
"Apa kita potong aja rambutnya? Biar agak rapi gitu. Daripada kutunya makin banyak," remang-remang Morgan mendengar bisik-bisik yang berada tepat di sampingnya.
"Nanti saja, kita minta ijin dulu sama yang punya. Nanti kita kena kasus, lho." perlahan, Morgan mulai membuka matanya yang terasa berat dan lengket.
"Rania ..."
Ya, dia Morgan Veer Pradikta yang tiga tahun ini dianggap telah tiada. Padahal, saat di hari kematian palsunya, dia diculik oleh rekan bisnis Shaka. Dan semua yang terjadi di ruangan itu sudah diatur oleh si penculik. Dalam arti lain, orang dalam atau para pegawai rumah sakit ikut andil dalam hal ini.
Saat dibawa ke kamar jenazah, Morgan langsung dipindahkan ke brankar lain. Dan mereka melibatkan jenazah tanpa identitas sebagai Morgan palsu. Licik, tapi dendam kesumat membuat seseorang nekat melakukan hal keji sekalipun.
Tapi penculik itu memiliki sisi baik lainnya. Morgan tetap dirawat dengan baik sampai sembuh. Dengan berbagai macam terapi di negara lain yang alatnya lebih canggih, Morgan dinyatakan sembuh dari penyakit radang otaknya.
Sayangnya, setelah Morgan sembuh, Morgan diperlakukan seperti budak di rumah si penculik. Makan hanya satu kali dalam satu hari, mandi tak diberi sabun, pakaian pun hanya ada dua stel saja.
__ADS_1
Tiga tahun lamanya Morgan harus menjalani kehidupan yang sedemikian pahitnya. Saat di hari nyonya Marsya tiada, Morgan mengetahui hal tersebut dari salah satu anak buah si penculik yang memiliki rasa iba pada Morgan.
Dan sejak saat itu, setipa hari Morgan mengunjungi makam Ibunya atas ijin si penculik. Hingga hari bertemunya dirinya dan Rania saat itu, katakanlah ini adalah kuasa Allah telah mendatangkan bidadari penyelamat Morgan yang hampir menjemput ajalnya.
"Eh, Sus, dia sadar," ucap salah satu perawat.
"Aku panggil dokter Rian dulu. Kamu jaga di sini,"
Sedang di tempat lain, Rania tengah diceramahi habis-habisan oleh suaminya lantaran pergi tanpa minta ijin.
"Sebegitu marahnya kamu sama aku, Mas? Kamu pikir, aku ini burung yang selalu bisa kamu kandangin? Oke, aku salah karena pergi nggak ijin dulu. Tapi yang penting aku sekarang baik-baik aja. Aku cuma pergi ke makam Mama doang. Tiga hari yang lalu, sebelum kita enyah dari makam Mama, aku mengucapkan janji akan ke sana lagi. Dan tadi waktu aku mau berangkat, kamu lagi tidur pules-pulesnya. Mana tega aku bangunin kamu?" elak Rania.
"Selelah apapun aku, kalau kamu minta sesuatu pasti aku kabulin, kan? Aku nggak ada kata tidak buat kamu asal itu baik buat kamu, Rania," jika Shaka sudah menyebut nama lengkap, itu berarti Shaka tengah marah besar.
__ADS_1
Karena kondisi ibu hamil masih labil, Rania menolak menyadari kesalahannya. Ibu hamil yang mudah baper itu langsung lari keluar rumah dengan membawa tangis kecewa tiada tara.
Shaka bergegas mengejar Rania karena kondisi di luar tengah hujan lebat. Sekali lagi, Shaka harus mengesampingkan amarahnya. Mengalah, minta maaf, lalu memeluk. Tiga M, kunci kesejahteraan rumah tangga.
Beruntung, Rania belum jauh. Di bawah hujan lebat dan raungan petir yang menggelegar tak membuat Rania berhenti berlari.
"Aku pikir, dia paham kalau aku ini pergi jenguk makam ibunya. Aku pikir, dia akan senang dan berterimakasih," isak Rania di tengah pelariannya.
"Sayang!" teriak Shaka yang terus berlari mengejar Rania. Tak membutuhkan waktu lama dan membuang tenaga, Shaka berhasil mencekal lengan Rania, dan lalu menarik tubuh Rania ke pelukannya.
"Dasar, bocah mau punya bocah ya gini. Marah dikit lari," gerutu Shaka tanpa melepas pelukannya terhadap tubuh Rania yang masih menangis.
"Salah kamu juga, mau-maunya hamilin bocah. Salah kamu hamilin aku, salah kamu minta jatah tiap malam, itupun nggak cukup dua ronde. Tahu tidak?!" sentak Rania, tanpa peduli ada pedagang bakso keliling yang tengah mendorong gerobak melewati mereka. Pedagang bakso saja malu, apalagi Shakanya?
__ADS_1
"Iya, iya ... maafin aku, ya? Aku salah udah marah-marah sama kamu, aku salah udah bentak-bentak kamu tadi. Tapi jujur, tadi pas bangun tidur aku kaget kamu nggak ada. Aku panik, aku cari ke mana-mana kamu nggak ada. Aku takut kamu kenapa-napa, Sayang. Kamu tahu pasti kalau aku sangat mencintai kamu, kan, Niaku?" bisik Shaka, lalu langsung menggendong Rania ke rumahnya. Tanpa peduli teriakan Rania yang terus minta turun.