
Rania tengah berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat ramai karena memasuki jam besuk. Tujuannya kali ini adalah kantin. Ya, cacing di perutnya tengah berdemo di sana karena kelaparan.
Tapi anehnya, Rania merasa ada yang mengikutinya. Hingga Rania tiba di kantin rumah sakit tersebut, rasa aneh itu masih ada. Tapi tiap kali Rania menengok ke belakang, kanan, dan kiri nampak tak ada yang aneh.
Singkat cerita, Rania memesan jeruk hangat dan sup ayam sebagai menu makan malamnya.
Pukul tujuh malam atau 30 menit kemudian, Rania baru saja menyelesaikan acara makan malamnya. Rania menghidupkan layar ponselnya kala merasakan beberapa kali benda itu bergetar.
[Sayang, kamu di mana?]
[Sayang, aku udah selesai. Kembalilah, kita makan bersama.]
[Jangan bikin aku khawatir, Sayang. Please!]
Dan enam belas panggilan tak terjawab. Rania tersenyum sendiri mana kala ada notifikasi baru muncul di beranda utama.
Tahu pesannya telah terbaca, Shaka segera memencet tombol panggilan video.
"Sayang ... kamu di mana, sih?" decak Shaka kesal.
__ADS_1
"Kamu nggak nyari aku, ya? Kalau kamu cari, pasti ketemu," kekeh Rania.
"Kamu lagi di kantin, ya? Yah ... berarti udah makan, dong." nampak Shaka memberengut kesal.
"Ya udah, aku beliin makanan sekalian aja, ya?"
"Baiklah, sekalian buat Morgan, ya?"
"Cieee ... yang lagi bahagia ..." goda Rania.
"Iya lah. Ini aku baru saja menghubungi Papa. Tapi aku bilangnya, aku yang masuk rumah sakit, Sayang. Yah ... buat kejutan aja,"
"Katanya langsung otewe," kekeh Shaka. Tapi pandangan Shaka berubah mana kala matanya menangkap sesuatu di belakang Rania yang tak asing baginya.
"Mas, kok diem?" Rania mengernyit heran.
"Oh, enggak, kok. Sayang, kamu stay di situ aja, ya. Aku jemput sekarang. Pokoknya, kamu jangan ke mana-mana dulu sebelum aku sampai." raut wajah Shaka berubah 180 derajat.
"Kok gitu? Aku capek dong," keluh Rania.
__ADS_1
"Nggak, sebentar doang. Aku lari ini, oke,"
"Ya udah. Aneh banget, deh." Rania pun memutus panggilan videonya.
Tak berselang lama kemudian, Shaka telah sampai di kantin rumah sakit tersebut. Gegas, dia mencari keberadaan istrinya.
Sudut bibirnya terangkat ke atas saat dia menemukan sosok yang sedang dicarinya tengah merebahkan kepalanya di meja.
"Sayang ..." sapa Shaka dengan senyuman lembut khas miliknya. Rania masih bergeming, sedangkan Shaka hanya melihat kepala Rania saja yang tengah membelakanginya.
"Sayang, kok kamu diam aja? Marah, ya?" Shaka berpindah tempat ke sisi lain Rania. Dan betapa terkejutnya dirinya melihat Rania tengah terpejam damai dengan hidung yang keluar darah.
"Astaghfirullah! Sayang!" pekik Shaka. Pria tampan itu segera menggendong istrinya ke IGD yang kebetulan letaknya tak jauh dari kantin.
"Suster!" seru Shaka. Para petugas medis dengan sigap segera mengambil tindakan. Rania segera dibawa ke brankar pasien dan Shaka tak diijinkan masuk.
Shaka kalap, dia segera menghubungi Aslan, Alvin, dan Adi. Shaka meminta mereka untuk menyelidiki dalang di balik kejadian tersebut. Aslan panik hebat, baru saja Nova diperbolehkan keluar dari rumah sakit, sekarang gantian Rania yang harus dirawat.
Dengan segala kemampuan yang dimiliki, Shaka sangat mudah dalam penyelidikan ini tanpa campur tangan kepolisian yang kadang bisa bungkam jika ada uang. Alvin menelusuri CCTV rumah sakit, Adi mengintimidasi petugas kantin barang kali ada campur tangan dalam pemberian racun, Aslan menghubungi hacker dan detektif profesional yang bekerja dengan SHD Group.
__ADS_1
Kondisi Rania dinyatakan kritis karena racun yang sudah masuk ke perutnya. Beruntungnya, Rania cepat mendapat penanganan. Sehingga, dokter dapat segera mengeluarkan racun dalam tubuh Rania sebelum racun itu menggerogoti Rania dan janinnya.