, Tuan. Di mana-mana, kita harus berdo'a yang baik-baik. Tapi Anda justru mendo'akan saya yang tidak baik. Kalau begitu, saya akan mendo'akan Anda yang-"
"Berani melakukan itu, aku sunat mulutmu," ucap Shaka tegas.
"Tuan, Anda seperti Giant di film Doraemon. Kejam sekali sama teman sendiri." keluh Adi. Tapi dalam hatinya, ia lega karena berhasil mengalihkan pikiran kalut Tuannya.
Sementara itu, Aina telah sampai di rumahnya yang sederhana dan asri. Ia langsung mencari sang Bunda setelah berhasil membuka pintu utama yang selalu susah terbuka meski tak dikunci.
"Bunda!" seru Aina sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Ain kangen Bunda. Bunda masak apa?" tanya Aina sambil bergelayut manja di lengan sang bunda.
"Sup iga sapi. Mau makan sekarang?"
"Boleh, ayo kita makan bersama!" seru Aina bersemangat.
__ADS_1
Setelah selesai dengan makan siangnya, tiba-tiba Bunda meraih kedua tangan Aina dengan lelehan air mata yang sudah tak dapat lagi ditahan.
"Ain, apa kamu berniat merusak rumah tangga Shaka, Nak?" isak Bunda.
"Tidak, Bunda. Ak-aku-"
"Jangan lakukan itu, Nak. Lebih baik Ayahmu keluar dari perusahaan Harsa daripada kamu dipaksa mengandung benih Shaka, lalu dibuang begitu saja ketika anak itu lahir. Mengerti, Nak?" tanya Bunda dengan nada melembut.
"Aina tahu, Bun. Tapi setidaknya, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik tanpa ada yang merasa dendam atau semacamnya. Aku sedang berusaha. Apalagi, kita sudah berhutang banyak dengan keluarga Om Harsa. Harus ekstra hati-hati, Bunda," jelas Aina panjang lebar.
"Bunda mengerti. Jaga dirimu baik-baik ya, Nak. Jangan sampai gelap mata. Kita bisa membalas budi mereka dengan cara yang lain tanpa menginjak harga dirimu dan tanpa menyakiti atau merusak rumah tangga Shaka yang baru seumur biji jagung." Bunda mengelus pipi Aina lembut lalu mengecup jemari lentik Aina. Aina tak tahan untuk tidak mengeluarkan segala beban di pundaknya. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan hangat sang Bunda yang terasa hangat, nyaman, dan menenangkan.
"Dengar, Nak. Ayah sama sekali tak takut menghadapi ancaman demi ancaman yang Harsa lontarkan. Karena ayah tahu, Harsa hanya sedang terhasut oleh omongan orang luar. Ayah tahu, apa yang harus ayah lakukan sekarang. Jangan pikirkan ayah, pikirkan saja dirimu. Fokus bekerja dan menangani pasien dengan baik." pungkas Bunda, karena setelah mengatakan itu, Bunda beranjak membersihkan meja makan. Aina menyusul dengan membawa piring bekas makan mereka, lalu mencucinya di wastafel.
"Aku harus bisa melewati semua ini tanpa membuat Ayah dan Bunda kepikiran. Aku akan mencari jalan keluar terbaik. Dan setelah semuanya selesai, aku akan membawa Ayah dan Bunda pindah ke tempat yang jauh." gumam Aina dalam hati
Assalamualaikum para pembaca.
__ADS_1
Aku tuh heran, kenopo yang baca uwakih, yang like kok cuma setitik. Mbok yo jangan pelit-pelit, toh. Like kui gratis loh.
Ayok like, like, dan like ben aku le nulis tambah semangat golek ide, yo!